Esok harinya, Dino dan Feli menjalani rutinitasnya seperti biasa, meski sudah saling mengungkap perasaan masing-masing. Dino lebih sering menghabiskan waktu di meja kasir dengan laptop barunya, mengatur partai-partai pertandingan sembari menyiapkan lagu yang akan ia luncurkan.
Feli menghampiri dan berjalan di muka kios, Dino meliriknya dan mata mereka bertemu. Gadis itu tersipu menutup mulutnya dengan sekotak makanan dan parfumnya datang terlebih dahulu dibanding inangnya.
Dino menerima makanan itu lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Nelpon siapa, Din?” Feli bertanya.
“Halo, Ibu, ini Felinya Bu.” Dino menyerahkan ponselnya.
“Hah apa ini?” Feli menerima ponsel itu dengan tangan yang tak tenang. “Ha ...lo, Bu.”
“Iya, baik, Bu. Ibu apa kabarnya juga?” Feli berbicara lembut.
Dino membakar rokoknya sembari menatap gadis yang sedang asyik berbincang di ponselnya.