Sebelumnya, Mama dan Dino memutuskan untuk kembali ke “dasar”. Mereka berkunjung untuk pertama kalinya menuju pusara semua anggota keluarga yang telah meninggalkan mereka.
Di atas dua gundukan tanah dengan penanda di atasnya, mereka duduk memandang kosong pada nisan tersebut. Tertulis nama-nama orang yang sudah ada di hidup mereka. Titik-titik air mata berubah menjadi aliran air yang mengalir deras turun menyusuri pipi Mama. Ia
“Maafin gua ya, Din.” Mama tertunduk di atas pusara Pipo.”Maafin gua, gua gak bermaksud nelantarin Dino kayak gini.” Mama memeluk setumpuk tanah yang berisikan Pipo di bawahnya. “Bak, Mak, Bu, Din, JJ minta maaf ya, dua puluh tahun lebih baru bisa ambil keputusan untuk Dino.”