Tak terasa sudah seminggu Heaven Club dibentuk. Entah sejak kapan anggotanya jadi rajin datang ke ruang klub. Terutama Vian, setiap istirahat dia selalu datang untuk menumpang tidur atau baca komik. Suasana di ruang klub sore ini benar-benar kaku karena masing-masing hanya melakukan aktivitasnya sendiri. Sandra sibuk membalas DM sosmed dari (yang katanya) fans-fans, Tania belajar bahasa Inggris karena minggu depan akan ikut lomba debat antar Provinsi, Chandra yang sedang sibuk belajar untuk ujian masuk Universitas Indonesia, dan Rendy yang sedang sibuk main game.
"Ngng... ngo... ngomong-ngomong... ngng... Pak Andhika kemana, ya?" Pertanyaan Grace yang terdengar ragu, bikin mereka jadi berpaling dari aktivitas masing-masing. Semua mata jadi tertuju ke arah Grace. Grace jadi kikuk sendiri, lalu menunduk saking mati gaya ditatap semua orang.
"Tadi, sih katanya ada perlu sama Dimas. Tuh si Dimas yang ngajak Pak Andhika. Kayaknya ada yang mau diomongin deh." Kata Chandra sambil membetulkan letak kacamatanya yang agak miring.
"Tapi, Pak Andhika tuh emang beneran hebat, ya! Nyadar nggak sih kalo kita akhir-akhir ini jadi kebiasaan kesini?" Rendy ikutan ngomong sambil mengambil sepuluh kukis milik Grace yang bikin cewek tambun itu marah-marah. Ya iyalah marah, soalnya dia ambilnya nggak kira-kira! Semuanya dong! Tania menutup buku bahasa Inggrisnya. Pikirannya mulai menerawang ke kejadian beberapa hari yang lalu. Setiap ia berniat kabur, Pak Andhika selalu saja menemukannya. Bahkan sampai Tania sembunyi semalaman di toilet pun, Pak Andhika tetap menunggunya. Itulah yang membuat Tania jadi kesal dan mau tak mau harus selalu datang ke ruang klub.
"Mungkin Dimas lagi curhat sama Pak Andhika kali, ya. Akhir-akhir ini Dimas udah jarang marah-marah, kan?" Sandra jadi ikut menimbrung walau matanya tetap menatap layar hp. Memang sih. Pak Andhika selalu bilang ke semua anggota klubnya, kalau ada yang merasa ingin curhat padanya, ia siap dua puluh empat jam menerima curhatan mereka. Mungkin, karena itulah mereka tanpa sadar menganggap Heaven Club sebagai rumah bagi mereka. Tempat satu-satunya bagi mereka untuk bisa menjadi diri sendiri dengan lebih bebas.
**********
Memang benar, Pak Andhika sekarang ini sedang bersama Dimas di atap sekolah. Sudah beberapa menit berlalu, tetap tidak ada pembicaraan dari Dimas maupun dari Pak Andhika. Dimas cuma diam menatap lapangan basket di bawahnya yang kini ramai dengan teman-teman klub basket yang sedang latihan. Rokok yang dihisap Pak Andhika daritadi pun sampai tinggal setengah saking bosannya. Akhirnya Pak Andhika memutuskan untuk mendekati Dimas.
Puk!
Dimas langsung membalikan badannya saking kagetnya. Hoo, Pak Andhika toh. Sambil merokok, Pak Andhika ikut memandang lapangan basket yang daritadi dilihat Dimas.
"Kamu kangen ya sama mereka?" Akhirnya Pak Andhika angkat bicara sambil memandang Dimas. Cowok berbadan tegap itu hanya diam dengan mata lurus tajam memandang lapangan basket. Tangannya yang lebar mencengkeram kawat jaring dengan kuat.
Puk! Puk! Pak Andhika menepuk bahu Dimas sekali lagi, yang kali ini untuk menenangkan hatinya. Pak Andhika tahu pasti saat ini hati Dimas sedang sedih dan sakit karena pemecatan sepihak dari pelatihnya. Terlihat jelas wajah Dimas yang sedang menahan kesal-amarah-murka di mata Pak Andhika.
"Kamu bisa kok kembali kesana lagi."
Seketika itu wajah Dimas kini teralihkan dari lapangan basket dan memandang tajam ke arah Pak Andhika. Namun, tatapan tajam Dimas sama sekali tidak mempengaruhi Pak Andhika. Buktinya, ia malah santai sekali menyandarkan tubuh bidangnya di kawat berjaring. Bahkan menyalakan rokok keduanya!
"Saya... saya ingin berubah, Pak. Apa saya bisa?" Akhirnya Dimas bicara juga setelah sekian lama terdiam. Pak Andhika langsung memutar kepalanya ke arah Dimas. Pak Andhika tersenyum. Akhirnya, Dimas punya keinginan juga untuk berubah. Pak Andhika membuang rokoknya yang masih lumayan panjang, lalu menatap dalam wajah Dimas.
"Seburuk apapun sifat seseorang, kalo ada keinginan untuk berubah pasti bisa kok." Kata Pak Andhika bijak. Ia melihat wajah Dimas seketika itu mendadak cerah seperti senang. Ini pertama kalinya selama seminggu ini Pak Andhika melihat senyum Dimas walaupun tipis.
"Sekarang, kamu mau cerita kenapa kamu bisa jadi seperti ini? Karena Bapak yakin kamu bukan tipe orang yang begini. Semua sifat yang lahir pasti ada sebabnya. Tenang aja, bapak pasti bantu kamu sebisa mungkin!" Pak Andhika menepuk dadanya dengan gestur sok keren. Dan akibatnya, Pak Andhika batuk-batuk gara-gara terlalu kuat memukul dadanya. Dalam hati, Dimas merasa agak lucu melihat tingkah Pak Andhika yang jauh berbeda dengan guru-guru yang ia tahu. Dimas jadi semakin yakin, cuma Pak Andhika saja yang bisa menolongnya. Yah, walaupun belum jelas siapa pria dewasa nan macho di depannya ini.
"Saya... jadi begini... mungkin... karena kejadian empat tahun yang lalu."
Empat tahun yang lalu....
Dimas memandangi piagam penghargaan dari sekolah dengan perasaan bangga dan wajah berseri-seri senang. Dimas pantas merasa bangga karena menjadi juara sekaligus MVP dalam pertandingan basket antar SMP se-kota Bandung. Dimas yang bertubuh jangkung sejak SD memang merasa cocok jadi pemain basket. Namun saat tiba di rumahnya yang besar, yang menyambutnya cuma Mbok Nah—pembantu di rumahnya yang mengurus segala urusan rumah tangga. Ya, orang tua Dimas pekerja sukses. Mamanya seorang arsitek terkenal yang selalu merancang mall-mall di Jakarta dan Bandung. Sedangkan papanya pengusaha real estate di Bandung. Wajah berseri-seri Dimas langsung cemberut melihat rumahnya yang sepi.
"Den Dimas, mau makan siang? Mbok udah siapin." Kata Mbok Nah sambil menurunkan tas sekolah Dimas.
"Nggak apa-apa Mbok. Biar Dimas aja yang taruh tasnya di kamar, ya." Dimas menahan tangan Mbok Nah yang akan mengambil tasnya. Ya, walaupun Dimas anak tunggal dan kaya raya, dia tidak manja. Apa pun yang bisa dilakukan sendiri, akan ia lakukan sendiri.
Yaah, kalo gitu aku tunggu mama sama papa sampai pulang, deh! Dimas senyam-senyum membayangkan bakal dapat banjir pujian dari Papa dan Mamanya.
Dimas langsung terbangun saat mendengar suara pintu dibuka. Ia mengucek-ngucek matanya dan melihat jam besar yang berdiri di sebelah TV. Niatnya untuk menunggu orang tuanya sampai pulang, malah ketiduran di ruang keluarga saat menonton TV. Tapi, wajahnya langsung cerah saat melihat wajah Mama dan Papanya.
"Mamaaa! Papaa!" wajah Dimas terlihat sumringah sekali saat menghampiri mereka. Namun, ekspresi kaget Mama dan Papanya yang ia terima. Mereka berpikir sudah jam segini kenapa putera tunggalnya ini belum tidur?
"Dimas! Ngapain kamu jam segini belum tidur?! Ini udah jam sebelas! Kalo besok kamu terlambat sekolah gimana?!" Mama bentak-bentak Dimas yang bikin jantungnya serasa akan lepas.
"Mbok Naah! Mbok Naaah!" Suara Papa yang memanggil Mbok Nah sangat menggelegar bagai petir di siang bolong. Sangat keras suaranya! Saat itu juga, Mbok Nah yang sudah lumayan tua langsung datang tergopoh-gopoh menghadap orang tua Dimas dengan nafas memburu.
"Iya, Tuan ada apa?"
"Kenapa Dimas belum tidur jam segini? Kamu tau kan jadwal tidur Dimas itu jam sembilan?" Papa Dimas memelototi Mbok Nah. Nada bicaranya juga tinggi. Hiii! Bikin Dimas merinding ketakutan melihat Papa.
"Maaf, Tuan. Saya memang sudah menyuruhnya untuk tidur tapi...."
"Pah! Mbok Nah jangan dimarahin. Memang Dimas yang minta buat...."
BUGH! Ayah Dimas tiba-tiba memukul bahunya dengan keras yang membuat Dimas terdiam dengan mata membulat saking kagetnya. Hatinya bertanya-tanya kenapa Papanya memukulnya? Namun tentu saja ia tidak akan pernah menerima jawabannya.
"Dimas, sekarang kamu tidur sana!" Perintah Mama.
Walaupun nada bicara Mama dan Papanya sudah sangat menakutkan seperti ini, Dimas tidak ingin menyerah. Setidaknya, untuk satu tujuan itu!
"Maah... Paah... Dimas belum tidur karena mau nunjukin ini...." nada bicara Dimas bergetar-getar plus dengan mata berkaca-kaca menahan tangis dan sakit. Tangan Dimas juga ikut gemetar saat mengulurkan piagam penghargaan itu ke arah Mama dan Papanya. Dengan kasar, Papa Dimas mengambil piagam itu dari tangan Dimas. Tapi sayangnya bukan pujian atau rasa bangga yang diterima, malah bentakan kekesalan dari orang tuanya! Memang sih, orang tua Dimas sangat tidak suka kalau puteranya ini ikut klub olahraga.
"Dimas, papa kan udah bilang jangan ikut klub nggak berguna kayak olahraga? KENAPA KAMU MALAH IKUT KLUB BASKET?!" Papa membuang piagam itu ke lantai. Mama Dimas memungut piagam itu dan seketika itu mata Mama membulat lalu melotot menatap Dimas.
"Apa? Basket?! Dimas, mama kan udah lesin kamu bahasa Jerman dan les Akuntansi! Buat apa kamu ikut basket?! Mama nggak mau tau, pokoknya kamu keluar dari klub basket! Besok Mama sama Papa bakal ke sekolah!" Mama menambahkan luka di hati Dimas, lalu melenggang pergi sambil memijit keningnya. Papa juga ikut naik ke atas sambil melepas jasnya. Mbok Nah langsung menghampiri Dimas dan melihat anak itu sudah banjir air mata. Kasian Dimas.
"Den Dimas...."