Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #64

Buku Sampul Merah

Januari 2030, Mama dan Dino pergi menuju pusara keluarga lalu ke rumah Akas dan Ajong yang berada di Kota Goco. Pandangan Mama menyisir jalanan yang mereka lalui, ia terdiam menatap hamparan memori yang berjalan di otaknya. 

Di dalam rumah, Mama terduduk di tempat Pipo duduk saat meminta restu. Dalam bayangannya ada Akas dan Ajong sedang duduk di hadapannya dengan wajah yang bahagia dikunjungi anak serta calon menantunya. Tangis Mama turun di rumah yang sudah lama kosong itu.  

Mama menuju dapur yang juga menjadi ruang makan. Ia duduk di salah satu kursi di meja makan melihat Akas, Ajong, dan Pipo yang sedang makan dengan diam dan sunyi. Mama memfokuskan pandangannya pada setiap wajah, ia memperhatikan detail mimik wajah hingga tahi lalat yang ada di atas bibir Akas. 

“Memang mirip militer pendidikannya,” batin Mama. 

Kini Mama di kamar tidurnya, ia rebahkan diri di atas kasur yang dulu selalu setia menjadi tumpuannya ketika terlelap, banyak barang-barang yang menemaninya sedari ia kecil, semua masih tersimpan rapi. 

Dino menanti Mama di teras bersama sopir yang membawa mereka ke sini, mereka sibuk dengan rokok masing-masing. Dino memandang sekeliling rumah sembari terus mengepulkan asap dari mulutnya. 

“Rumah siapa ini, Mas?” tanya sang sopir. 

“Rumahnya Akas sama Ajong “ 

“Oh ... kayaknya dari Mas belum lahir, belum pernah saya anter Ibu ke sini.” 

Dino mengangguk kecil sembari meniup api rokoknya yang belum merata. 

Mama mengajak Dino untuk melakukan room tour dan menjelaskan tiap inci ruangan beserta cerita manis yang melekat di tempat itu. Dino tak menanggapi sedikit pun, ia sibuk memainkan batang tembakaunya. Sesekali senyuman Mama merekah di beberapa titik rumah, sedangkan Dino hanya menatap datar.  

Di rumah, Dino membaca lagi buku pesan bersampul merah. 

“Ini nyata gak sih? Udah lebih sepuluh kali dibaca tapi semakin sering dibaca rasanya jadi kayak benaran. Karena kalau dicek ini benar, Argentina jadi juara Piala Dunia. Tapi kalau bencana di Goco apa benar? Kalau benar untuk apa semua ini?” Dino bergumam. 

Dino melanjutkan kegiatannya dengan membuka komputer yang berada di ruang kerja Pipo, sebuah komputer tua yang sudah bertahun-tahun tidak menyala. Ia membuka semua folder yang ada, berisikan ratusan lirik lagu dan dokumen-dokumen suara di dalamnya, termasuk foto-foto yang berasal dari kamera saku tua yang sudah tidak diketahui keberadaannya.  

Dino membuka rincian pada foto, ia melihat tanggal pembuatan foto tersebut pada tahun 2030. “Wah ... Pipo niat juga ya edit foto sampai detail tanggalnya juga diganti. Apa ini benaran?”  

Esok harinya, Dino dan Mama mengunjungi pusara rumah Nenek dan Pipo yang berada di Bebala. Rumah masa kecil Pipo ini tak meninggalkan banyak kenangan di memori Mama. Sofa di tengah ruang tamu, Mama duduki dengan nyaman. Ia melihat Nenek berada di sampingnya dengan Pipo di hadapannya. Mereka sedang berdialog asyik diiringi tawa sesekali. 

Mama menuju warung yang sudah kosong lalu menuju kamar Pipo, ia lihat Pipo duduk di meja belajarnya sedang berkutat dengan laptop dan buku yang biasa ia corat-coret, buku yang sekarang dipegang oleh Dino saat ini. Ia mengalihkan pandangannya ke kasur, ada Pipo yang sedang berbaring dan tersenyum pada Mama. Mama tersipu dan membalas senyum itu lalu ia turut berbaring menghadap Pipo. Tak ada suara, mereka hanya saling menatap dan membalas senyuman. 

Setelah itu, Mama mengajak Dino menjelajah ruangan demi ruangan untuk mengenalkan Dino pada tempat-tempat bersejarah untuk keluarga mereka. Sama seperti sebelumnya, Dino sibuk dengan rokoknya, tak ada pertanyaan, ia sesekali melihat mama yang tersenyum lebar. 

Lihat selengkapnya