Senin, pukul 14.15
Sandra masih saja menceritakan kebahagiaannya, kini sudah terbebas dari peneror. Grace cuma bisa menatap bengong Sandra yang sedang asyik bercerita dengan raut wajah ceria. Ini Sandra? Sandra yang sombong itu? Begitulah hati Grace berbicara sekarang. Pak Andhika tersenyum tipis dari balik hp androidnya. Otaknya sekarang ini sedang memutar kejadian kemarin malam, saat menelepon Riyanti-- pelaku yang selama ini meneror Sandra. Terungkap alasan Riyanti meneror Sandra, karena dia mempermalukan dirinya di depan semua orang cuma karena tasnya yang kebetulan sama. Ya. Gadis yang dilucuti tasnya oleh Sandra pagi hari beberapa minggu yang lalu.
Namun, yang terpenting teror sudah berakhir. Sandra benar-benar meminta maaf padanya, dan Riyanti pun memaafkannya. Tentu saja Pak Andhika masih merahasiakan pelakunya dari Sandra. Chandra hanya diam terpaku memandang Sandra saking herannya. Selain karena sudah tidak ada lagi keributan jam tujuh pagi seperti biasanya, yang bikin Chandra terheran-heran adalah aksesoris bejibun nya yang sekarang sudah tidak dipakai lagi! Hati Chandra tak henti-hentinya kagum melihat perubahan drastis Sandra. Sandra yang sekarang dilihatnya sangat sederhana sekali! Matanya yang tadi terus memandang keceriaan Sandra, kini melirik ke arah Pak Andhika. Tentu saja Pak Andhika tidak sadar karena matanya sedang asyik menatap layar hp sambil senyum-ssenyum.
Ngapain sih dia? Begitulah batin Chandra.
"Duuh, udah deh! Lo tuh udah cerita itu sampai sepuluh kali tau! Bosen niih!" Bentakan Tania sampai bikin Pak Andhika mengalihkan pandangannya dari hp. Chandra yang tadi sibuk memikirkan perubahan ajaib Sandra pun, jadi buyar semua dan kini menatap Tania. Sandra pun jadi terdiam menahan malu dan kesal. Rasa ingin memuntir bibirnya yang suka nyolot itu saking kesalnya Sandra.
"Heh! Suka-suka gue dong, gue mau cerita berapa kali! Muka lo tuh yang harusnya dibenerin! Jangan cemberut aja!"
"APA LO BILANG?!"
"Hei! Hei! Tania! Sandra! Jangan berantem!" Pak Andhika langsung meletakkan hpnya dan buru-buru mendatangi mereka berdua. Hampir saja mereka bakal adu jambak-adu cubit pipi-adu cakar-cakaran, kalau saja Pak Andhika tidak cepat-cepat melerai mereka. Sandra yang tadinya sumringah, jadi cemberut. Dimas yang kebetulan libur dari kegiatan basketnya, cuma tertawa melihat mereka. Sedangkan Vian masih tertidur pulas seperti tidak terpengaruh suara melengking Tania dan Sandra. Beneran juara sih Vian kalau soal tidur!
Vian bisa saja tidak terpengaruh, tapi Chandra tidak bisa. Dari awal kedatangannya karena diajak (lebih tepatnya sih dipaksa) masuk Heaven Club, Chandra tidak habis pikir. Kenapa dirinya 'terpilih' dan diajak? Reputasinya sebagai mantan ketua OSIS yang berwibawa, oke-oke saja. Predikat juara kelas pun masih ia pertahankan. Segudang prestasi terus ia raih. Apapun yang dia inginkan, pasti bisa terwujud. Terus kenapa? Apa... karena 'ambisius' yang dibilang Pak Andhika waktu itu? Aaargh! Chandra mengacak-acak rambutnya saking kepalanya tidak sanggup memberikan jawaban atas pertanyaan batinnya.
"Lo kenapa sih, Ndra?" Dimas heran melihat Chandra yang sudah seperti orang stres. Rendy yang daritadi tidak ada suaranya karena asyik main game di hp, sampai mengalihkan matanya dari hp saking penasaran. Chandra menoleh kaget ke arah Dimas, begitu juga dengan semua pasang mata yang kini ikut menatapnya.
"Nggak, gue nggak pa-pa."
"Kalo sakit, mending kak Chandra pulang aja." Grace sampai menatapnya dengan raut khawatir. Wajah Chandra yang biasanya berkarisma dan terlihat silau di matanya, kini seperti suram. Seperti memikirkan sesuatu yang berat sekali. Lagi-lagi, Pak Andhika tersenyum tipis. Ia berpikir, pasti ada sesuatu yang sedang mengganjal hatinya. Sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan terang-terangan.
"Ya! Oke anak-anak! Kalian boleh pulang!" Seru Pak Andhika dengan raut wajah semangat seperti biasa. Tapi, mereka malah bingung. Biasanya mereka baru diizinkan pulang jam lima.
"Lho? Kok tumben?" Vian yang jarang ngomong pun sampai terbangun sambil mengucek mata.
"Iya, Vian. Hari ini Bapak mau ada acara. Oia, Chandra! Kemarin kamu ngotorin meja lagi, kan? Hari ini kamu Bapak hukum bersihin ruangan sendirian!" Perkataan Pak Andhika yang seenak jidat ini, bikin Chandra kini bengong dan kesal. Kemarin rasanya ia tidak makan atau minum di ruangan. Chandra melihat anggota Heaven Club yang lain cekikikan—mungkin merasa senang karena bebas tugas piket.
Huh, sialan Pak Andhika! Rutuk Chandra dalam hati.
Saat semua sudah keluar dari ruangan, Pak Andhika masih diam berdiri menatap pintu yang terbuka lebar. Ini saatnya Chandra marah-marah. Minta penjelasan maksud tuduhan tidak terbukti tadi.
"PAK! KOK CUMA SAYA YANG...."
"Nah, kamu bisa cerita sekarang."
"Hah?!" Emosi Chandra jadi surut drastis berganti kebingungan mendengar perkataan pria berkarakter 'ajaib' di depannya itu. Pak Andhika membalikkan badannya sambil mengambil sebatang rokok dari kantung kemejanya. Rokok itu ia kulum sebentar lalu ia nyalakan api pada rokok itu.
"Bapak tau dari raut wajah kamu. Pasti ada sesuatu yang pengen kamu bilang, kan? Nggak pa-pa, bilang aja sama Bapak."
Chandra benar-benar tidak habis pikir dengan Pak Andhika. Dukun bukan cenayang bukan, tapi dia bisa tahu dengan tepat kalau dirinya memang sedang kepikiran sesuatu.
Ya, udahlah gue ngomong aja.
"Saya masih nggak ngerti kenapa Bapak 'memilih' saya untuk masuk klub ini? Waktu itu Bapak pernah bilang kalo saya orangnya ambisius. Okelah saya ngerti kalo Bapak ngajak Sandra atau Dimas. Tapi saya? Emangnya... ambisius itu... sifat yang dilarang?" Chandra memainkan kedua telunjuk dan jari tengahnya saat berkata 'memilih'.
Pak Andhika terdiam mendengar pernyataan Chandra. Ia tahu Chandra sedang bingung. Menurutnya, Chandra memang belum sadar dampak dari sikapnya selama ini. Pak Andhika melangkah pelan mendekati Chandra, lalu menepuk pundaknya pelan.
"Kamu duduk dulu, ya. Bapak bikinin teh." Ketenangan Pak Andhika seperti tersampaikan ke hati Chandra. Buktinya, Chandra hanya mengangguk lalu duduk di kursinya. Matanya terus memandang Pak Andhika yang sedang membuat teh sambil nyanyi dangdut tidak jelas. Saat teh hangat sudah tersaji di depan mata Chandra, Pak Andhika duduk menghadap cowok berwajah manis itu. Sorot mata Pak Andhika yang tajam tidak lepas menatap dirinya. Bikin Chandra merasa tidak nyaman dan menelan ludah berkali-kali.
"Hmm... sebenernya sih punya ambisi itu bagus kok. Malah, setiap orang harus punya ambisi supaya bisa menghadapi hidup sekeras apapun."
"TERUS KENAPA? KENAPA BAPAK NGAJAK SAYA KALO SAYA NGGAK PUNYA SIKAP JELEK?"
"Ambisius itu ada dua tipe." Pak Andhika tetap pada sikapnya yang tenang, walaupun Chandra sudah sedemikian emosi. Lagi-lagi, Chandra dibuat diam terpaku. Dengan isyarat empat jarinya yang naik turun, Pak Andhika menyuruh Chandra kembali duduk. Cowok berkacamata itu lalu menarik kursinya dan kembali duduk. Pak Andhika menghela napas panjang sebelum menjelaskannya pada Chandra. Sejak awal 'mengintai' para anggota Heaven Club, ia sudah hapal karakter mereka. Karakter Chandra yang tidak sabaran seperti ini, memang harus ekstra tenang menghadapinya.
"Ambisius itu ada tipe positif dan negatif. Tipe positif itu tipe orang yang memang punya ambisi, tapi tipe ini tetap pada jalan yang benar. Artinya, untuk menggapai apa yang diinginkan, tipe positif ini akan pake cara sehat. Nah, tipe yang negatif sebaliknya, bahkan mungkin ada yang lebih parah. Tipe negatif bakal pake segala cara mau itu buruk atau baik cuma buat memenuhi keinginannya."
DEG! Rasanya Chandra seperti ditampar bolak-balik oleh Pak Andhika. Pikirannya jadi menerawang ke kejadian-kejadian lalu. Memang, semua prestasi yang dia raih ini sebenarnya banyak yang pakai cara kotor bahkan curang! Wajahnya yang tadi menatap garang Pak Andhika, kini menunduk. Ia merasa tidak menutup kemungkinan Pak Andhika juga sudah tahu semua cara kotor yang ia pakai untuk meraih prestasinya.
"Jadi... Bapak... mau mengancam saya, ya?" Chandra jadi merasa agak takut. Pikiran negatif soal Pak Andhika yang pasti bakal mengadu ke Kepala Sekolah mulai menjalar di hatinya. Namun, Pak Andhika sama sekali tidak berpikir begitu. Malah ia bingung dengan perkataan Chandra. Ia memang tahu semua prestasi Chandra banyak yang diraih dengan cara yang tidak sehat. Tapi, mengancam? Untuk apa?
"Maksud kamu?"
"Udah, deh Bapak nggak usah pura-pura! Bapak pasti udah tau kan kalo saya sengaja manipulasi surat suara saat pemilihan ketua OSIS? Saya juga menjegal Vian biar saya bisa rangking satu. Terus, saya juga suruh temen buat bikin sakit perut si Sandy, lawan saya saat olimpiade Matematika. Bapak udah tau itu semua, kan?!" Napas Chandra sampai naik turun menghadapi pria yang kini hanya diam. Matanya melotot menatap Pak Andhika yang masih saja bersikap tenang seperti tidak terpengaruh dengan emosinya. Pak Andhika tersenyum tipis. Semua yang dibeberkan Chandra memang benar seperti yang ia tahu dari hasil penyelidikan sana-sini. Bagi Pak Andhika pun, itu sudah cukup membuktikan kalau hasil penyelidikannya memang tepat!
"PAK!"
"Nah, gimana? Sekarang kamu sudah enakan?"
"Haaah?" Mata Chandra semakin membulat. Kini, matanya mendelik ke atas seperti berpikir. Memang setelah bilang begitu, entah kenapa hatinya yang tadi merasa gelisah, jadi agak tenang. Rasanya semua unek-unek yang ingin dikeluarkan, sudah hilang semua. Pak Andhika lagi-lagi tersenyum melihat Chandra yang terdiam. Kacamatanya yang melorot pun sampai tidak ia gubris. Lalu setelah itu, malah muncul butir-butir air mata di wajah Chandra. Pak Andhika sampai kaget melihatnya.
"Lho? Kamu kenapa?!" Pak Andhika buru-buru mengobrak-abrik semua isi tasnya untuk mencari tisu. Agak lama karena ia jarang sekali memakai tisu. Pak Andhika sudah menyerah tidak menemukan tisu, dan terpaksa memberikan lap kaca pada Chandra.
Doeeng! Chandra ingin tertawa melihat raut khawatir Pak Andhika yang mengulurkan lap kaca kotor padanya. Akhirnya Chandra cuma tersenyum tipis mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Saya... ngelakuin ini semua... demi... Ibu...."
Wajahnya ia tundukkan karena tidak mau Pak Andhika semakin khawatir melihat raut sedihnya. Dalam hati, Pak Andhika semakin penasaran. Ia yakin semua sikap buruk pasti ada sebabnya, dan ia ingin menolong Chandra. Apalagi karena alasan mulianya yang mengaku kalau semua ini demi ibunya. Pak Andhika menghirup kopinya yang sudah agak dingin sampai tandas, lalu sorot matanya kembali tajam.