Heaven Club

A.M.E chan
Chapter #9

My Narrow World will be....

Sabtu, pukul 08.00 (Seminggu kemudian)

TIIIIN! TIIIIN! TIIIIIN! Pak Andhika terus saja menekan klakson mobilnya di depan rumah Tania. Walaupun sudah dimaki-maki oleh tetangga karena bikin ribut, Pak Andhika tidak peduli. Semua anggota Heaven Club pun sampai tutup kuping saking berisiknya. Lho? Kok anggota Heaven Club ikut ke rumah Tania bareng Pak Andhika? Mau ngapain?

Jadi begini ceritanya. Kemarin, Pak Andhika mengajak anggota Heaven Club untuk pergi kemping selama dua hari. Memang sih, besok tanggal merah dan lusa hari Minggu. Nah, Pak Andhika mengajak mereka semua utntuk pergi kemping, dan usulnya langsung direspon antusias oleh mereka kecuali Tania. Tania bersikeras tidak akan ikut acara yang menurutnya tidak berguna banget itu. Soalnya, alasan ia selalu datang ke ruang klub saja, karena dirinya tidak mau diteror Pak Andhika yang tidak akan membiarkannya kabur! Karena itulah, Pak Andhika tetap nekat mendatangi rumah Tania.

"Pak, mending nggak usah diajak deh. Orangnya kan keukeuh nggak mau ikut." Rendy yang duduk di belakang, sampai menjulurkan kepalanya ke arah Pak Andhika yang masih terus saja memandang rumah Tania.

"Nggak bisa gitu, Ren. Semua anggota harus ikut!"

"Tapi, Pak. Kalo bapak bunyiin klakson terus, yang ada nanti kita didemo sama tetangga-tetangga sini." Perkataan Grace yang kalem itu bikin Pak Andhika menoleh sebentar ke arah mereka yang duduk di belakang. Pak Andhika menghela napas dan akhirnya berhenti membunyikan klakson. Fiuuh! Semua anggota kompak bernapas lega. Yaah, setidaknya Pak Andhika tidak sekeras kepala yang mereka takutkan.

"Kalo gitu kalian turun ya. Kita rame-rame ajak Tania buat ikut kita." Dengan semangat yang sepertinya tidak akan ada habisnya, Pak Andhika langsung turun dari mobil. Para anggota Heaven Club cuma bisa saling pandang. Heran dengan tingkah Pak Andhika yang keras kepala. Ah, gawat! Mereka buru-buru turun dari mobil saat melihat Pak Andhika mengetuk kaca mobil dengan raut wajah seramnya.

*********

Tania sampai menutup kepalanya dengan dua bantal saking berisiknya klakson mobil Pak Andhika. Ia bersumpah tidak akan mau keluar dari kamar sejengkal pun, walau ada kebakaran hebat sekali pun! Tania berpikir daripada mati kutu diam canggung bersama anggota Heaven Club dan Pak Andhika—bapak-bapak aneh yang hobinya ikut campur urusan orang, mending meringkuk di tempat tidurnya sampai besok. Tania merasa lega saat suara klakson sudah tak terdengar lagi. Tania merasa mungkin Pak Andhika sudah menyerah untuk mengajak dirinya pergi kemping. Tapi sayangnya, sumpah hati Tania harus dibatalkan. Masalahnya, sekarang giliran Mamanya yang berisik gedar-gedor pintu kamarnya.

"Tania... ada temen-temenmu tuh."

Tania baru ingat kalau Pak Andhika adalah manusia yang pantang menyerah. Kalau rencana A gagal, Pak Andhika masih punya sejuta rencana cadangan untuk mengajak dirinya kemping. 

Huh! Maksa amat sih tuh orang! Mana pake bala tentara segala lagi buat ngajakin gue!

"Bilang aja Tania sakit, Maah."

"Tania, nggak boleh gitu sama tamu! Mama kan selalu ajarin kamu buat nerima tamu gimana pun keadaanmu, kan?"

"Tania nggak mau, Mamaaaah!"

"Tania, keluar!"

Huh! Tania kesal setengah mati. Mamanya ini memang tidak pernah bisa dibantah. Tania berpikir kalau ia masih tetap berada di kamar, adu mulut dengan Mama tidak akan pernah usai sampai kiamat sekalipun. Mau tidak mau, Tania harus keluar dari kamar tanpa ganti baju. Wajah Tania super kucel plus rambut berantakan dengan piyama masih melekat di badannya.

"Tania, rapih rapih dulu gih. Masa mau ketemu temen kok...."

"Duuuh! Udah deh! Tania kan udah keluar dari kamar! Mama nggak usah deh ngatur-ngatur Tania! Mending urus aja tuh 'urusan' Mama yang nggak kelar-kelar itu!" Tania langsung ngibrit meninggalkan Mama. Tania memang tidak pernah bisa akur dengan orang tuanya. Ia memang tidak suka berlama-lama di rumah. Kalau ada kesempatan bisa keluar dari rumah, akan ia ambil saat itu juga! Tapi sayangnya kesempatan keluar dari rumah, malah datang dari Heaven Club. Selama di Heaven Club, tidak pernah sekalipun ia mengobrol bareng anggota lain. Makanya, saat-saat bersama Heaven Club menurutnya lebih neraka dunia daripada di rumah.

"Mau ngapain sih kalian kesini? Saya kan udah bilang...."

"Tania, yuk kita kemping! Asik lhoo!" Sepertinya Pak Andhika memang tipe orang yang level bodoh amatnya diatas rata-rata. Masa tidak bisa sih baca ekspresi super duper kesalnya Tania? Dimas, Chandra sampai Vian saja jadi malas, yang tadinya ada niat ikut bantu mengajak Tania.

"Maaf, ya Pak. Hari ini saya sibuk karena harus persiapan buat lomba pidato bahasa Jepang, jadi...."

"Lho, Tania? Kemarin Mama tanya katanya nggak ada acara, kok sekarang malah bilang ada acara?" Tiba-tiba Mamanya datang membawa nampan berisi tujuh gelas sirup dingin. Tania langsung melotot ke arah Mama. Hancur sudah skenario kebohongan untuk mengusir mereka semua gara-gara kata-kata tidak penting Mama.

Huuh! Sebeeel!

"Berarti, Tania emang nggak ada acara ya, Bu?"

"Kemarin sih Tania bilang gitu, Pak."

"Asik lho Tan. Ikut aja yuk." Sandra yang tidak sabar ingin merasakan udara pegunungan yang sejuk, jadi ikut bujuk Tania juga.

"Iya, Tan. Lo juga bisa liat-liat pemandangan bagus. Pokoknya, kita refreshing deh." Akhirnya, Vian jadi ikutan coba membujuk Tania. Tania sampai terdiam bingung. Mau bohong, kebohongannya sudah terbongkar oleh Mamanya. Mau kabur? Pasti Mamanya akan memarahinya panjang lebar supaya balik lagi menemui mereka sambil minta maaf.

"Tania, coba ikut aja ya. Kasian temen dan guru kamu udah bela-belain dateng kesini buat ngajakin kamu."

"Tapi, Maaah...."

"Tenang aja, Bu. Pokoknya saya jamin Tania bakal kembali kesini lagi dengan sehat walafiat." Pak Andhika sampai promosi segala ke Mamanya Tania, yang bikin Mama malah makin mendesak Tania untuk ikut kemping.

"Tania ikut, Pak! Pasti ikut! Bentar dulu ya." Mamanya langsung menarik tangan Tania yang bikin putrinya itu terkaget-kaget. Alasan Mama sih baik. Mama ingin Tania sekali-kali jalan-jalan bareng teman. Walaupun Tania bersikeras bilang kalau mereka bukan teman-temannya, Mamanya tidak mau dengar. Mama sudah menyiapkan semua kebutuhan Tania untuk kemping. Sampai menyiapkan baju untuk dipakai Tania segala lho! Lagi-lagi, Tania cuma bisa menghela nafas pasrah. Ia tahu kalau perkataan Mamanya tidak pernah bisa ditawar-tawar. Pak Andhika pun tidak akan pergi sampai dirinya bersedia ikut kemping. Rasanya, Tania seperti dihimpit kiri-kanan dengan tembok besar yang membuatnya tidak punya pilihan. Intinya, mau tidak mau Tania harus ikut!

Selama perjalanan menuju tempat kemping terkenal di Bandung, Pak Andhika bernyanyi-nyanyi dengan semangat empat limanya. Chandra dan yang lain sih ingin ikut bernyanyi juga, tapi aura-aura gelap Tania yang berwajah lebih cemberut dari biasanya, bikin mereka tidak bisa ikut bernyanyi. Dimas sih masih bisa ikut bernyanyi karena dia duduk di jok depan sebelah Pak Andhika. Rasanya, mereka jadi merasa iri dengan Dimas.

"Duuuh! Udah deh, Pak berisik tau! Nyanyi-nyanyi kayak anak TK aja!" Tania memang masih kesal dengan ajakan paksa Pak Andhika dan Mama. Benar kan dugaannya! Dirinya bakal diam mati kutu di dekat teman-teman Heaven Club!

"Tan, mending mata lo tuh sekali-kali jauh deh dari buku. Nanti mabok lhoo." Si Rendy nyeletuk saking risihnya melihat Tania yang sama sekali tidak menikmati perjalanan. Tapi sayangnya, mata Tania tidak mau lepas dari buku Jepangnya. Bahkan mulutnya pun tidak bicara sepatah kata pun menanggapi Rendy. Huh! Bikin Rendy tambah sebal saja denganTania.

"Tania... kita kan lagi happy, ikutan nyanyi juga yuuk...." Agak takut juga sih Grace bicara dengan Tania. Tapi, ia juga tidak mau bikin suasana hancur cuma gara-gara aura berat Tania.

"HUUUH! Kalian tuh ya maunya apa sih? Masih untung gue ikut kalian! Suka-suka gue dong gue mau ngapain!"

"Tania! Jangan kasar sama temenmu!" Pak Andhika jadi ikutan sewot, yang bikin Tania jadi reflek memandang tajam Pak Andhika. Wajah galak Pak Andhika yang terlihat dari kaca spion, bikin Tania jadi merinding dan bungkam. Sebenarnya dari hati yang paling dalam, Tania agak tersentuh juga saat Pak Andhika dan yang lain ternyata tetap nekat mengajaknya. Tapi melihat wajah-wajah mereka yang bersinar senang, bikin Tania merasa marah. Tania merasa mereka sih enak tidak punya masalah seberat dirinya. Masalah yang dari dulu ingin ia selesaikan tapi tidak bisa. Masalah yang tiap hari bikin ia merasa stres. Karena itu, menurutnya sifat-sifat jelek Dimas, Sandra, Chandra, Vian dan Rendy yang pastinya berubah karena Pak Andhika, sangat tidak sebanding dengan masalah yang dipendamnya.

"Tan? Kok lo mijit kening? Lo... nggak pa-pa, kan?" Sandra jadi was-was melihat wajah Tania terlihat pucat.

"Duuh, udah deh. Gue tuh...." Tania tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba ia panik membekap mulutnya. Untung Grace bawa plastik di tas kecilnya, jadi Pak Andhika tidak perlu pusing tujuh keliling mobilnya bakalan kotor kena muntahan Tania. Acara nyanyi-nyanyi saat itu, berubah jadi acara pertolongan darurat untukTania, karena ternyata Tania mabuk darat parah!

Akhirnya, mobil Pak Andhika berhenti juga. Begitu mereka turun dengan semangat, udara sejuk langsung menyambut mereka. Pohon-pohon tinggi yang berjajar rapi, bikin mata mereka serasa makin sejuk. Tapi semua keindahan alam itu tetap tidak bisa mengalahkan rasa kesal Tania. Walaupun Sandra, Chandra, Vian, Grace dan Rendy sudah mati-matian menolongnya tadi, tetap saja hatinya msih merasa marah. Apalagi saat melihat mereka tersenyum bahagia melihat pemandangan alam. Dimas yang ternyata punya bakat lain selain basket, sudah jepret sana jepret sini saja. 

Lihat selengkapnya