Tepuk tangan meriah menggema membangunkan Dino, matanya perlahan terbuka. Ia sedang terbaring menatap silau lampu yang terpendar. Tempat ia berbarik bergerak seperti ditarik ke arah kakinya berada.
Samar-samar Dino melihat lampu-lampu tergantung di langit-langit ruangan seperti bintang-bintang di sebuah ruangan yang luas. Ekor matanya bergerak menyusuri sekitarnya dan terang lampu membuatnya sulit mengatur fokus matanya.
Seorang pria mendatanginya. “Bisa dengar?”
Dino mengangguk dengan mata yang menyipit sedang menyesuaikan dengan terangnya cahaya dari atas yang menyorotnya. Wajah pria itu terlihat gelap membelakangi lampu sorot.
Pria itu memberikan tanda “Ok” pada seseorang yang berada di sisi lalu melepaskan beberapa kabel yang tertempel di dada dan kepala Dino.
“Semuanya ... sekali lagi ... beri tepuk tangan yang meriah pada Dino!” ucap seorang pria yang berdiri tidak jauh dengan memegang mikrofon.
Suara itu menggema memancing gemuruh tepuk tangan beriringan dengan Dino yang sedang di bantu untuk duduk dari tidurnya. Sekarang ia melihat ratusan pasang mata menatapnya yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya dengan kaki yang terjuntai ke bawah. Ia menengok ke arah kiri dan melihat sebuah mesin melingkar seperti mesin CT Scan— tempatnya berbaring sebelumnya.
Dino mendapati dirinya hanya mengenakan celana panjang putih tanpa atasan. Matanya sudah mulai bisa menyesuaikan dan melihat betapa meriah tempat ini, sebuah panggung dengan dekorasi LED putih dan pirus. Sebuah layar raksasa di tengah bertuliskan “HAYALISM”. Ia melihat juga sebuah tempat tidur dengan mesin seperti mesin CT Scan yang sama di seberangnya.
“Dino ... Dino ... Dino ...” Sorak-sorai penonton dipandu pembawa acara yang beriringan dengan tepuk tangan berdiri dari para pengunjung.
Seketika Dino merasa takut dengan riuhnya keadaan. Ia Sama sekali tak mengingatnya kecuali merah pada lantai dan merah menyala menutupi pandangannya sebelumnya
Pria yang tadi membangunkannya, membawakan gelas berisi air. Dino memegangnya dengan kuat dan menyembulkan urat kehijauan di tangannya, namun gelas itu terjatuh menumpahkan seluruh isinya. Pria yang tadi membawakan gelas baru dan memegangnya selagi Dino meminumnya dengan rakus.
Seorang pria yang memegang mikrofon mendekati Dino dengan senyuman dan menodongkan mikrofonnya setelah bertanya, “Oke, Dino?”
“ O ... O ...” Dino menghela napas dan menggeleng. “O ... O ...” Dino memalingkan wajahnya ke arah ratusan pasang mata yang menatapnya lalu kembali menatap pria yang bertanya dan mengacungkan jempolnya. Dan gerakan itu memicu riuh penonton.
Dino dipakaikan sebuah kimono lalu dituntun oleh pria yang sebelumnya menuju kursi roda dan dibawa ke tengah panggung.
Dino melihat sisi kirinya ada seorang pria yang juga sedang berada di kursi roda sedang di dorong menuju tengah panggung.
“Tepuk tangan sekali lagi untuk kedua finalis kita!” seru Pria yang memegang mikrofon.
Dino memegang kepalanya, menatap sekitar dengan pandangan bertanya. Ia menyapu semua area, menatap lantai, lampu-lampu, semua manusia, hingga pengeras-pengeras suara yang tersebar pada beberapa titik.
Tak lama, Dino dan pria di sebelahnya didorong menuju ke belakang panggung. Acara dilanjutkan dengan penampilan grup musik yang menggetarkan tempat itu.
Dino didatangi oleh seorang dokter yang memintanya membuka mulut dan mata yang lebar, lalu ia dibopong untuk berdiri.
Kedua kakinya bergetar hebat seolah tak bertulang, tangan coba menahan agar tak terjatuh memegang sang dokter, tapi tangannya masih belum mampu.
“Kebas ya? Kesemutan?” tanya Dokter itu.