Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #68

Paranoia

Suatu malam menjelang ulang tahunnya, Dino merasa tidak nyaman dan tidak tenang yang sudah ia rasakan selama beberapa hari sebelumnya. Ia merasa ada beberapa pasang mata yang mengawasinya dan turut mengikutinya ke mana pun ia pergi. Namun, beberapa kali ia memastikan, tak ada sesuatu yang aneh ia temukan. 

Dino menceritakan semua pada teman-temannya, namun mereka menganggapnya mengalami sindrom akibat popularitas yang ia miliki saat ini. Ia turut mendatangi psikolog, namun jawaban yang sama ia terima, hingga ia harus menebus beberapa obat penenang ketika ke psikiater. 

Perasaan takut itu semakin menjadi, apalagi sekarang Dino mulai merasa dejavu bertemu dengan orang yang seperti ia pernah lihat berada di sekitarnya. Perasaan ini lebih terasa jika dirinya berada di ruang publik seperti mal yang berada di lantai bawah apartemennya, yang juga menjadi tempat ia membeli kebutuhan sehari-harinya.  

Malam ini, Dino sedang berkutat di acara yang ia gawangi di kanalnya. Ia sedang melakukan pengambilan gambar hingga nyaris hari berganti. Hal ini dikarenakan bintang tamu yang ia undang tidak datang tepat waktu hingga ia harus memundurkan waktu produksi 

Selesai shooting, Dino merasakan penat yang membuatnya harus memasukkan nikotin sebagai penenang mentalnya. Seluruh timnya sudah pulang, ia melanjutkan batang keduanya di area parkir dengan bersandar di depan sedan Matsuda merah peninggalan Pipo yang kini kendaraan hariannya. 

Jam tangannya menunjukkan pukul dua belas lewat tiga belas, udara terasa dingin dan suasana begitu sepi. Ia memainkan ponsel untuk mencari hal menarik yang akan menjadi ide kontennya. Matanya bergulir seraya layar ponselnya yang mengikuti gerak jempolnya, isapan demi isapan ia nikmati, kantuknya mulai datang seiring udara yang semakin dingin dan heningnya suasana area parir yang beratapkan langit.  

Tak lama, Dino putuskan untuk pulang, ia berkendara perlahan karena rasa kantuk yang terus memakan kesadarannya. Mobilnya berjalan pelan di sisi kiri, di payungi lampu kuning jalanan yang remang dan memanjakan matanya dalam kelelahan. Ia putar lagu-lagu yang baru ia produksi untuk menemani perjalanannya, dengan volume yang keras untuk membantunya tetap terjaga. Ia pun membuka kaca yang berada di atap mobilnya, lalu ambil asbak portabel untuknya membakar batang tembakaunya. 

Lihat selengkapnya