Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #36

Rencananya

13 Mei 2030 pukul setengah sebelas malam, Dino berdiam di dalam kamarnya, jarinya sibuk sekali naik turun di layar ponsel sembari membaca buku bersampul merah. Matanya bergantian membaca keduanya. 

“Lagu, oke. Bola juga oke.” 

Dino menyandarkan punggungnya, ia isap rokok yang sudah pendek dan ia matikan di asbak. 

Alarm ponsel Dino tiba-tiba berbunyi tepat pada pukul 23:59. Ia membakar batang rokok baru dengan cepat. Isapan-isapan dalam dengan interval yang cepat, asap tebal keluar dari mulutnya. Tangannya bergetar dan mulai basah, begitu juga dengan kepalanya yang mulai menggulirkan keringat. 

Ia pandangi plafon rumahnya sembari mengembuskan tinggi asap rokok dari mulutnya. “57, 58, 59. Dadah Mama!” 

Asap putih tiba-tiba muncul menyamarkan asap rokok. Tangan Dino kuat mengepal dengkulnya. Ia memandangi sekitar asap itu mulai menutupi seperempat ruangan dan semakin lama asap itu mengubah pandangan menjadi putih solid. 

“I ... ini apa? Ini dari mana datangnya?” 

Di tengah kebutaannya, Dino segera menuju pintu dan membukanya, kepalanya menyembul melalui celah pintu yang ia buka. Asap putih itu perlahan menutupi semua sampai hingga plafon dan turut menelan cahaya lampu. 

Dino menghela napas, tangannya masih berada di gagang pintu yang perlahan hilang dari genggamannya. Napasnya menyentak dan ia meraba-raba sekitar, tapi kulitnya tak kunjung merasakan yang bisa disentuh. Kosong, hanya hamparan putih. Ia berputar 360 derajat dan mendapati semuanya sama seperti ruang hampa satu warna. 

“Ini di mana? Kok gak ada apa-apa?” 

Dino terdiam, keringatnya turun dengan beringas sembari dadanya naik turun cepat. Ia gerakkan kepalanya terus ke kanan dan kiri sembari sesekali memutar badannya. 

Ketika ia berputar lagi, tepat di belakangnya titik hitam mulai menelan putih perlahan. Matanya mengikuti pergantian warna itu. 

“Gelap ...” 

Angin meniup belakang lehernya, Dino kembali memutar dan mendapati dirinya sedang berada di sebuah ruangan. Sejenak ia terhenti dan memandangi bagian bawah tubuhnya. 

“Hilang???” Dino menemukan dirinya tak tertutup sehelai benang, cepat ia berlari menuju lemari pakaian. “Waduh, beda semua ini pakaian, modelnya kuno begini!” Dino mengenakan pakaian yang ia pilih acak. 

“Kamar ini? Jadi ... jadi ini semua benar ada di 2005?” Matanya cermat menyapu sekitar memperhatikan kondisi ruangan yang sedikit berbeda dengan kondisi kamar sebelumnya seperti kasur dan penutupnya, sedangkan perabotan lain hampir sama. 

Dino menuju meja belajarnya, matanya terpaku pada tumpukan dokumen, koran, ponsel tua, dan amplop cokelat, serta kamera dan buku yang ia letakkan sebelumnya.  

Sejenak ia membaca dokumen untuk melamar pekerjaan yang mempunyai tanggal 13 Mei 2005. Dino termangu, sejenak ia membaca ulang buku bersampul merah. 

“‘Ada tumpukan dokumen di meja belajar yang bisa kamu gunakan untuk menjalani hidup.’” Dino mengernyitkan dahi. “Jadi, yang bikin ini siapa? Yang bikin artinya tahu semua ini pasti terjadi!” 

Dino membaca lagi buku bersampul merah. “Catatan dari masa depan semuanya ada. Tapi barang-barang lain hilang, sesuai dengan catatan. Hm ... artinya komputer?” 

Dino membuka pintu kamar perlahan, kepalanya menyembul keluar. Bola matanya aktif berputar kanan kiri. “Gak jauh beda! Ini keluarga gak ada peningkatannya. Eh tapi kan cuma gua sama Mama di masa depan.” Ia perlahan maju menuju komputernya dan segera menekan tombol daya dan mengangguk sembari memeriksa dokumennya. “Bagus sekali ini, semua dokumen ada, Nge!” 

“Nice!” 

Dino seketika memalingkan pandangannya pada motor yang berada di dekatnya. 

“Kece juga motor Pipo!” Dino langsung menghampiri motor tersebut dan memperhatikan dengan saksama. ”Luar biasa! Tapi ini sementara, ini gak lama pasti jadi mobil!”  

Dino mengitari rumah memandangi perbedaan yang ada di dalam rumahnya. Ia lanjut terduduk di meja makan. Pandangan kosong memegang gelas yang baru ia teguk isinya. 

“Selain gua, siapa lagi yang mengalami ini? Atau cuma gua sendiri? Tapi kenapa? Kenapa semuanya ini bisa terjadi? Apa ada yang harus gua perbaiki dalam hidup? Atau gua bintang utamanya di dunia?” 

Dino menggeleng sembari terus membatin. 

“Kalau ada yang bisa diubah untuk masa depan, maka dengan ke masa lalu itu sangat mungkin dilakukan.” 

Dino mengepal tangannya dan menuju kamar. Ia membuka dompet yang Pipo berikan. “1000 dolar ini pasti berlipat ganda!” Ia menyeringai dan sejenak diam memandangi dokumen yang ada di atas meja. “Apa itu lamaran kerja? Masa masih harus kerja ketika kita sudah pegang masa depan. Hahaha. Mari kita peluk dunia!” Larut dalam tidurnya, Dino tidur dengan senyum lebar.  

Beberapa jam berlalu, Dino dibangunkan oleh sosok yang mirip dengan Mama, yaitu Ibu.  

“Iya, Ma,” ucap Dino dengan menggosok matanya. 

“Bangun dulu, bangun! Dengerin Ibu!” Ibu kuat menggoyangkan kaki Dino. “Ma, Ma, Ma apa?” 

“Eh, iya, Bu, Maaf.” 

“Cepat buka matanya, Ibu mau ke pasar sekarang. Buka warungnya, sama keluarin itu motornya.” 

Ibu keluar meninggalkan Dino yang masih sibuk dengan matanya yang lengket. Ia keluar dari kamar dan melakukan apa yang Ibu perintahkan. Ia melihat sekotak rokok yang tergeletak di samping TV dan membakarnya. 

Tepi bibirnya meninggi saat melihat sepeda motor yang baru ia keluarkan. “Kenapa yang lama jadi jelek ya kalau dibandingin ini?” 

Ibu baru pulang dengan dua kantong yang tergantung di tangannya, Dino terdiam memperhatikan ibu yang melewatinya. 

“Itu Mama atau Ibu, Nge?” 

“Ingat tulisan di buku.” 

“Oh, iya, mereka memang mirip ya? Tapi rasanya aneh. Masa Ibu dan Mama mirip. Gua yang udah dapat tahu dari buku aja masih kaget, gimana kalau gua gak ada panduan ya, Nge?” 

“Nah, benar, jadi kayanya lu udah biasa gitu ke masa lalu ya?” 

“Ya enggak, tapi gua minim fase penolakan kan karena sudah digambarkan sebagian masa depannya, Nge.” 

“Jadi apa di masa ini?” 

Dino memainkan ujung dagu dan tak menjawab pertanyaan sendiri. Ia mendengar bunyi-bunyi dari dapur dan ia mendekatinya. 

“I ... bu.” 

Lihat selengkapnya