Heaven Club

A.M.E chan
Chapter #1

Prolog

Angin yang berhembus cukup kencang, langit yang seolah marah dengan suara petirnya yang menggelegar, dan bau tanah yang tercampur air hujan sama sekali tidak membuat pria berusia tiga puluh tahun yang bergaya anak muda dengan hoodie dan celana jins sobek sana sini, serta berambut agak gondrong manly ini meninggalkan tempatnya berdiri. Dari balik payung hitamnya, ia terus menatap gapura SMA Handayani dengan wajah tersenyum tipis namun penuh arti. Kakinya mulai melangkah melawan arus angin kuat yang menerpanya. Ia terus saja melangkah sampai masuk ke dalam gedung berlantai tiga itu. Payung hitamnya ia taruh begitu saja di meja satpam yang membuat sang penjaga sekolah itu kebingungan hingga tidak sempat untuk menegurnya. Murid-murid yang sedang asyik mengobrol atau bersenda gurau, jadi terdiam dan berbisik-bisik saat melihat dirinya. Oh, jam istirahat toh. Begitu batinnya saat melihat jam tangannya. Pria itu juga sempat menghentikan langkahnya saat melewati gedung olahraga. Matanya yang besar memandangi siswi berbalut baju olahraga yang lumayan ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Berpikir apa ini sudah benar-benar akhir zaman?

Puk! Pria bernuansa urakan itu langsung berbalik dengan wajah kaget saat bahunya tiba-tiba ditepuk lembut seseorang. Wajah kagetnya seketika itu berubah sumringah saat tahu siapa yang menepuk dirinya.

"Pak Yudi! Wah sudah lama sekali, ya!" Pria itu menyalami Pak Yudi yang ternyata mantan gurunya. Sekarang ini, beliau sudah menjadi kepala sekolah rupanya.

"Kamu sudah besar dan tinggi, ya Andhika. Kenapa kamu kesini?"

Pertanyaan Pak Yudi dengan wajah yang sudah berkerut di sana-sini dan tatapannya yang redup ini, bikin Andhika—pria bertampang manly namun tengil itu jadi terdiam. Langkahnya berhenti dengan raut wajah seperti berpikir. Lalu dengan senyum tengil khasnya, ia melontarkan kata-kata yang tak disangka-sangka Pak Yudi.

"Saya ingin mengubah murid-murid yang punya kelakuan paling buruk disini."

Pak Yudi hanya diam. Kepalanya bergerak pelan, menyuruhnya untuk mengikutinya. Langkah mereka berdua berhenti di depan pintu bertuliskan 'ruang kepala sekolah'. Saat masuk ke ruangan bergaya aristokrat khas Pak Yudi tersebut, pikirannya seketika itu melayang—kembali ke masa tiga belas tahun yang lalu saat masih menjadi murid. KRIIIIIING! Suara bel tanda istirahat selesai, sukses besar memecah keheningan di ruang kepala sekolah. Membuat Pak Yudi mau tak mau harus memulai pembicaraan.

"Tujuanmu cuma itu? Kamu rela meninggalkan pekerjaanmu cuma untuk tujuan itu, Dika?"

"Iya, Pak. Mungkin Bapak nggak bisa percaya, tapi yaa itu emang tujuan saya kesini. Lagian, saya ingin membalas kebaikan Bapak saat itu. Bukankah berkat Bapak saya bisa jadi seperti ini? Bapak pasti masih ingat kan?"

Dalam hati Pak Yudi, entah harus merasa terharu atau marah mendengar keputusan mantan muridnya ini. Tapi perasaan itu segera lenyap menjadi raut bingung.

"Memangnya, kamu udah tau siapa-siapa saja yang kamu maksud?"

Pak Andhika dengan mantapnya menggelengkan kepala sambil senyam-senyum cengengesan. Pak Yudi hampir saja membuka mulut siap menegur Andhika, tapi untungnya Andhika dengan cepat angkat bicara.

"Saya yang akan mencari orang-orang itu. Bapak nggak perlu khawatir. Bapak cukup sediakan ruangan dan jangan bilang siapapun soal diri saya. Bapak juga tidak perlu memperkenalkan saya secara resmi di sekolah ini. Oke?"

Pak Yudi terdiam beberapa saat lalu tersenyum berwibawa. "Baiklah, bapak nggak akan bilang soal identitasmu ke guru-guru atau murid disini. Bapak turuti kata-katamu. Ruangannya kamu bisa pake ruangan di sebelah ruang klub basket. Bapak dukung niat baikmu itu, Andhika."

Pak Andhika tersenyum lebar hingga gigi rapi dan putihnya terlihat. Setelah mengucapkan terimakasih, ia keluar meninggalkan Pak Yudi yang masih terpaku memandang pintu yang dalam keadaan terbuka di depannya. Masih bingung dan kaget saja dengan kedatangannya yang mendadak dan sangat tak disangka-sangka. Lagi-lagi, senyum tipis terukir di wajah Pak Yudi yang sudah berkerut disana-sini. Ia yakin mantan murid kesayangannya ini pasti punya rencana. Rencana yang pastinya berguna untuk sekolah atau setidaknya untuk Andhika sendiri.

Bapak percaya sama kamu, Dika.

**********

Hujan yang mengganas daritadi pagi, sekarang ini telah reda digantikan cahaya redup sore hari yang indah. Cahayanya menyinari genangan-genangan air di sekitar halaman sekolah. Pak Andhika menyusuri lorong menuju ruangan yang sudah diberikan Pak Yudi padanya. Ia berniat menjadikan ruangan itu sebagai markas sekaligus tempat tinggal gratis. Selalu ada kebaikan dalam niat baik. Hatinya berbicara senang. Namun, langkahnya terhenti saat lewat di depan ruang klub basket. Bukan karena ada siswi-siswi berbaju olahraga tak sesuai aturan tadi yang sedang bergosip seru, tapi karena sepertinya ada pertengkaran yang cukup serius. Soalnya, ada seorang cowok bertubuh kurus yang sudah babak belur. Pak Andhika memutuskan untuk mengintip keadaan disana dengan bersembunyi di balik tembok yang menjadi pembatas antara ruang klub basket dan ruangan barunya.

"Dimas! Apa-apaan kamu?! Udah sering kali bapak liat kamu mukul temanmu lagi! Mau kamu apa sih, Dimaas?!" Seorang bapak separuh baya berpakaian olahraga yang sepertinya pelatih basket mereka, sepertinya sudah tak tahan lagi dengan sikap cowok tinggi atletis berkulit sawo matang yang bernama Dimas itu. Buktinya, wajah Pak Pelatih seperti merah padam menahan kekesalannya yang sepertinya sudah sangat lama ia pendam.

"Dia yang kurang ajar, Pak! Dia berani nyikut lengan saya pas latih tanding tadi! Saya nggak terima dong!" Dimas melotot ke arah cowok babak belur. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya Dimas masih kurang puas menghajar cowok itu! Padahal si cowok babak belur sudah meringis kesakitan.

Pak Andhika manggut-manggut memahami kejadian itu. Tapi ternyata kejadian itu malah makin menjadi karena tiba-tiba Dimas mencengkeram baju seorang cowok di depannya.

"LO TADI NGETAWAIN GUE YA? HAH? MAU GUE PUKUL LO?!" Anggota lain langsung turun tangan menahan Dimas. Sampai enam orang cowok lho yang menahan Dimas! Luar biasa kuat dan temperamen nih anak!

"LEPASIN!" Seru Dimas galak sambil meronta dengan kuat, yang bikin teman satu tim yang menahannya tadi meringis memegangi tangannya yang kesakitan.

"DIMAS! Bapak udah nggak bisa lagi menolerir sikap kamu! Sekarang kamu Bapak pecat dari klub dan jangan datang lagi sampai kamu sadar akan sikapmu!"

Tanpa menunggu lama dan bicara banyak, Dimas langsung keluar dari ruang klub dengan tampang kesal setengah mati. Mata Dimas dan Pak Andhika sempat bertemu beberapa saat, kemudian cowok temperamen itu pergi dengan cueknya. Setelah itu, tak lama kemudian Pak pelatih dan anggota tim lainnya keluar dari ruang klub.

"Akhirnya, Pak Wawan mutusin juga buat ngusir tuh cowok temperamen. Emang sih mainnya bagus banget tapi kalo kelakuannya gitu buat apa coba? Iya nggak?" cowok berpostur standar berkata dengan nada menggebu-gebu seperti orangh mau demo saja. Keras sekali suaranya! Omongannya tadi diamini pula dengan anggukan puas teman-temannya!

Pak Andhika tersenyum tipis sambil memandang mereka yang sedang berlatih basket bersama pelatihnya. Akhirnya, ketemu satu orang yang cocok. Pak Andhika menekan handel pintu ruangan barunya dan begitu dibuka, jutaan partikel debu mulai memasuki hidungnya yang mancung. Suara bersin-bersinnya menggelegar sampai bikin orang yang kebetulan lewat di depan ruangan, lari pontang-panting bagai dikejar pocong. Bruk! Ia menaruh tas ransel besarnya di atas meja yang telah ia bersihkan dari debu. Matanya memandang ruangan kotor nan berantakan itu. Sebelum mengerjakan misi gue, sepertinya ruangan ini harus gue beresin dulu.

Keesokan harinya...

Dengan gerak-gerik yang maksudnya sih diam-diam, Pak Andhika mengintip satu persatu kelas dan ruang klub yang dilewatinya. Gerak-geriknya ini malah bikin murid-murid yang kebetulan sedang berjalan di depannya, melihatnya dengan tatapan curiga sambil bisik-bisik. Tapi karena Pak Andhika tipe orang yang cuek banget, ia tidak peduli atau mungkin tidak sadar dengan tatapan-tatapan pedas orang-orang lewat. Sabodo teuing lah! Yang penting misi tetap harus jalan! Begitulah prinsip Pak Andhika.

"APA-APAAN SIH LO?!"

Lihat selengkapnya