Heaven Club

A.M.E chan
Chapter #2

I Wanna Go to a Place

Pagi yang cerah dan hangat dengan matahari yang bersinar terik, tidak membuat amukan Dimas surut. Dimas mengamuk gara-gara menemukan surat di laci mejanya. Surat yang menyuruhnya untuk pergi ke ruangan sebelah ruang klub basket. Semua orang yang ada di sekitar lorong yang dilewatinya, tak luput dari semprotan Dimas yang menanyakan siapa orang iseng yang berani-beraninya mengirim surat bernada perintah ke dirinya. Saat tiba di depan pintu ruangan yang dimaksud, Dimas yang tadinya ingin mengeluarkan semua emosinya pada si pemanggil, malah terdiam melihat enam siswa dan siswi yang sedang koar-koar memuntahkan semua kebingungan mereka. Ternyata bukan dirinya sendiri saja yang menerima surat misterius ini.

"Apa maksud anda memanggil saya, Pak? Anda tuh siapa?!" Tania jerit-jerit sampai seperti kehabisan suara. Ditambah sambil gebrak meja segala lho!

"Saya udah dibuat malu nih gara-gara surat panggilan itu. Fans-fans saya kan jadi pada bingung. Saya nggak terima lho kalo bapak nggak jelasin maksud bapak!" Sandra pun ikut berkomentar sambil memainkan rambut ikal panjangnya. Yaah, walau nada bicaranya masih lembut dibuat-buat.

"Tolong percepat apa keperluan Bapak memanggil kami! Saya ada urusan." Chandra sampai menghentak-hentakkan kakinya tidak sabar.

Dimas terdiam melihat suasana ramai di ruangan. Matanya terus menatap seorang tinggi besar yang terus saja membelakangi mereka. Seperti tidak menggubris jeritan keluhan mereka dipanggil tidak jelas seperti ini. Tangan kanan Dimas sudah mengepal kuat saking tidak bisa tahan melihat keadaan ini. Ia berjalan menyeruak diantara mereka yang sibuk berkoar-koar, lalu mendatangi si pemanggil siap meninjunya. Pat! Tiba-tiba tangan Dimas yang ingin menonjoknya ditahan. Pria urakan itu membalikkan badan dengan tangan masih menahan kepalan tangan Dimas. Dimas dan Grace agak tersentak saat melihat cowok bergaya ala preman pasar itu. 

Rasanya gue pernah liat nih orang. Begitulah batin Dimas dan Grace.

Dimas sampai menyipitkan mata memandangnya. Ia melepaskan tangan Dimas lalu berjalan ke tengah. Sukses bikin mereka semua kompak berhenti berkoar-koar.

"Yo, semuanya selamat pagi! Maaf maaf udah mengganggu kalian dengan memanggil kesini. Tenang aja, bapak udah kerja sama kok sama Pak Kepala sekolah jadi nggak akan ada masalah dan...."

"Iya iya cepet kasih tau tujuan bapak apaan manggil kita kesini?" Rendy sudah bersungut-sungut saja sambil garuk-garuk kepala saking betenya.

"Eits, bapak belum selesai ngomong. Nah, semuanya! Kenalin, nama bapak Andhika Putera. Bapak dulu juga murid disini. Kalian yang dipanggil disini tuh anak-anak terpilih untuk masuk ke klub yang bapak buat. Heaven Club."

Jelaslah mereka semua pada terdiam bengong. Bengong karena masih tidak bisa mengerti apa itu Heaven Club. Pak Andhika senyam-senyum, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah mereka semua yang bagaikan orang kekurangan oksigen. Dimas yang lebih dulu tersadar dari kebingungannya, langsung menarik kerah kemeja Pak Andhika. Matanya melotot menambah kesan garang dan temperamen di mata Pak Andhika.

"Cepet bilang, maksud lo apaan ngumpulin kita...."

"Oke oke, santai. Nggak perlu marah-marah gitu juga bapak akan jelaskan." Pak Andhika tetap pasang senyum ramah dan tenang, yang membuat Dimas melepaskan cengkeramannya. Pak Andhika mengatur nafasnya sebentar. Cengkeraman Dimas yang keterlaluan kuatnya tadi, sukses lah bikin leher serasa kecekik! Untung saja tidak sampai meninggal kehabisan napas!

"Begini ya anak-anak. Heaven Club itu klub yang bapak buat untuk anak-anak yang bermasalah. Kalian pasti punya ma...." Pak Andhika tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena melihat mereka semua malah berjalan melengos hendak keluar dari ruangan.

"Eh, heeeei! Ngapain kalian?! Saya belum selesai bicara!"

Tapi sayangnya, mereka tidak peduli dan terus saja berjalan hendak keluar ruangan sambil ngedumel tidak jelas. Pak Andhika sudah tidak bisa bersabar lagi. Melihat punggung mereka yang akan meninggalkannya, Pak Andhika bukannya marah tapi takut mereka tidak bisa berubah. Takut selamanya mereka tidak bisa diterima orang-orang. Ingatannya saat masih seusia mereka pun mulai terlintas di pikirannya. Apa boleh buat!

BRUAAAAAAAK! PRAAAK! Tiba-tiba terdengar suara gaduh yang membuat mereka semua langsung berhenti melangkah. Saat menoleh, mata mereka semua membelalak. Meja bekas di depan Pak Andhika terbelah dua! TERBELAH DUA, LHO! Sandra sampai menutup mulutnya melihat Pak Andhika yang masih terdiam dengan kepalanya yang masih menunduk di depan meja hancur itu. 

TEEEEEEEEET! TEEEET! Bel tanda pelajaran akan dimulai telah berbunyi memecah keheningan. Pak Andhika langsung mengangkat kepalanya. Matanya tajam menatap mereka, yang bikin mereka reflek melangkah mundur. Wajah mereka kompak meringis ngeri menatap Pak Andhika. Nih orang turunan monster mana sih? Kok bisa-bisanyaa muncul di sekolah ini?!

"Sudah waktunya masuk. Nanti pas istirahat kesini lagi ya. Bapak mau bicara sama kalian." Kata Pak Andhika dengan wajah senyum seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka semua langsung pada ngibrit berebutan keluar ruangan.

"Dia itu siapa, sih?! Orang gila, ya? Gue baru liat ada orang kayak Rambo gitu di sekolah ini!" Rendy masih merinding membayangkan Pak Andhika bisa membelah meja tadi.

"Heh, lo kan mantan ketua OSIS! Jawab tuh pertanyaannya!" Dimas menyikut Chandra yang sedang berjalan cepat di sebelahnya.

"Mana gue tau! Gue juga baru liat!" Chandra mengangkat bahu dengan cueknya.

"Te...terus...pas istirahat kalian mau dateng kan?" Suara Grace memang kecil, tapi bikin mereka semua menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah cewek bertubuh tambun itu. Grace langsung menunduk salah tingkah ditatap tajam oleh mereka. Tania maju mendekati Grace. Tentu saja dengan tampang sangat judes!

"Heh, harusnya lo mikir dong. Cowok itu nyeremin. Mosnter! Tadi aja tiba-tiba mukul meja bekas itu sampai terbelah dua! Mana mau gue dateng lagi?! Ya nggak sudi lah!" Tania langsung pergi setelah bicara judes begitu pada Grace. Sandra, Vian dan Rendy pun mengangguk setuju.

"Ta... tapi...."

"Kalo lo mau dateng, dateng aja sendiri! Jangan ngajak kita-kita!" Seru Dimas dengan nada tinggi seperti marah yang membuat Grace langsung menundukkan kepalanya lagi. Mana berani melihat Dimas yang wajahnya seram seseram setan? Matanya melihat mereka berjalan cepat meninggalkan dirinya sendirian. Lorong mulai sepi karena semua murid sudah pada masuk kelas masing-masing. Dengan langkah gontai, Grace berjalan menuju kelasnya.

Saya yakin, Bapak itu pasti punya niat baik untuk kami.

Pukul 10.15

Pak Andhika sempat bingung melihat cewek bertubuh gendut berhijab sedang berdiri mengintip-ngintip di depan pintu. Ia menghela napas. Sudah menduga aksi berbahayanya tadi malah justru bikin mereka ketakutan dan tidak sudi datang. Pak Andhika melambaikan tangannya pada gadis itu untuk menyuruhnya masuk. Dengan langkah canggung, cewek itu masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan Pak Andhika.

"Maaf, Pak. Saya...."

"Lho? Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah kok. Malah saya bingung kenapa kamu tetap datang kesini. Kamu...pasti ngeliat kan aksi ala Jackie chan saya tadi?"

"Sa... saya yakin bapak orang baik. Pasti... pasti bapak ngumpulin kami ada maksudnya. Bapak sudah mengajak saya bicara waktu itu, jadi... jadi...."

Lihat selengkapnya