Sudah beberapa bulan Dino menjalani dua pekerjaan yaitu sebagai promotor dan mahasiswa. Ia telah menepati janjinya dan tetap serius mengikuti perkuliahan. Dino menutup semester enam masih dengan nilai yang tidak jauh berbeda, begitu pun dengan semester tujuh.
Di saat semua mahasiswa disibukkan menulis skripsi sebagai syarat kelulusan, Dino sibuk membuat laporan penjualan untuk supervisornya. Di saat malam mengurung, Dino membesarkan bola matanya untuk membetulkan coding dan menyusun tulisannya yang mana itu dilakukan mahasiswa lain ketika pada siang hari.
Mama sering kali mendapati layar komputer Dino yang terus menyala menonton tuannya yang terlelap. Setiap kali ia membangunkan anaknya, Dino tak melanjutkan istirahatnya namun terus melanjutkan apa yang sudah ia mulai.
Suara papan ketik berkelahi dengan detak jam dinding. Banyak batang rokok yang menemani Dino setiap malam, yang selalu terjepit di celah jarinya sembari ia mengetik. Sering kali ia menguap hingga air matanya turun dengan segera. Tanpa menyeka, Dino terus melanjutkan kegiatannya. Lembar demi lembar berhasil ia tulis hingga lengkap untuk ia bawa menjadi bahannya untuk merengkuh gelar sarjana.
Di hadapan tiga orang dosen Dino harus mempresentasikan karya ilmiahnya yang berupa aplikasi POS (Point Of Sales) yang sudah ia uji di warung Mama.
“Kenapa kamu memilih aplikasi tersebut?” tanya seorang dosen.
“Karena ini sejalur dengan minat saya terhadap manajemen bisnis. Awalnya tujuan saya agar aplikasi ini dapat membantu Ibu saya dalam mengurus warungnya, karena ada catatan persediaan, laporan penjualan, laba rugi, hutang, dan komponen-komponen lain dalam berdagang.”
“Apa bedanya dengan aplikasi POS yang sudah banyak beredar di pasaran?”
“Aplikasi ini saya buat khusus untuk ibu saya. Seorang ibu yang tidak cakap teknologi dan inginkan hal yang simpel dan tetap profesional. Dengan tampilan sesederhana mungkin namun tetap dengan fungsi yang sama seperti aplikasi POS lainnya. Minim gambar dan animasi agar tetap lancar di perangkat yang berspesifikasi rendah, ukuran huruf yang besar yang ramah lansia, dan yang pasti harus informatif dengan bahasa yang minim teknis.”
Dino menjawab setiap pertanyaan. Matanya berulang kali menatap langit-langit ruangan yang meniupkan udara dingin melalui AC kaset yang diatur suhu cukup rendah. Udara itu terasa pada kulit Dino lebih dingin dari seharusnya, meski begitu tangannya cukup basah menahan detak jantungnya yang kencang.
Pertanyaan terakhir sudah terjawab, penguji mengisi kertas penilaian. Dino keluar ruangan dengan langkah yang ringan. Tak ada selebrasi bersama rekan kuliahnya, Dino segera menuju tempat kerjanya.
Beberapa bulan kemudian, Dino melirik tanggal di pojok kanan layar komputernya. 12 Mei 2029. Ini adalah waktunya pertambahan usia Dino yang memasuki angka dua puluh dua tahun.
Usianya saat ini balak dua, pertanda Dino sudah semakin dewasa. Dino baru saja mendapatkan kado terbaiknya berupa yudisiumnya sebagai sarjana teknik informatika, dan kini ia hanya menggeluti pekerjaannya sebagai seorang tenaga penjual dan hampir satu tahun ia sudah menjalaninya.
Tepat jam 00.00 Mama menghampiri Dino dengan membawa sebuah kue lengkap dengan lilin di atasnya. Dino yang sedang menjadi teroris di sebuah game online mengeluarkan ekspresi kaget yang ia coba agar senatural mungkin dan berhasil memancing rasa kecewa dari Mama.
“Mama mau ambil sesuatu dulu ya.” Mama berlalu menuju kamar.
Dino berjalan menuju meja makan di dapur. Ia berinisiatif untuk memotong kue agar dapat dinikmati bersama. Ia memotong kuenya dengan presisi lalu ia letakkan pada piring. Satu untuk Mama dan satu untuknya.
Mama keluar membawa sebuah kotak besar berwarna hitam dan satu kotak kecil berwarna merah di atasnya. Dino mengernyitkan dahi dan bertanya mengenai jumlah kadonya yang lebih banyak dari biasanya.
“Satunya dari Pipo, ‘Sesuatu untuk anak yang belum dilahirkan,’ begitu kata Pipo,” ucap Mama.
Dino membakar rokoknya mengikuti Mama yang sudah menikmati rokoknya lebih dulu. “Kok bisa, Ma?” tanyanya heran.
“Mama juga gak tahu yang pasti ini sempat bikin Mama marah, tapi gak lama Pipo meninggal jadi Mama jaga amanah ini,” Mama menjawab dengan asap yang keluar terputus-putus dari hidungnya.
Dino bangkit dan membuat dua gelas kopi hitam lalu menghidangkannya. Mama menceritakan ulang semua kenangannya bersama suaminya, badannya bergetar dan tatapan matanya kosong. Rokok yang terjepit di jarinya hanya terdiam dan terbakar sampai habis tanpa ia isap karena mulutnya sibuk berbicara.
“Sepanjang itu cerita Mama, Dino masih belum paham alasan Pipo tentang kado ini.” Dino menyandarkan punggungnya dan mengelus dagunya, matanya menyorot tajam kotak yang berusia lebih tua darinya itu.
“Jangankan Dino, Mama sudah dua puluh dua tahun nahan rasa penasaran,” Mama menyeka air yang turun menyusuri pipinya.
Dino berdiri dan mengeringkan pipi Mama dengan tisu. Ia memeluk ibunya dari belakang. “Dino gak tahu Pipo itu gimana orangnya, yang Dino tahu Pipo bikin Dino trauma sejak kecil. Tapi Dino juga kangen walau Dino belum pernah ketemu Pipo, Ma, Dia pasti senang lihat Mama sejauh ini.”
Pelukan Dino tak berhasil menenangkan Mama yang mulai tersengal dan bahunya yang naik-turun dengan cepat. Dino mengencangkan rangkulannya hingga tubuh itu kembali stabil.
“Ma, ayo makan kuenya, nanti gak enak lagi loh!” Dino berbicara menunjuk kue.
Mama mengangguk, ia mengunyah kue yang terhidang dengan mata yang tanpa fokus.
Sudut mata Dino terus mengarah ke Mama. “Wah, kado tahun ini apa ya isinya?” ucapnya memecah hening.