Hari ini Dino menerima sebuah pamflet yang dibagikan oleh beberapa anak muda ketika ia hendak masuk mal dari tempat parkir kendaraan. Pamflet tersebut berisikan acara untuk menonton bersama final UEFA Champions League tahun 2005 di halaman parkir mal. Pertandingan itu akan berlangsung malam ini di Stadion Ataturk, Istanbul.
UEFA Champions League adalah sebuah kompetisi tahunan untuk menentukan siapa yang terbaik di Benua Eropa dalam ajang olahraga sepak bola yang diikuti oleh klub-klub terbaik di benua tersebut. Pertandingan ini akan mempertemukan Raja Italia dan Raja Inggris yaitu AC Milan dan Liverpool F.C. Keduanya adalah klub terbanyak yang menjuarai perhelatan akbar tersebut di negara masing-masing.
Dino teringat dengan catatannya. “Saking takutnya sama tetangga gua jadi lupa acara penting ini.” Ia membaca catatannya yang berisi lengkap mengenai perhelatan akbar ini, bahkan semua pertandingan yang akan tersaji di tahun depan hingga dirinya “pergi” lengkap dengan skor, para pencetak gol, hingga nama para penerima kartu kuning maupun merah.
Di kios, Dino menghitung omzet yang telah ia kumpulkan. “Lumayan juga modal nanti malam ada 55.000. Bisa nambah banyak ini barang dagangan besok.”
“Din, sarapan nih.” Tangan wanita terjulur dari dinding di sebelah Dino, tangan yang sudah akrab di sudut matanya. Tangan itu meletakkan kotak makanan lalu menghilang ke balik dinding seperti kejadian yang sama setiap harinya.
Dino tersenyum, ia berdiri melihat ke sumber arah tangan yang meletakkan rezeki untuknya, Dino berucap lembut, “Terima kasih, Feli ...”
Feli muncul dengan setengah badannya, ia tersenyum lebar. Wajah itu dekat. Cukup dekat hingga polesan gincu yang tak rata cukup jelas di mata Dino. Kali ini wanita itu mengenakan kaus putih dan jaket jin biru terang dengan rambut hitamnya terurai menyentuh etalase. “Selamat menikmati, Dino ...”
Di balik senyuman yang diterima, jantung Dino masih belum terlalu kuat menahan gugupnya, tangannya pun masih sering mengucurkan keringat. Ia menarik napas panjang, bibirnya bergetar. Tarikan napas panjang itu membawa aroma parfum yang masih ia ingat. “Red Jeans,” spontan Dino bersuara lirih.
“Hah, apa Din?” Feli memajukan kepalanya melewati dinding dan mendekat ke arah Dino.
Aroma itu semakin menyerbak. “Red Jeans, eh gak, gak, gak apa-apa Fel.”