Berita soal Chandra yang melakukan kecurangan untuk menjadi ketua OSIS tahun lalu, mulai menyebar luas dua hari kemudian. Bisikan-bisikan sinis yang mengatakan bahwa Chandra ternyata berbuat curang untuk meraih prestasinya, mulai jadi topik hangat siswa-siswa dari kelas satu sampai kelas tiga! Walaupun Chandra sedang ramai dibicarakan, ia tetap meminta maaf kepada Vian, dan Vian memaafkannya walau dengan ogah-ogahan. Dalam hati Vian, sebenarnya masih ada sedikit luka karena perbuatan Chandra dulu. Masa lalu saat ia masih kelas dua, Chandra selalu berusaha menyudutkannya. Entah memfitnahnya mencontek saat ulangan, atau memberitahu guru saat ia diam-diam baca komik di tengah pelajaran. Namun, dia memutuskan untuk cuek. Sejak penjegalan Chandra dan hal lain, Vian jadi malas melakukan apapun. Mau tidur, baca komik, atau jalan-jalan tidak jelas, dia tidak peduli. Pikirnya, buat apa punya semangat kalau hanya mengundang orang untuk menyakiti hatinya? Capek, bro! Mata malas Vian kini menatap Chandra yang sedang serius berkutat pada buku setebal bantal yang tulisannya 'Persiapan Masuk Universitas Negeri'. Sepertinya, Chandra tidak peduli dengan bisikan-bisikan jelek soal dirinya. Pikir Vian, mungkin karena keempat sahabat Chandra masih mau berteman dengannya.
Huh, harusnya orang kayak dia tuh nggak pantes punya temen!
"Vian?"
Mata Vian yang sangat terlihat sayu dan malas, kini menatap Pak Andhika yang tadi memanggilnya. Kedua lengan tangannya yang tadi ia jadikan bantal untuk tiduran, kini ia rentangkan ke atas untuk peregangan.
"Apa, Pak?" Vian menguap lebar sampai teman-teman Heaven Club yang lain menoleh ke arahnya. Pak Andhika cuma bisa geleng-geleng kepala. Pakaian tidak rapi, rambut acak-acakan, mata sayu, wajah kuyu, Vian benar-benar suram di mata Pak Andhika. Teman-teman Heaven Club seperti Dimas atau Rendy pun sudah berkali-kali mengajaknya main basket atau ikut hunting cewek seksi, tapi sama sekali tak digubris. Kerjaannya cuma tiduuuuur saja! Pak Andhika masih ingat perkataan Vian saat 'sidang' soal sifat buruk mereka. Pak Andhika yakin pasti ada sesuatu yang mengubahnya jadi seperti ini.
"Pak?"
"Ah, maaf maaf." Pak Andhika langsung tersadar dari pikirannya soal Vian. Pikirnya, sayang sekali cowok sejenius ini harus punya sikap begini.
"Kamu kalo di rumah ngapain, sih?"
"Tidur, Pak."
Jawaban Vian yang cuek ini bikin Pak Andhika dan anggota lainnya jadi greget ingin mengajak Vian untuk melakukan sesuatu, atau setidaknya pergi ke suatu tempat. Yaah, bosan saja melihat Vian tidak ada kerjaan lain selain tidur atau membolak-balik halaman poster book anime kesukaannya.
"Eh, Vian. Besok klub gue ada perekrutan anggota baru, lo mau coba nggak?" Walaupun Dimas sadar sudah puluhan kali sejak masuk Heaven Club, ditolak melulu oleh Vian, ia tetap saja berusaha mengajak Vian. Tentu saja jawaban Vian tetap sama: NO!
"Kak Vian, gimana kalo lomba makan sama Grace? Yang menang nanti...."
"Nggak."
Rasanya, mereka sudah kehabisan akal menghadapi Vian. Mau diacuhkan, tidak enak tapi kalo diajak, orangnya selalu menolak. Dimas dan yang lain menatap Tania dan Chandra yang masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Cuek minta ampun. Apalagi Tania, sama sekali tidak pernah mengobrol dengan anggota lain. Kerjaannya di Heaven Club cuma baca, baca, dan bacaaa saja! Buku yang dibaca pun buku-buku grammar bahasa Inggris atau Jepang yang ruwetnya minta ampun! Bikin yang lain ingin muntah saja melihat judul bukunya.
"Ya, anak-anak! Udah jam lima, kalian harus pulang ya." Pak Andhika tiba-tiba meletakkan hp androidnya dan bangkit dari duduknya. Mereka langsung membereskan barang-barang yang ditaruh di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam tas. Seperti biasa, Vian selalu yang paling akhir selesai membereskan tas. Ya iyalah! Gerakannya saja lambat malas-malasan begitu! Pak Andhika tersenyum tipis memandang Vian. Saat Vian dengan cueknya berbalik hendak keluar ruangan, Pak Andhika langsung menahannya dengan meraih pundaknya. Cowok berambut lurus tipis acak-acakan itu langsung menoleh.
"Kamu belum boleh pulang. Yuk, ikut Bapak."
"Nggak, ah Pak. Saya mau...."
Sayangnya, tangan Vian tiba-tiba ditarik Pak Andhika untuk mengikutinya melangkah. Vian tidak mengerti tujuan Pak Andhika mengajaknya sampai ke atap sekolah. Memang, baru kali ini ia melihat langit sore yang membentang luas di atasnya. Dalam hati, Vian kagum dengan pemandangan ini. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum kagumnya walau cuma seulas.
"Gimana? Bagus, kan? Ini... tempat kesukaan bapak." Dengan gestur santai, Pak Andhika menyulutkan api pada rokoknya lalu wajahnya ia arahkan ke langit di atasnya. Seketika itu, wajah senyum Vian mendadak hilang, kembali menjadi datar.
Dasar, manusia nggak jelas. Vian berbalik lalu melangkah menuju pintu.
"Maaf, ya Pak. Saya nggak ada waktu buat ngobrol sama bapak." Katanya sambil melambaikan tangannya rendah dengan cueknya.
"Bapak... pengen bikin revolusi buat kamu."
TAP! Langkah Vian langsung berhenti dan tangannya yang ingin menyentuh gagang pintu pun ikut terhenti. Dengan wajah melongo heran, Vian berbalik menatap Pak Andhika. Wajah herannya berubah jadi melengos nyinyir saat melihat Pak Andhika sedang merentangkan tangannya lebar-lebar dengan senyumnya yang juga lebar. Vian menghela napas. Ia tidak bisa mengerti maksud revolusi yang dibilang Pak Andhika. Vian yang memang jenius, sudah tahu sebab perubahan Dimas, Sandra dan Chandra pasti gara-gara Pak Andhika. Vian juga tahu kalau Pak Andhika pasti bermaksud membangkitkan rasa semangatnya yang sudah susah-susah ia kubur. Pikirnya, mungkin itu yang dimaksud Pak Andhika dengan kata 'revolusi'. Vian melangkah mendekati Pak Andhika. Saat merasa sudah cukup dekat dengan sosoknya yang tinggi besar, ia menatap tajam Pak Andhika yang masih tetap pada posenya. Memang manusia aneh.
"Pak, saya nggak ngerti sama Bapak."
"Kamu nggak usah mikirin bapak. Mending, kamu mikir diri sendiri aja dulu."
"Saya sih selalu mikir buat diri saya sendiri. Saya ngelakuin apa yang saya suka. Saya tuh nggak ngerti sama bapak yang mau-maunya ikut campur urusan orang sampe ngubah mereka segala. Emang asik ya ngelakuin itu?"
Pak Andhika perlahan menurunkan tangannya dalam diam. Dari awal ia memang sudah menilai kalau Vian 'berbeda' dari anggota lainnya. Jarang ngomong tapi sekalinya ngomong, jleb! langsung tepat di hati. Perkataan Vian tadi sebenarnya sih sederhana. Dia cuma bingung dengan jalan pikirannya yang berniat ingin mengubah sikap buruk anak-anak.
"Nah, nggak bisa jawab kan? Ikut campur urusan orang itu nggak baik lho Pak. Mending, bapak pikirin dulu sikap-sikap bapak selama ini."
Pak Andhika baru kali ini memandang mata Vian yang dingin. Wajah kuyunya pun jadi mengeras seperti menahan kesal dan sedih. Pak Andhika terdiam beberapa saat sampai Vian berbalik dan melangkah menuju pintu dengan cueknya.
"Kamu... punya trauma, ya?"
DEG! Mata Vian kini melotot ke arahnya. Wajahnya jadi benar-benar tegang menatap Pak Andhika. Raut wajah Pak Andhika terlihat tenang bahkan santai, tapi hati Vian yang kacau tak karuan. Darimana Pak Andhika tahu kalau dirinya punya trauma? Terdiam. Vian cuma bisa diam menatap Pak Andhika yang masih santai merokok di depannya. Seperti sama sekali tidak terpengaruh dengan aura kekesalan dan keterkejutan Vian.
"Bapak... tau darimana....?"
"Gampang aja. Karena bapak lebih pinter dari kamu."
Vian makin kesal. Rasanya ingin sekali menjatuhkan Pak Andhika yang terlihat sangat berkarisma itu. Tapi, ia buru-buru menghapus niatnya. Tidak mau kejadian tiga tahun yang lalu itu terulang lagi. Kejadian yang membuatnya stres berat gara-gara kejeniusannya.
Sabar... sabar. Gue nggak boleh kemakan jebakannya Pak Andhika! Dia pasti lagi ngerencanain sesuatu buat bikin gue semangat lagi.
Pak Andhika tiba-tiba melangkah pelan ke arahnya. Anehnya, kaki Vian kali ini tidak bisa bergerak. Kakinya seperti terhipnotis dengan tatapan Pak Andhika yang tegas bagai anggota brimob polisi!
SRAK! Pak Andhika membentangkan selembar kertas di depan Vian. Vian semakin heran saat melihat soal matematika yang tertulis di kertas itu. Maksud Pak Andhika apa sih? Buat apa soal matematika itu?
"Kamu kerjain, ya. Bapak kasih waktu sampe besok."
"Haaah?! Bapak...."
"Nah, udah mau gelap nih. Cepet pulang sana. Jangan lupa kerjain ya."
Dengan wajah bingung sampai garuk-garuk kepala segala, Vian menurut saja keluar dari atap sekolah. Soal matematika di kertas yang dipegangnya ini memang sangat mudah bagi Vian. Tidak perlu besok, hari ini pun soal itu bisa selesai. Tapi sayangnya, Vian yang sekarang beda dengan Vian yang dulu. Ia meremas-remas kertas itu dengan santainya lalu membuangnya ke tong sampah di depan gerbang. Namun, ia tidak sadar kalau Pak Andhika ternyata diam-diam mengikutinya. Dari balik tembok gedung sekolah dan dengan tangan terlipat di depan dada, Pak Andhika memperhatikan Vian yang terlihat semakin jauh.
Wah, serius nih. Mungkin... gue harus sedikit maksa. Ternyata... emang Vian yang paling susah.
Besoknya, pukul 15.15
Vian berusaha meronta dari cengkeraman tangan Pak Andhika yang kuat saat pria dewasa itu menariknya untuk mengikuti langkahnya. Hari ini, Vian sengaja tidak datang supaya Pak Andhika tidak mengganggunya lagi. Eeeh, ternyata dia tetap bisa menemukan dirinya! Padahal menurutnya tempat sembunyinya sudah yang paling benar—di toilet cewek. Tentu saja Vian sembunyi disana saat jam pulang sekolah. Dengan nada bangga, Pak Andhika selalu menekankan ia berhasil menemukan Vian yang sedang sembunyi di toilet cewek. Katanya sih, pikiran anak jenius bisa ditebak. Hih! Bikin Vian tambah benci pada Pak Andhika! Lagi-lagi, Pak Andhika mengajaknya ke atap sekolah. Tapi tangannya masih memegang lengan Vian. Takut, anak keras kepala itu akan kabur kalau tidak ditahan.
"Pak! Kan saya udah bilang, bapak nggak usah ikut campur urusan saya! Mending bapak urus aja anggota lain yang...."
"Anggota lain libur hari ini." Potong Pak Andhika yang bikin Vian terdiam. Ia semakin yakin kalau Pak Andhika memang berniat mengubahnya. Ah! Tiba-tiba, terbersit suatu pikiran di otak Vian yang encer. Gue ceritain itu aja kali ya. Senyum tipis terukir di bibirnya, membayangkan pasti Pak Andhika bakal kebingungan dan memutuskan untuk menyerah.
"Oke, Pak. Saya tau Bapak pengen saya punya rasa semangat lagi buat ngelakuin apa aja termasuk minat saya, kan?" Seperti dugaannya, wajah Pak Andhika langsung sumringah. Ia mengira hati Vian akhirnya sudah terbuka untuk menyadari kekurangannya. Dalam hati, Vian jingkrak-jingkrak melihat reaksi Pak Andhika.
Hmm... sepertinya dia sudah kejebak dengan rencana gue! Baguus!
"Tapi, Pak. Saya punya cerita. Cerita ini ada hubungannya dengan saya yang menjadi seperti ini. Saya boleh cerita?" Vian melihat Pak Andhika mengangguk kuat-kuat dengan senyum lebar. Vian tersenyum tipis. Bukan karena Pak Andhika bersedia mendengarkan ceritanya. Tapi karena merasa Pak Andhika sudah masuk jebakannya.
Bapak pasti bakal nyerah kalo denger cerita gue. Mana mungkin orang sok pinter itu bisa ngubah gue kalo sikap gue ini muncul gara-gara trauma?
Tiga tahun lalu....
Kelas 3D lagi-lagi dibuat kagum oleh cowok tinggi, berkacamata dan ganteng. Tapi bukan karena bentuk fisiknya yang nyaris sempurna. Melainkan karena Vian—cowok nyaris sempurna itu lagi-lagi berhasil menjawab pertanyaan guru dengan tepat. Guru Matematika yang sedang mengajar saat itu, sampai diam bengong memandangi jawaban Vian. Tepukan tangan selalu ia dapatkan setiap disuruh mengerjakan soal di papan tulis. Bentuk fisik yang nyaris sempurna ditambah prestasi akademis yang gemilang, pasti mengundang orang jahat. Begitu juga yang dialami Vian. Jodhy, teman sekelasnya yang cukup berpengaruh karena orang tuanya pendiri SMP swasta tempatnya belajar, tidak suka dengan keberadaan Vian. Sudah banyak hal buruk yang dilakukan Jodhy dan teman-temannya pada Vian. Mulai dari dilabrak, mengajak berantem, difitnah, sampai nilainya dimanipulasi! Vian masih bisa sabar saat Jodhy melabrak atau mengajak berantem dirinya sampai babak belur. Tapi kalau difitnah dan dimanipulasi nilainya? Hati Vian benar-benar terluka.