Suatu pagi seminggu sebelum tahun baru, Mama yang baru bangun tidur segera menghubungi Dino, ia katakan ia ingin bertemu segera dan ingin menghabiskan waktu pergantian tahun bersama.
Setelah menutup panggilan, Mama melepaskan rasa kantuk dengan mengguyur kepalanya menggunakan air hangat. Badannya tidak letih, tapi pikirannya cukup mencengkeram kuat tubuhnya. Bertahun-tahun terpendam, sebuah bola salju yang tergulung besar dan mencoba menabrak semua lini kehidupan dan seperti bom waktu yang terpelihara lama dapat meledak kapan pun.
Mama menuju ke tempat kerjanya dan memimpin rapat bersama para Country Head yang memegang kendali perusahaan di suatu negara. Perusahaan ini sudah meroket jauh mendominasi penjualan ponsel di beberapa negara—semua karena tangan dingin Mama.
Mama mengumumkan sesuatu yang akan menentukan peran Mama ke depannya. Keputusannya yang telah ia paksakan pada dirinya sendiri. Ia mengumumkan pengunduran dirinya dan memutuskan untuk tidak akan berada di bagian operasional lagi.
Keputusan besar di akhir tahun ini mengubah air muka semua peserta rapat yang terkesiap, mereka memikirkan bagaimana nasib sumur tempat mereka minum ini, dan Mama menunjuk Ella untuk menggantikannya.
Setelah pengumumannya, Mama langsung terbang menuju rumah yang telah dinantikan oleh Dino. Hari ini terasa canggung, basa-basi bertanya kabar dan bertanya kuliah yang menjadi pertanyaan template sama seperti perbincangan mereka di sambungan telepon.
Mama dan Dino duduk menyerong di meja yang berada di kamar. Cukup lama hening setelah basa-basi hingga Mama membuka suaranya lagi, “Menurut penilaian Dino, Mama bagaimana sebagai orang tua?”
Dino menarik kepalanya lalu tertunduk, bibirnya terkatup rapat dan matanya menatap tajam meja di hadapannya. Ia berkata dengan suara yang pelan, “Mama ... Mama udah sempurna sebagai orang tua.”
Mama menghela napas dan memegang tangan anaknya. “Jujur sayang ...”
“Iya, itu Dino sudah jujur kok,” jawab Dino pelan.
“Kamu bilang aja apa yang ada di kepalamu, Mama gak akan membela diri.”
“Dino cuma bisa bilang begitu Ma.”