Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #37

Keputusan Singkat

Hari berganti, Dino mendapatkan tiga kios yang masuk dalam kriterianya dan ia berniat mengunjungi kios tersebut tanpa janji dengan pemiliknya. 

Di Bebala Centre, tanpa basa-basi Dino menuju lokasi tujuannya. Matanya menangkap lalu lintas pengunjung yang melewati kios incarannya. Sebuah kios di lantai empat dan dua buah kios di lantai lima.  

Sejak tengah hari hingga sore hari, Dino berjalan mengitari targetnya beberapa kali dan duduk di food court dengan segelas kopi dan rokok. Beberapa jam kemudian Dino kembali mengitari rute yang sama. 

Keesokan harinya Dino melakukan hal yang sama. Hingga di akhir pekan ia merasakan kesulitan menjalankan aksinya karena kondisi mal yang ramai, dan ia tak mendapatkan tempat duduk di food court sebagai tempatnya untuk rehat. 

“Balik lagi Bang? Udah dapat kiosnya?”  

Dino kembali pada kios yang pertama kali ia tanya. 

“Belum. Bang, gua minta kontak sales buat tanya-tanya, boleh gak?” 

“Ya boleh aja. Tapi surveinya jangan kelamaan, nanti keburu diisi orang. Oh, ya, kalau Nordik langsung ke depot ya di belakang. Nah ini kalau merek lainnya ini.” Pria itu menyerahkan beberapa kartu nama. 

“Tapi kios ini lengkap banget jualan, Bang?” 

“Ya, namanya juga agen. Kalau pedagang kecil stok Nordik aja, aman dan pasti laku. Merek lain buat pelengkap aja, ambilnya di kami aja kalau ada yang mau beli.” 

Dino mengangguk dan meninggalkan kios tersebut. Duduk di food court, ia membuka ponselnya dan melakukan panggilan pada kartu-kartu nama yang ia terima. Tangannya aktif mencatat selagi ia berbicara sedangkan matanya melihat entah ke mana. 

Dino menghela napas dan melihat bukunya yang menampilkan tulisan ‘25 K’. 

“Mahal banget, segitu cuma satu merek!” 

Kopi sudah habis, Dino melanjutkan langkahnya menuju depot. 

“Minimum order 50.000 ya, itu sudah termasuk neon box, perlengkapan branding, dan display,” ucap salah seorang karyawan depot Nordik. 

“Tipenya bebas?” 

“Bebas! Kayak merek lain aja, yang penting nilainya 50.000 atau lebih. Kalau merek lain kan dua puluh lima ribu, kalau kita memang mahal, tapi barang aman, Bang, pasti laku!” 

“Kalau gak laku?” 

“Kita ada garansi harga, buat cover kalau harga jual turun, jadi tetap untuk jual barang di bawah modal, karena nanti bisa klaim ke kita buat ganti selisihnya. Tapi yang pasti bisa retur tukar produk baru kalau tetap gak laku.” 

Dino mengangguk, ia pulang dengan formulir yang harus ia isi. Sekali lagi ia berkeliling mengitari mal yang semakin sore semakin ramai.  

Di rumah Ia terus mencoret-coret bukunya. Mulutnya bergumam melafalkan angka-angka yang ia tulis. Tatapan matanya tajam dan jarang berkedip. Beberapa kali pulpennya salah menulis, dengan sigap ia segera menggarisnya dan menggantikannya dengan angka yang baru. Hingga akhirnya ia menghela napas dan menutup bukunya. Ia menyandarkan punggung sembari mengulum ujung pulpennya dan membuatnya seperti rokok lalu tersenyum. 

Keesokannya, Dino dengan membawa bukunya menuju Ibu yang sedang duduk menanti pembeli di warung. 

Lihat selengkapnya