Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #41

Tertawa Terakhir

Malam harinya, sepulang Dino menyelesaikan perniagaannya. ia tak langsung pulang, dan sejenak mengurung diri di dalam kiosnya. 

“Kalau kalah semuanya hilang nih, Nge.” 

“Masih ragu? Hampir semua yang di buku itu benar.” 

“Gak tahu juga nih, sebelum ngalamin sendiri, rasanya keyakinan itu sulit untuk datang.” 

“Apa harus mati dulu yakin ini nyata?” 

Dino menggelengkan kepala. Ia dengan cepat menyambar ponselnya dan menghubungi Ibu untuk mengabarkan dirinya yang tidak pulang seperti biasa, lalu meletakkan kembali ponselnya. 

“Bukannya jalan hidup baru ini harusnya bikin bahagia, Nge?” 

Apa sih bahagia?” 

“Bahagia ya?” 

Dino bertanya dalam hati dan menjadikan “bahagia” sebagai bahan utamanya. Mulutnya berucap terus “Bahagia, bahagia, bahagia.” Entah apa yang ia rasa, yang jelas hatinya agak resah dengan kata tersebut. 

Sesampainya di tempat acara, Dino menyulut rokoknya dan menuju ke tempat dengan kerumunan massa yang menantikan pertandingan dimulai. Dengan membayar sepuluh dolar, Dino mendapatkan sebungkus rokok beserta tiket masuknya.  

Di dalamnya terhampar banyak meja yang bermuatan empat bangku. Dino berkeliling mencari tempat yang pas untuknya duduk dengan pikirannya selalu teringat kata “bahagia”. Dino melihat keramaian dengan bermacam aktivitas. Terlihat wajah-wajah yang senang dan riang yang sedang menantikan sebuah tontonan yang menarik.  

“Apa mereka bahagia? Apa muka-muka senang ini bukan bahagia? Apa ada kebahagiaan palsu?”ss 

Dino terus berjalan dan mendengarkan sayup percakapan mengenai prediksi pertandingan yang akan berlangsung dan disertai dengan analisis-analisis yang menarik. Hasil dari perbincangan itu mengarah pada suatu kesimpulan sebagai penambah “semangat” menonton pertandingan, maka dari itu mereka mengadakan tebak-tebakan hasil pertandingan dengan melibatkan sekian dolar. Hal tersebut tidak hanya ada di satu meja, tapi hampir di semua meja dengan pembahasan yang sama. 

Lima belas menit sebelum pertandingan dimulai, Dino memesan kopi hitam dan Zapiekankachumbaricottaa di salah satu booth penjual makanan. Ia duduk di sebuah meja yang berisikan tiga orang yang tak saling kenal. 

“Pada pegang mana nih abang-abang semua?” Dino membuka suara. 

“Liverpool lah Bang, lagi bagus-bagusnya ini,” ucap salah satu penonton. 

“Milan lah Bang, habis juara dua tahun lalu kan, masih kuat-kuatnya ini tim,” Penonton kedua menimpali. 

Lihat selengkapnya