Beberapa hari berlalu, Dino mulai didatangi pelanggan warisan dari pemilik kios sebelumnya. Awalnya mereka datang untuk bertanya mengenai kios dan pemiliknya yang sudah berganti. Beberapa dari mereka ada yang langsung pergi, namun ada yang tetap bertanya lebih lanjut mengenai produk yang dijual.
Dino sedang mengisap rokok di etalase kiosnya. Etalase ini seperti menyambung dengan etalase milik Feli namun terpisahkan oleh sebuah dinding. Dino memanggil-manggil setiap manusia yang lewat, berharap agar mereka menghampirinya, begitu juga dengan Feli yang suaranya terdengar dari balik dinding. Sesekali Dino menatap dinding itu dengan wajah yang tidak tenang.
“Bang, makan Bang!”
Suara Feli terdengar dari balik dinding yang membuat Dino spontan menatap ke arah dinding, di sana ada Feli sedang menyembulkan kepala, tangannya menyodorkan sebuah kotak yang tertutup. Melihat hal tersebut, Dino terkesiap berdiri dari bangkunya dan mengelus dada.
“Eh, Bang, maaf, maaf bikin kaget,” ucap Feli dengan senyum setelahnya.
Beberapa saat mata mereka bertemu, keheningan sejenak terasa karena tak ada jawab dari Dino. Ia terdiam menatap Feli dan kembali duduk.
“Oh, ya, terima kasih.” Dino berkata pelan dan datar.
“Bang ini ada makanan, gua masak banyak, gua sama Ella gak abis. Lu makan ya, habisin bila perlu!” Feli meletakkan kotak tersebut di etalase Dino lalu kepalanya menghilang di balik dinding.
Dino menarik pelan kotak itu. “Terima kasih,” ucap Dino pelan.
“Apa Bang?” Kepala Feli kembali menyembul dari balik dinding.
“Gak, ini, terima kasih, terima kasih.”
“Oke, oke. Jangan malu-malu, Bang. Udah beberapa hari ini kayaknya takut banget sama gua.”
“Ah ... gak kok.”
“Iya udah, itu Pizzarzuelabneh, Bang, abisin jangan lupa!” Kepala wanita itu kembali menghilang.
“Hah?” Tangan Dino bergetar membukanya. “Ini kan ...” getaran itu menjalar seketika ke wajahnya. Napasnya tersengal, perlahan ia angkat makanan itu. Dengan cepat Dino menggigitnya. Gigitan pertama membuat bahunya seketika turun. Matanya menutup diikuti dengan tepi bibirnya yang menanjak. “Ajong ...”