Senin, pukul 16.00 (Seminggu kemudian)
Semua anggota Heaven Club melongo kaget melihat penampilan Vian yang sangat berbeda —benar-benar beda dari biasanya! Tania yang biasanya cuek dan cuma cinta buku-buku grammar nya saja, sampai mengalihkan pandangan dari bukunya. Gimana mereka semua tidak terkaget-kaget, kalau Vian yang biasanya berpenampilan super duper acak-acakan bagai gelandangan, sekarang mendadak berubah menjadi pangeran kerajaan antah-berantah! Tidak cuma Tania yang kepincut dengan penampilan Vian, Sandra pun sampai berpikir kalau Vian sudah masuk daftar cowok yang harus digebet! Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, tingkah lakunya juga ikut berubah! Chandra yang sangat paham kalau Vian orangnya malas seperti orang yang tidak punya semangat hidup, tak henti-hentinya kagum melihat Vian dengan semangat menjawab semua pertanyaan yang diberikan guru. Wah, pokoknya perubahan Vian yang sekarang bikin gempar seluruh warga SMA Handayani! Semuanya memang tersihir dengan perubahan Vian kecuali Rendy. Rendy kaget setengah mati saat minggu lalu, mendadak ada cowok keren yang menyapanya di ruang Heaven Club. Setelah menyadari bahwa cowok tersebut adalah Vian, wajah Rendy langsung merengut. Kalau perubahan Vian biasa saja, mungkin Rendy bakal santai. Tapi sayangnya gara-gara itu, daftar cewek incaran Rendy hilang semua karena pada kepincut sosok Vian. Apalagi saat tahu kalau Vian masuk klub sepak bola. Waah, cewek mana sih yang tidak makin tergila-gila dengannya?
Rendy memang punya sepuluh pacar, dan hebatnya dia bisa mempertahankan mereka semua. Tapi, itu tidak cukup! Dari dulu Rendy ingin menjadi cowok paling populer di sekolah. Tujuannya supaya bisa mendapatkan yaah setidaknya lima cewek lagi. Mata Rendy tidak putus-putusnya menatap Vian yang sekarang sedang berdiskusi soal PR Akuntansi bareng Chandra.
Dasar sialan lu!
"Lo kenapa sih Ren dari tadi ngeliatin Vian mulu? Haaa! Jangan-jangan lo...." Sandra langsung begidik membayangkan Rendy juga ikut ngefans wajah ganteng Vian. Atau jangan-jangan Rendy homo? Hiiii... Sandra reflek menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Lo jangan mikir yang nggak-nggak, ya! Lo juga Yan, jangan sok kecakepan lah disini!" Perkataan Rendy yang tajam pada Vian bikin mereka semua lagi-lagi melongo heran termasuk Vian. Tidak disangka Rendy yang supel, kelihatannya tidak pernah marah-marah, eeh sekarang seperti mengajak ribut dengan Vian. Sayangnya, Vian yang sekarang sudah berubah. Vian langsung berdiri dan menatap tajam Rendy di depannya.
"Santai dong. Kayaknya gue nggak pernah bikin masalah sama lo."
"LO BEGO YA? LO TUH YANG SUMBER MASALAH!"
"APA LO BILANG?!"
Dimas dan Chandra langsung turun tangan memisahkan mereka. Dimas memegangi Rendy sementara Chandra memegangi Vian. Sandra, Tania dan Grace berteriak-teriak lebay saking takutnya terjadi tawuran kecil di ruangan. Chandra dan Dimas sudah berusaha bentak-bentak menyuruh mereka berhenti adu mulut. Tapi, Rendy selalu memancing kata-kata yang membuat Vian marah. Bikin masalah malah tambah parah!
"VIAN! RENDY!" Bentakan Pak Andhika dari ambang pintu, bikin semua anggota Heaven Club menoleh kaget ke arah sumber suara. Ya, tadi Pak Andhika sedang pergi ke mini market untuk membeli cemilan. Betapa kagetnya ia saat sampai di ruangan, melihat Rendy dan Vian sudah saling melotot bagai siap perang. Pak Andhika buru-buru menaruh belanjaannya dan langsung menarik Vian dan Rendy dari Dimas dan Chandra.
"Siapa yang bikin keributan disini?"
"Rendy tuh Pak!"
"Vian, Pak!"
Rendy dan Vian sama-sama saling tuding-menuding. Kalau seandainya Pak Andhika tidak langsung turun tangan, mungkin sudah terjadi baku hantam antara Vian dan Rendy. Pak Andhika menghela napas. Ia sangat tahu kalau Rendy tipe santai nan supel yang tidak suka cari masalah. Tapi, ia juga tahu kalau Vian sama sekali tidak jago berantem. Jadi sudah pasti Rendy lah yang cari gara-gara duluan.
"Rendy, bisa ikut Bapak sebentar?"
"Lho, Pak! Bukan saya! Vi...."
"Rendy. Bapak bilang ikut bapak." Perkataan Pak Andhika benar-benar tidak bisa dibantah lagi. Rendy juga merasa agak seram melihat Pak Andhika sekarang berwajah tegas bagai preman siap tempur. Mau tidak mau, Rendy harus pasrah dirinya digiring Pak Andhika.
"Kalo udah jam lima kalian pulang aja, ya." Pesan Pak Andhika sebelum menghilang dari hadapan mereka semua. Rendy makin bingung saat langkah Pak Andhika yang terus saja menarik tangannya, berhenti di atap sekolah. Rendy melihat sekeliling tempat sepi dan kosong itu, lalu matanya menatap langit oranye di atasnya. Bagus juga sih, tapi buat apa?
"Bapak ngajakin saya kesini biar pikiran saya tenang ya? Tempatnya bagus sih cocok buat nenangin pikiran...."
"Kali ini... Bapak pengen bikin revolusi buat kamu."
Hah? Rendy melongo menatap Pak Andhika yang berbalik sambil merentangkan tangannya lebar-lebar plus nyengir lebar di depannya. Rendy sampai membayangkan Pak Andhika memakai kostum ala Rambo sambil bawa senapan dan merevolusi semua orang yang punya sifat buruk. Hihihi... Rendy sampai cekikikan sendiri.
"Kok ketawa?"
"Ah, nggak, Pak. Maksud Bapak... revolusi buat saya tuh apa?"
Hmm... benar juga ya. Pak Andhika masih belum kepikiran revolusi seperti apa yang akan ia buat untuk Rendy. Tadinya sih Pak Andhika ingin membuat revolusi untuk Tania dulu karena dia yang paling tertutup diantara anggota lain. Tapi melihat Rendy dan Vian berantem tadi, ia berpikir sifat Rendy sudah saatnya 'dibasmi' duluan!
"Maaf ya Pak saya nggak bisa lama-lama. Mau hangout sama temen." Rendy bangkit dari duduknya sambil merentangkan tangannya ke atas, lalu melangkah pelan menuju pintu.
"Sampai kapan kamu merasa cukup?"
TAP! Langkah Rendy sampai berhenti gara-gara perkataan Pak Andhika yang pelan. Rendy menoleh dan melihat cowok itu dengan santainya melipat tangan di depan dada sambil menatapnya tajam.
"Gini-gini, Bapak udah tau lho semua 'prestasi' yang kamu dapat." Pak Andhika menggerakan kedua jarinya pada kata 'prestasi' yang maksudnya sih untuk menyindir Rendy. Rendy kaget setengah mati. Tentu saja dia tahu arti sindiran 'prestasi' yang ditekankan Pak Andhika.
Huh! Dasar sialan! Orang ini... bakal jadi pengganggu buat gue!
"Bapak tau kamu bakal ngelakuin apa aja yang menurut kamu untung. Misal, ngerebut makanan, rokok bahkan... pacar mungkin?"
DEG! Jantung Rendy mendadak seperti berhenti berdetak. Perkataan Pak Andhika tadi memang tepat! Sepuluh cewek yang dipacarinya sekarang ini memang hasil jegal sana jegal sini. Rendy berpikir semua cewek yang terlihat bening, harus menjadi miliknya!