“Halo Dino!” ucap seorang pria tua yang merupakan ayah dari Feli atau kakeknya Dino. Sewaktu kecil, Dino memanggilnya “Akas”, sedangkan Feli memanggilnya “Ubak”. Akas menjabat tangan Dino yang baru turun dari mobil.
Dino tertegun melihat pria itu, ingatannya ditarik jauh ke masa kecilnya, ia melihat sosok yang sudah tiada dengan tampilan yang lebih muda dan lebih segar, dibandingkan terakhir kali terlihat. Matanya tersihir menatap sekitar, ia memandang area yang menjadi tempatnya bermain dahulu, berlarian dikejar sesosok monster yang diperankan oleh pria tua yang menyapanya saat ini. Sepuluh tahun usianya saat ditinggal Akas.
Seorang wanita tua yang merupakan ibunya Feli atau neneknya Dino berdiri di depan pintu. Sewaktu kecil, Dino memanggilnya “Ajong”, dan Feli memanggilnya “Umak”. Dino berinisiatif menghampirinya, setelah ia sejenak terdiam menatap wajah wanita itu.
Feli dan Ajong masuk ke dalam rumah meninggalkan Dino dan Akas yang sedang duduk di teras rumah. Dino membakar sebatang rokoknya lalu ia isap dalam. “Pak, berarti berdua aja ya di rumah?”
Akas mengangguk. “Punya anak satu-satunya tapi gak mau tinggal di rumah, mau mandiri katanya.“
Dino mengangguk sembari matanya menyapu sekitar, memori masa kecilnya datang berduyun-duyun memanggil Dino untuk larut dalam suasana beberapa tahun lalu.
“Rasanya kayak baru kemarin,” batin Dino.
“Tadinya JJ bilang mau di Belago, tapi berubah pikiran, katanya kalau di Belago dia mau pulang terus. Makanya dia geser jadi lebih jauh, biar dia ngerasa merantau dan bisa mandiri.”
Dino yang semula menatap kosong sekitar, tiba-tiba memfokuskan pandangan pada Akas. “Hah, JJ siapa, Pak?”
“Itu panggilan dari saya sama ibunya untuk Feli.”
“Oh ... JJ. Kenapa dibolehin Feli ngerantau, Pak?”
“Iya itu, dia anaknya dari dulu memang begitu. Semuanya mau dikerjain sendiri, dibantuin gak mau. Katanya nanti kalau gagal malu, tapi kalau berhasil katanya gak puas.”
“Halo bapak-bapak, kopi sama makanan ringannya datang nih.” Feli memotong obrolan dengan membawa senampan amunisi obrolan, ia letakkan di atas meja yang berada di tengah kedua pria itu, lalu ia duduk di sebelah Dino dengan nampan yang ia pegang di atas pahanya.
“Anak Ubak udah besar sekarang, udah mandiri, sekarang sudah bawa teman cowoknya ke rumah.” Akas menghela napas. “Waktu rasanya cepet banget. Gimana, Nak, usahanya lancar?”
“Iya, Bak, lancar, tiap hari Ubak nanya itu terus di telepon.”
“Iya, Ubak tahu, Ubak tanya itu setiap hari. Ubak sama Umak mau mastiin semua urusan kamu gak ada kendalanya, cuma pengen tahu kabar kamu aja, Nak.” Akas menatap Dino. “Oh, iya, Dino sudah lama usahanya? Sebelumnya kerja di mana?”
“Saya belum pernah kerja, Pak. Lulus kuliah, lamar-lamar kerja gak pernah dapat. Akhirnya mutusin buat usaha.”