Keesokannya, Dino merasakan efek adiksi dari sebuah kemenangan. Hal yang instan itu membuatnya berhitung, apabila dapat menangkan lebih banyak pertandingan, maka tentu banyak juga yang akan ia dapatkan. Ini merupakan komoditas yang dapat ia jalankan dengan “tanpa risiko” dan keuntungan 100% setiap transaksinya. Pikirannya terbang ketika ia duduk di balik etalasenya membayangkan uang yang berdatangan untuk silaturahmi padanya.
Sayup terdengar Feli yang sedang berbicara dengan Ella. Dino tak menghiraukannya, ia terbangkan khayalnya jauh dari raganya dengan bahan bakar rokok yang berada di tangan. Sesekali ia tersadar kala ada pengunjung yang lewat di hadapannya dan ia mencoba menjemput rezekinya lagi dengan memanggil setiap pengunjung yang melintas.
Di tengah lamunannya Dino merasa terpanggil, namanya terdengar dari telinga kanannya.
“Dino! Oi, Dino!”
Dino tersentak langsung membelokkan kepalanya menuju sumber suara, “Oit ... oit ...” terlihatlah Feli yang sedang meniupkan asap rokok sembari mengetuk-ngetuk pelan etalase.
“Din, susah bener dipanggil, padahal paling gak nyampe dua meter ini jarak kita. Eh, tadi makanan gua enak gak?”
“Gak denger, sorry. Enak, Fel.”
“Gak denger? Wah kudu ke THT lu! Tadi makanannya kalau disuruh bayar, lu berani berapa?”
“Hm ... lima puluh pas sih.”
“Yah, kok gak seratus?”
“Kalau seratus jadi biasa aja.”
“Lah kok gitu? Semuanya gua bikin sendiri, bahkan rotinya juga, jadi wajar dong mahal.”
“Enak itu menurut gua, murah dan banyak. Apalagi ini gratis, jadinya enak sekali.” Dino mengacungkan jempolnya.
“Kalau mahal tapi banyak, jadinya apa?”
“Jadi normal aja, itu kastanya sama kayak murah tapi sedikit.”
“Definisi ‘enak’ menurut lu aneh ya?”
“Ya, namanya juga pedagang, harus hitung-hitungan.”
“Belum bisa terima sih gua sama argumen lu. Hahaha.” Feli mengisap dalam rokoknya.
“Fel, nanti malam nonton lu mau gak?”
“Hah, apa Din?”
“Nonton lu mau gak? Gua mau traktir, gantian, kan lu yang selama ini baik sama gua.”
“Lu gak nanya gua kosong dulu atau gimana gitu? Basa-basi gitu loh.”
“Oh ... ya udah, malam nanti lu kosong gak?”
“Gua mau kok lu ajak nonton, Din.”
Dino mengisap dalam rokoknya, ia hembuskan melalui hidungnya hingga tak tersisa, matanya mulai menyala tertuju pada Feli. “Terus ... maksud lu nyuruh gua basa-basi buat apa Fel? BUAT APA FE ...LII!?”