Semua anggota keluarga sudah berkumpul di rumah mewah Dino setelah mereka merayakan ulang tahun Dino yang ke-25 semalam. Sekarang mereka sedang bersiap menuju rumah sakit karena keadaan JJ yang sudah mendekati waktu melahirkan.
Dino merasakan jantungnya begitu kencang dan tangannya yang basah sepanjang perjalanan. Ia tahu apa yang akan terjadi, akan ada dua sosok manusia yang hilang dari dunia sebentar lagi.
Awan hitam menutupi birunya langit dan tak ada lagi cahaya yang mampu menembusnya, gelap dengan angin kencang menghiasi perjalanan mereka.
Dino terus menggenggam tangan JJ yang sudah merasakan kontraksi sedari tadi, dan JJ sudah tidak pernah lagi menyeka tangannya yang basah karena Dino.
Jalanan yang kosong membuat mereka melenggang bebas menuju rumah sakit ternama di Kota Belago, sebuah rumah sakit premium yang sudah pasti lengkap dan mewah.
Di lobi rumah sakit, Dino segera mengurusi semua permasalahan administrasi, sedangkan yang lain menuju ruang persalinan untuk menemani JJ yang berada di lantai dua belas.
Suara petir kencang menembus dinding gedung dan menggetarkan gendang telinga semua orang serta kaca-kaca. Dino yang sedang mengisi formulir terdiam dan menatap plafon yang dihiasi lampu gantung kristal besar yang berkedip-kedip, seketika padam lalu kembali menyala.
“Sekarang ya?” batin Dino.