Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #55

Belum Makan Dari Pagi

Dino termenung di ruang kerjanya yang berada di salah satu sudut rumah mewahnya. Ia memandangi buku yang selalu menemaninya. Ia tak mampu menulis apa pun lagi di buku itu, otaknya buntu ketika harus menuliskan pesan untuk penerusnya.  

Dino melihat kalender di atas mejanya. Waktunya seminggu lagi di dunia. Kesuksesan yang ia alami tak membuatnya yakin menghadapi kematian. Ia takut akan menjadi apa nanti hidupnya setelah mati. Batinnya saat ini sering bertanya, apakah semua yang ia lakukan adalah hal yang benar? 

Terpenjara sepi, ia menyimpan semuanya sendiri, bahkan Nge tak pernah menanggapinya lagi. Tak ada yang mengetahui asal-usul Dino yang bukan makhluk asli penghuni zaman ini. Setelah sebelumnya ia merasakan yakin dengan apa yang ia lakukan, entah mengapa saat ini ia tak bisa merasakan “yakin” itu lagi. Di tengah kesuksesan yang khalayak lihat tentangnya, ia merasa tak sama, kosong dan hampa. 

Kemenangan bisnis gelapnya menimbulkan bencana, banyak yang mengalami kegagalan, meski ada pelanggan yang ia menangkan karena ia telah mengatur itu semua. Kerusakan yang timbul akibat kelakuannya sangat buruk, meski ia bukan yang menjalankan langsung bisnis itu, ia tetaplah aktor utamanya. 

Selain itu, lagu yang ia klaim pun kini dipertanyakan beberapa rekan musisi yang merasa telah menciptakan lagu yang Dino luncurkan beberapa tahun sebelumnya. Namun tak ada bukti yang menyatakan Dino bersalah. Mereka kehilangan tabungan karya yang sengaja mereka simpan. 

Di balik kebahagiaan yang Dino pernah rasakan, banyak tangisan yang tak ia mau dengar, banyak keluarga yang jadi berantakan, banyak kehidupan yang telah ia ambil. Dino menutup mata dan telinganya, ia tak peduli. 

Rasa sesalnya kini jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya ia menyesal karena dilahirkan dengan kondisi keluarga yang serba kekurangan, sekarang penyesalannya akibat ulahnya sendiri. 

Matanya menatap kosong pada foto-foto yang ia ambil pada beberapa hari terakhir bersama istrinya. Tangannya lembut mengelus bingkai foto yang rapi tersusun. “Ini gak jahat, harusnya ini gak jahat. Ini risiko bisnis, ditikam atau menikam.” Matanya kuat memandangi gambar diri JJ yang tersenyum sembari memegangi perutnya yang sudah membesar. “Ya, ini gak jahat sih kayaknya.” 

Lihat selengkapnya