Matahari semakin tenggelam di balik awan yang mulai mendung, membuat langit jadi berwarna oranye menuju gelap. Grace yang sadar ruangan menjadi gelap, langsung beranjak dari duduknya dan menyalakan lampu. Wajah Pak Andhika jadi terlihat semakin jelas, membuat Chandra menelan ludah. Penasaran sekaligus deg-degan. Sifat buruk apa yang bakal dikatakannya?
"Kamu ingat lomba makan baso hari Senin? Lawanmu... Grace ya?" Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Pak Andhika angkat bicara juga. Tapi sekalinya bicara, kali ini tidak cuma Chandra yang dibuat heran, Grace pun ikutan heran menatap Pak Andhika. Kenapa membahas hal itu?
"Inget, Pak. Emangnya kenapa dengan lomba itu?" Chandra tidak menyangka Pak Andhika tahu soal itu. Ia menduga pasti Pak Andhika melihat 'lomba' itu di suatu tempat yang tak ia sadari.
"Nggak. Bapak cuman bingung aja sebenarnya tujuanmu apa ngajakin Grace tanding makan?"
Chandra benar-benar mati kutu sekarang. Baginya, pertanyaan itu lebih susah daripada pertanyaan Pak Andre—guru Geografi yang terkenal paling suka memberikan soal super sulit. Chandra gigit bibir, bingung juga ditanya begitu. Ia sendiri tidak bisa mengerti kenapa saat itu ia mengajak Grace adu makan. Menurutnya, semua orang yang memegang gelar number one harus ditaklukan. Ya, hatinya lah yang menyuruhnya begitu.
"Hmm... kalau kamu nggak mau ngomong, biar Bapak aja yang ngomong, ya. Kamu... tipe orang ambisius. Punya keinginan memang bagus. Tapi kalau berlebihan, kamu bakal nyusahin teman-temanmu." Pak Andhika ngomong begitu dengan senyum lebar. Serasa puas dengan perkataannya ke Chandra tadi. Ya, Pak Andhika memang pantas puas. Hasil cari info soal mereka bertujuh sampai menyamar sana-sini plus bertanya bak detektif kemana-mana, memang membuahkan hasil! Pak Andhika melihat ekspresi Dimas, Tania, Vian dan kini Chandra sedang terdiam kaku. Seperti menyadari sesuatu yang selama ini tidak mereka sadari atau mungkin mereka tolak. Memang benar, Chandra sekarang sedang terpukul gara-gara perkataan Pak Andhika. Chandra menunduk diam, sukses besar bikin Sandra di sebelahnya jadi benar-benar ketakutan. Bapak ini peramal? Dukun? Ahli hipnotis? Atau apaan sih? Kok semuanya jadi pada diam begini? Jangan-jangan....
"Sandra."
"Ha... hape itu buat Bapak aja deh, nggak pa-pa! Permisi!" Sandra langsung beranjak dari duduknya siap ngibrit saking takutnya. Tapi sayangnya, tangan Pak Andhika dengan cepat menangkap pergelangan tangan Sandra.
"LEPASIN! TOLONG! TOLONG!"
"SANDRA! TENANG DULU!"
"NGGAK MAU! GUE MAU PULANG! TOLOOONG!" Suara Sandra lebih keras lagi dari Pak Andhika sampai Grace menutup telinganya. Namun, tidak ada yang berusaha menolong atau mencegah Sandra teriak-teriak. Vian, Tania, Dimas dan Chandra masih tenggelam dalam pikiran soal sikap mereka yang diungkap Pak Andhika. Sementara Rendy sedang penasaran dan merasa tertarik dengan 'kemampuan' Pak Andhika yang mampu 'menjinakkan' cowok sekelas Dimas yang terkenal temperamen banget. Grace sedang gigit jari bingung. Mau menolong, tapi tidak pe-de.
"Kamu mau teriak-teriak bagaimanapun percuma. Ini sudah jam lima lebih, dan pastinya udah nggak ada orang selain kita disini." Pak Andhika dengan sikap tenangnya berkata begitu. Sandra berhenti teriak-teriak. Kedua mata indahnya menatap pasrah jam dinding yang tergantung di depannya. Pak Andhika bisa merasakan tangan kanan Sandra yang ia pegang gemetar.
Kasian juga cewek ini. Wajar sih dia jadi takut abis liat Dimas dan yang lain jadi diem begitu.
Puk! Tiba-tiba, tangan lebar Pak Andhika menepuk lembut kepala Sandra yang membuat cewek itu menoleh kaget.
"Maaf, ya. Kamu takut ya. Bapak ajak kamu kesini sebenarnya mau bilang kalo Bapak ingin jadi pendengar paling baik buat kamu. Nggak cuma kamu, semua yang ada disini juga. Mungkin wajah Bapak memang bikin takut. Maaf karena itu udah bawaan lahir. Tapi, bapak benar-benar tulus pengen jadi orang yang menguatkanmu dan teman-teman yang ada disini. Bapak mohon, beri bapak kesempatan. Ya?"
Entah kenapa, Sandra merasakan sesuatu yang belum pernah ia terima dari siapapun. Perasaan hangat dan tulus ini baru pertama kali ia rasakan. Rasa takut karena melihat adegan ala Jackie Chan dan kata-katanya yang bikin teman-temannya terdiam tadi, hilang berganti senyum manis. Grace sampai terheran-heran. Baru kali ini ia melihat Sandra tersenyum. Grace tahu banget soal Sandra. Sandra sama sekali tidak pernah tersenyum tulus seperti itu. Senyumnya yang biasa Sandra tunjukkan hanya senyum kemenangan karena barang-barang mewahnya. Grace jadi penasaran juga. Ingin tahu gebrakan nyeleneh apalagi yang akan disuguhkan pria misterius itu. Pasti, perubahan untuk mereka menuju orang yang lebih baik seperti perkataannya.
Setelah Sandra sudah tenang, kini mata Pak Andhika menatap Rendy. Karena Rendy sedang asyik memikirkan 'keajaiban' pria itu, ia sampai tidak merespon walau Pak Andhika sudah memanggilnya berkali-kali. Akhirnya, Grace yang duduk di sebelahnya menepuk bahu Rendy. Sukses bikin cowok itu agak gelagapan.
"Kamu juga mau tau alasanmu dipanggil kesini?" Pak Andhika menatap dalam-dalam cowok berseragam asal dan berambut jabrik di depannya itu. Menurutnya, gaya Rendy persis banget dengan dirinya dulu. Tapi ia merasa Rendy masih jauh lebih baik dari dirinya di masa lalu.
"Tapi Pak. Jawab dulu pertanyaan saya, ya."
"Apa?"
"Kenapa Bapak nggak membeberkan sifat buruk Sandra? Padahal yaa pak sifat dia itu lebih jelas...."
"Rendy, bapak tidak perlu bilang karena kamu pasti udah tau kan? Jadi jangan menghakimi temanmu sendiri." Dengan tegas, Pak Andhika memotong perkataan Rendy. Rendy cemberut lalu tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"Kalo begitu saya permisi. Lagian juga sudah mau malam." Rendy berjalan santai membelakangi Pak Andhika menuju pintu.
"Kamu... tipe orang yang nggak pernah puas, ya."