Heaven Club

A.M.E chan
Chapter #5

Pride is the Best

Hari ini semua anggota Heaven Club kecuali Dimas sedang bersih-bersih. Tentu saja bukan karena inisiatif mereka sendiri, tapi karena disuruh Pak Andhika. Ya, Pak Andhika masih kesal karena kemarin mereka meninggalkan ruang klub sekaligus tempat tinggal baginya itu dalam keadaan kotor. Mereka memang sadar kalau kemarin sudah mengotori ruang klub. Tapi, melihat Pak Andhika sama sekali tidak membantu mereka dan hanya ongkang kaki sambil main hp, lama-lama bikin Tania kesal juga.

“Pak! Seenggaknya Bapak bantuin kita dong! Biar cepet selesai!” Tania berkacak pinggang melotot ke arah Pak Andhika. Tapi yang dipelototi, berwajah cuek tidak peduli dan malah kembali fokus ke hp androidnya sambil menggerakan jemarinya ke layar. Tangan kanannya pun memegang es krim pula!

“Kan kalian yang berantakin ruangan. Siapa yang melakukan, dia yang harus bertanggung jawab.”

Rasanya, Chandra dan Tania ingin sekali melempar wajah merasa tak berdosa Pak Andhika yang kini sedang mengarah ke hp android, dengan kemonceng dan sapu yang sedang mereka pegang. Tapi, nada dering ponsel yang terdengar dari arah Sandra, membuat mereka harus mengurungkan niatnya. Karena Pak Andhika langsung ikut menoleh ke arah sumber suara. Sandra buru-buru mengeluarkan Iphone terbaru dari kantong kemeja dan menatap layarnya. Yes! Gue bisa kabur! Seketika itu wajah Sandra jadi sumringah dan meninggalkan ruangan sambil menelepon dengan nada centil.

*********

Sandra berjalan tak menentu arah menerima telpon dari Andri—salah satu fansnya yang paling rajin menelepon Sandra. Biasanya, Sandra bakal kesal dan marah-marah menerima telepon dari dia karena sangat mengganggu. Tapi kali ini justru sebaliknya, dialah penyelamatnya dari acara kerja rodi membersihkan ruangan yang diluar dugaan super duper kotor! Langkahnya tidak sengaja berhenti di depan lapangan basket. Matanya reflek memandang ke arah lapangan, yang membuat kelopak matanya terbuka lebih lebar. Ia sampai terdiam beberapa saat, sampai Andri yang memanggil namanya berkali-kali pun tak ia gubris. Bukan karena melihat cowok ganteng di tim basket itu. Bukan juga karena melihat aksi salah satu pemain basket yang keren. Tapi karena ada Dimas di lapangan. Sandra heran karena berita pemecatan Dimas dari tim basket sudah menyebar kemana-mana dan tentu saja ia tahu hal itu. Tapi, bukan itu yang bikin Sandra sampai diam terpaku. Ekspresi wajah Dimas yang ceria dan terlihat sangat bersinar itulah yang bikin Sandra jadi terheran-heran. Baru kali ini ia melihat Dimas tersenyum seindah itu. Pantas saja akhir-akhir ini Dimas sudah jarang datang ke ruang klub. Sandra sampai menurunkan tangannya yang memegang Iphone. Senyum tipis mulai terukir di bibirnya. Instingnya mengatakan pasti ada peran Pak Andhika yang bikin Dimas bisa berubah seperti ini. Sandra mematikan sambungan telepon yang terus saja berisik memanggil namanya. Ia berbalik melangkah dengan cepat menuju ruang klub untuk mengutarakan keinginannya curhat ke Pak Andhika. Ia yakin karena selama ini merasa instingnya tidak pernah salah.

Sabtu, pukul 15.00

Setelah kemarin Pak Andhika bilang ke semua anggota Heaven Club bahwa hari ini tidak perlu datang ke ruang klub, ia mengajak Sandra ke atap sekolah. Sandra agak bingung kenapa Pak Andhika mengajaknya kesini? Sandra memang sudah yakin pada instingnya bahwa cuma Pak Andhika saja yang mungkin bisa membantunya mengatasi kegelisahan yang selama ini mengganggunya. Tapi, saat melihat jelas wajah Pak Andhika yang bertampang begal, entah kenapa keyakinan besarnya tadi mendadak ciut.

“Katanya mau curhat, kok malah diem? Santai aja, anggap aja Bapak ini temanmu atau kakakmu. Bapak pernah bilang kan sama kamu sebelumnya?” Pak Andhika duduk di sebelah Sandra lalu mengambil sebatang rokok dari kantung jaketnya dan menyalakannya. Tapi, saat melihat Sandra mengibas-ngibaskan tangan untuk menghalau asap yang mendatanginya, Pak Andhika buru-buru mematikan rokoknya dan minta maaf. Sandra menggeleng cepat, lalu mengeluarkan Iphone dari kantong kemejanya.

“Sebenarnya... akhir-akhir ini saya lagi diteror, Pak....” Sandra mengulurkan Iphone nya pada Pak Andhika. Pak Andhika membaca pesan Whatsapp penuh teror dengan kata-kata yang sangat tak pantas diucapkan oleh anak SMA. Sebenarnya, Pak Andhika tidak begitu kaget mendengar Sandra dapat teror. Menurutnya, wajar kalau Sandra mendapat teror karena sikap sombongnya itu. Tapi melihat raut wajah Sandra seperti ketakutan dan merasa terganggu, Pak Andhika jadi kesal juga pada si peneror itu. Setidaknya, bicaralah langsung pada Sandra dengan jantan! Begitulah pikirnya.

“Terus? Kamu tau kenapa dia sampai neror kamu?” Pak Andhika pura-pura tidak mengerti alasan Sandra bisa diteror. Ini untuk menguji apakah Sandra sadar akan sikapnya. Ternyata, Sandra menggeleng lemah.

“Saya nggak tau, Pak. Saya merasa... saya nggak pernah bikin masalah sama orang. Saya juga nggak pernah berantem sama teman-teman sekelas saya atau orang yang saya kenal. Kenapa sih si peneror sialan itu tega banget sama saya? Saya salah apa coba?!” Sandra menggebu-gebu mengeluarkan semua kekesalannya selama ini. Wajar Sandra merasa kesal, karena sudah sebulan Sandra diteror seperti itu. Pak Andhika agak kaget ternyata Sandra tidak sadar akan sikapnya sendiri! Ternyata walau perasa dan mudah tersinggung, Sandra tipe tidak peka. Pak Andhika manggut-manggut lalu beranjak dari duduknya dalam diam, dan melangkah sebentar. Wajahnya ia arahkan ke langit sore cerah di atasnya. Melihat reaksi sang pembina Heaven Club cuma seperti itu, Sandra merasa pesimis. Mungkin kali ini instingnya salah. Mungkin Pak Andhika tidak bisa membantunya. Ya iyalah! Orang asing yang tidak jelas asal-usulnya ini. Mau berharap apa?

“Besok kamu ada acara?”

Sandra bengong tiba-tiba ditanya begitu. Ini pertanyaan kebingungannya yang kedua setelah kebingungannya kenapa Pak Andhika mengajaknya kesini hanya untuk curhat, belum terjawab. Untuk apa menanyakan kegiatan pribadi siswa? Tapi, Sandra buru-buru menepis pertanyaan kebingungannya itu. Kepalanya ia miringkan ke kanan menerawang untuk hari esok. Besok hari Minggu, dan di hari itu ada acara kumpul-kumpul rutin bareng teman-teman elitnya yang ia kenal di tempat les bahasa Inggris. Namun, melihat punggung Pak Andhika yang terlihat tegap menggambarkan sosoknya yang berhasil mengubah Dimas jadi bersinar cerah seperti itu, Sandra memutuskan untuk percaya padanya dan membatalkan acara rutinnya.

“Nggak, Pak nggak ada. Emangnya kenapa?”

Pak Andhika tersenyum tipis tanpa disadari Sandra. Ia mengambil sebatang rokok lalu mengulumnya. Tiba-tiba ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan berbalik menghadap Sandra dengan wajah senyum tengilnya.

“Bapak pengen bikin revolusi buat kamu!”

HAAH?! Sandra reflek mangap dalam kebingungan. Pertanyaan kebingungannya bertambah menjadi tiga. Revolusi? Memangnya Pak Andhika ingin bikin revolusi Prancis part dua apa? Namun, lagi-lagi Sandra tidak bisa terlalu dalam memikirkan kebingungannya itu, karena Pak Andhika mulai bicara lagi.

“Oke kalo kamu nggak ada acara, besok pagi Bapak jemput kamu ke rumah. Nah, Bapak minta nomer hp orang tuamu, ya.”

Pertanyaan kebingungan keempat untuk Sandra. Sandra sampai terdiam memikirkan besok pria bertampang preman-begal profesional ini bakal menjemputnya ke rumah. Untuk apa? Mau diajak kemana? Terus, nomer hp orang tuanya itu mau dipakai untuk apa?

Aaah! Sandra semakin pusing memikirkannya. Ia tidak mau lebih pusing dari ini, dan langsung ia kasih lihat nomer hp orang tuanya. Pak Andhika menerima Iphone yang diulurkan Sandra lalu mencatatnya di hp androidnya. Sandra memandangi Pak Andhika yang sedang menunjukkan raut serius, walau senyum menghiasi wajahnya. Ia yakin pasti ini salah satu rencana Pak Andhika untuk revolusi yang tadi ia bilang.

“Makasih. Besok bapak jemput kamu, jadi jangan telat ya. Nah, sekarang udah sore banget, kamu pulang aja ya sebelum gelap.” Kata Pak Andhika lalu mendorong pelan tubuh Sandra. Sandra hanya terdiam menurut lalu keluar meninggalkan Pak Andhika sendiri. Lagi-lagi, senyum tipis terukir di wajahnya. Ia memandangi tiga nomer yang sudah ia simpan di hpnya.

Besok bakal jadi hari yang nggak disangka-sangka Sandra, nih.


Minggu, pukul 09.15

Seperti yang ia duga sebelumnya. Begitu ia tiba di depan rumah Sandra yang besar, Pak Andhika agak keki melihat Sandra. Dugaannya Sandra bakal pakai baju bagus dengan aksesorisnya yang beraneka ragam bagai ondel-ondel memang tepat! Bahkan super duper tepat! Pak Andhika sampai membandingkan dirinya yang cuma memakai kaos oblong putih dipadu jaket biru, berbanding terbalik dengan baju mewah, sepatu, dan tas Sandra.

Kok rasanya gue udah kayak sopir sama majikan aja, ya? Begitulah rutukan Pak Andhika dalam hatinya.

“Kenapa, Pak? Kok Bapak diem?” Sandra merasa risih dirinya diperhatikan dalam-dalam oleh Pak Andhika. Tapi tentu saja bukan Pak Andhika namanya kalau langsung berlagak panik saat ditodong pertanyaan seperti itu. Pak Andhika tetap bersikap tenang seperti biasanya.

“Nggak, kok. Bapak cuma kepikiran sesuatu.” Pak Andhika pintar juga mencari alasan, karena Sandra menggangguk cuek menerima perkataan Pak Andhika.

Selama perjalanan, Pak Andhika masih terbayang perkataan Ayah Sandra saat meneleponnya kemarin. Niatnya menelepon sih sebenarnya cuma minta izin untuk menyadarkan sifat Sandra dengan membawanya ke suatu tempat. Namun di luar dugaan, respon ayah Sandra ternyata sangat positif! Ayah Sandra juga sudah angkat tangan dengan sikap Sandra yang selalu minta uang banyak untuk beli barang-barang mahal keinginan putri semata wayangnya itu. Mengantongi izin dari Ayah Sandra, Pak Andhika jadi makin semangat menjalankan ‘misi revolusi Sandra’.

“Pak, saya udah tau lho Bapak mau ngajak saya kemana. Bapak mau ngajak saya ke tempat si peneror itu, kan? Saya udah pake nih semua yang paling mahal yang saya punya! Biar tau rasa tuh orang! Dia pasti ngiri karena saya orang kaya!” Sandra berapi-api mengungkapkan dugaannya sekaligus kekesalannya. Tapi, respon Pak Andhika malah tertawa terbahak-bahak.

Hah? Sandra jadi bengong melihat Pak Andhika tertawa lebar. Memangnya ada yang salah dengan perkataannya?

“Sandra, Sandra. Memangnya kamu pikir Bapak ini detektif apa? Bisa sampe tau pelakunya? Yaa nggak lah!” Pak Andhika masih tidak bisa menahan tawanya sampai melirik sebentar ke arah Sandra. Ia melihat wajah Sandra seketika itu cemberut karena dugaannya salah total.

“Terus, sebenarnya Bapak tuh mau ngajak saya kemana? Ah! Jangan-jangan....” Wajah Sandra seketika itu jadi memucat memandang wajah Pak Andhika yang memang berstruktur agak keras.

“Macem-macem sama kamu gitu? Mana mungkiiin! Pokoknya nanti kamu bakal tau deh. Ini kejutan buat kamu. Ah, oia! Bajumu itu kurang cocok. Tapi tenang aja, Bapak udah beliin kamu baju yang lebih cocok.”

Lihat selengkapnya