Heart Reset

nisafaza
Chapter #7

#7. Kedatangan Laki-laki Itu

Sepeda motor yang dikendarai Sean berhenti di depan pagar salah satu hunian megah di kawasan perumahan. Zia sebagai penumpang mengulurkan helm yang dipakainya sembari menapak turun. 

"Makasih, ya," ucap gadis itu sungkan. Walau sudah terbiasa dengan tumpangan yang diberi Sean secara suka rela, tapi rasa tidak enak hati itu tetap ada. 

Sean mengangguk, menerima uluran helmnya. "Nanti kalo mau dijemput, chat aja."

Zia menggeleng spontan. "Nggak perlu. Nanti pulangnya bisa pesen ojol. Makasih banget udah nganterin ke sini," ungkapnya. 

Tak terhitung berapa kali Sean menawarinya. Tapi kali ini Zia benar-benar tidak mau membuat Sean repot hanya untuk mengantar jemput.

"Oke," pasrah Sean, "kalo ada apa-apa chat aja."

"Iya, iyaa." Zia menanggapi. 

"Salam buat Aira. Bilangin maaf nggak bisa nemenin di UKS tadi," pesan Sean, sebelum akhirnya kembali berputar arah menarik pedal gas.

Zia meresponnya dengan anggukan dan lambaian tangan. Dirasa temannya itu sudah hilang dari pandangan, dia segera berbalik membuka pagar. Hal yang dia lihat ketika memasuki pelataran luas adalah dua sosok pria yang berdiri di samping mobil dengan Aira yang bergelayut pada salah satunya. 

Semakin melangkah dekat, semakin Zia mengulum senyum begitu mendengar percakapan yang didominasi rengekan dari Aira.

"Pokoknya jangan lama-lama perginya. Nanti kalo Bang Alpin ngajak ribut nggak ada yang marahin dia, Pa."

"Kan ada Kak Alden."

"Kak Alden nggak pernah bela Aira!"

Pelukan Aira semakin enggan melepas. Zia yang gemas pun menimpali. "Nanti kita lawan Bang Alvin bareng-bareng, Ra."

Kedatangannya membuat semua yang mendengar lantas menoleh. Zia langsung disambut pelukan oleh ayahnya yang sejak tadi menyaksikan drama keluarga sang majikan.

"Tuh, Non. Udah ada temennya nih, siap dijadiin sekutu." Fahri terkekeh menepuk-nepuk bahu anaknya. 

Zia mengangguk antusias. Berhasil mengalihkan Aira hingga pelukan terlepas.

Andreas ikut tersenyum lalu mengusap kepala si anak. "Udah ya, udah ada Zia. Nanti kalo ada apa-apa tinggal telpon Papa."

Alih-alih mengiyakan, Aira justru kembali memeluk. Mode manja ini membuat siapa pun ekstra sabar dalam membujuk.

"Kemarin katanya nggak masalah Papa pergi, kok sekarang malah gelendotan gini." Sejujurnya tidak heran akan perubahan mood putrinya, tapi sang kepala keluarga benar-benar tidak bisa membiarkan terus seperti ini, karena beliau harus segera pergi.

Aira menggeleng cemberut. Semakin menenggelamkan wajahnya. 

"Papa pasti pulang kok, ke Jepang paling cuma sebentar. Nanti kalo Kakak kamu nakal, kasih tau Papa," ucap Andreas menenangkan. Kali ini sedikit mengerahkan tenaga hingga berhasil melepaskan diri. Kalau menuruti anak bungsunya dan tidak kunjung berangkat, bisa-bisa ketinggalan pesawat. 

"Zia, om titip Aira, ya. Jagain dia di sekolah," pesan Andreas pada Zia. "Om izin ngajak Bapak kamu juga."

"Siap, om. Titip jagain Bapak juga di sana," jawab si lawan bicara yang langsung mengaduh kena tepukan kencang di bahu.

"Kamu ini. Seharusnya ya Bapak yang jagain Pak Andreas," sela Fahri.

Kekehan mereka lantas mengakhiri perbincangan. Kedua pria itu kemudian pamit untuk segera melanjutkan perjalanan ke negeri sakura. Menyisakan Aira yang berat hati melambaikan tangan, ditemani Zia turut mengamati kepergian ayah mereka.

Aira kemudian mengajak Zia untuk beristirahat santai di rumahnya. 

"Ra, gimana keadaan lo? Kata Sean tadi muntah di sekolah?" tanya Zia membuka topik seraya duduk di sofa ruang tengah.

Aira meresponnya dengan memposisikan satu telunjuk di depan mulut. Mengisyaratkan agar percakapan mereka tidak terdengar siapa pun. Takut-takut pembantu di rumah ini dengar dan melaporkannya pada Alden, atau Alvin yang muncul bak jalangkung lalu menginterogasinya.

 "Udah baikan kok. Sehat-sehat aja sekarang," jawab Aira setengah berbisik.

Mendadak di dalam pikirannya penuh pertanyaan terkait isi obrolan apa saja ketika Sean dan Zia sedang bersama.

Lihat selengkapnya