“Mampus, sisa uang tinggal 1.000! Terima kasih, Pipo, untuk warisannya.”
Dino baru saja keluar dari depot Nordik untuk menyerahkan formulir yang telah ia isi dan melakukan pembayaran. Pihak depot berjanji besok akan segera merombak kios yang Dino tempati, sesuai dengan perjanjian kerja sama yang telah disepakati.
Malam setelah jam operasional mal berakhir, tepat satu hari setelah kontrak ditandatangani, Dino sedang menunggu para pekerja depot yang sedang melakukan “branding” pada kiosnya.
Dino memperhatikan proses pemasangan beberapa atribut dari depot yang menampilkan produk mereka pada dinding dan etalase, serta neon box pada sisi luar di atas kios.
Dini hari Dino mematikan lampu kiosnya saat semua pekerjaan telah usai. Pihak Nordik akan kembali datang siang hari untuk mengirimkan ponsel yang telah dipesan.
Hari pertama sebagai peletakan batu pertama yang menyatakan dirinya sebagai pengusaha. Dino baru saja membuka roliing door kios dan menyaksikan tempat yang akan menaunginya di masa depan.
Hari ini Ibu menutup warungnya dan memilih untuk menemani anaknya. Ia menggenggam kuat tangan Dino. “Ini masa depan yang kamu pilih, bukan jadi karyawan kayak sarjana-sarjana lain. Semoga pilihan kamu ini baik untukmu.”
Siang sudah datang, apa yang mereka nantikan belum juga tiba. Dino sudah beberapa kali mendatangi depot, namun pesanannya belum juga selesai disiapkan. Dino menghabiskan waktunya dengan mencatat produk yang Itta berikan padanya, sedangkan Ibu sedari tadi sibuk mengunjungi beberapa tetangga kios yang masih sibuk bersiap di awal hari. Ia kini berada tepat di kios aksesoris yang berada di sebelah dan Dino pun turut mendatangi kios aksesoris tersebut.
“Nah, ini anak saya, Dino.”
Dino mengangguk pelan dan memajukan tangannya.
“Ella,“ sambut wanita itu dan mengalihkan pandangannya pada Ibu. “Kalau kios kami pasti ramai, Bu. Banyak penjual juga yang ambil di kita,” ucapnya.
“Jaga sendiri apa gak repot?” tanya Ibu.