Heaven Club

A.M.E chan
Chapter #10

Can I be Beautiful....?

Jumat, pukul 09.00 (Sebulan kemudian)

Sebenernya sih hari ini Tania, Grace dan Rendy masih libur sampai Senin depan karena anak kelas tiga sedang pada Ujian Nasional. Tapi, mereka tetap saja datang ke Heaven Club. Kalo nggak karena Tania penasaran bagaimana saat itu orang tuanya bisa datang ke aula, mungkin Pak Andhika udah nyuruh dia pulang. Lumayan aja gitu lho libur seminggu bisa buat tidur-tiduran dan males-malesan. Begitu pikir Pak Andhika. Tapi, yaah apa boleh buat. Tania maksa, jadi mau nggak mau Pak Andhika harus mengizinkannya masuk ke rum.. eh.. ruang klub. Kemudian selang beberapa menit, Rendy dan Grace muncul. Memang sih sejak orang tua Tania berhasil rujuk, Tania jadi ribut minta nomer hp mereka. Jadilah mereka dipaksa datang oleh Tania untuk menceritakan kronologis Parents Plans saat itu.

"Kenapa baru sekarang sih minta cerita? Udah lewat sebulan lho." Rendy bingung aja sama permintaan Tania. Masalahnya, kalo disuruh cerita yang terjadi sebulan yang lalu, yaa....nggak bisa detil-detil amat dong.

"Gue sibuk lomba sana sini tau. Baru kepikiran sekarang. Udah deh cerita aja."

Dari cerita Rendy, ternyata saat itu Dimas dan Rendy bertugas 'menculik' Ayah Tania yang saat itu sedang bekerja di pabrik. Sementara Chandra dan Vian 'menculik' Ibu Tania yang kerja di bank. Waah, mulut Tania sampe membulat kagum. Dirinya sendiri aja nggak berani ngomong sama orang tuanya, apalagi nyulik? Tania sampe senyum-senyum dengerin Rendy ceritain aksi penculikannya dengan bangga. Yee, dasar! Nyulik orang kok bangga. Begitu pikir Tania dalam hati.

"Terus kalo lo Grace?" Kini wajah Tania memandang ke arah Grace yang dari tadi diem. Grace langsung gelagapan, baru sadar dirinya ternyata lagi ngelamun. Cewek tambun itu menunduk malu-malu dan diem beberapa saat.

"Ayo dong Grace, cerita dong."

"Hmm...i..itu...ngng...saya...sama Kak Sandra...ngng...bantuin tata cahaya panggung....sama ngurus make up dan gaun. I....itu aja." Grace bilang begitu sambil menunduk. Suaranya aja keciiil banget kayak suara kutu, bikin Tania dan Rendy sampe request minta ulangi. Walaupun Pak Andhika saat ini keliatannya lagi asik baca koran sambil merokok, tapi ternyata diam-diam ia memperhatikan obrolan mereka. Matanya pun tetep nggak beralih dari Grace. Pak Andhika tersenyum tipis. Kalo dia udah senyum begitu, berarti udah saatnya untuk melakukan revolusi. Hmmm...mungkin...ini bakal jadi revolusi terakhir disini. Pak Andhika tiba-tiba menutup korannya, lalu bangkit dari kursi. Bikin mereka semua menoleh cengok ke arah Pak Andhika.

"Grace, bisa temenin Bapak bentar? Bapak mau belanja ke mini market." Katanya dengan senyum tengil yang biasanya. Tania dan Rendy melongo heran. Masalahnya, nggak biasa aja Pak Andhika minta ditemenin ke mini market. Sama Grace pula? Grace sih nurut-nurut aja sama Pak Andhika lalu bangkit dari duduknya.

"Saya permisi dulu, ya." Pamitnya pada Tania dan Rendy sambil jalan menunduk.

"Oia, kalo Bapak nggak balik-balik sampe anak kelas tiga selesei ujian, kalian pulang aja ya." Seperti biasa sebelum pergi, Pak Andhika ngasih wejangan dulu sama penghuni ruang klub yang ia tinggal pergi. Setelah mereka berdua pergi, Tania dan Rendy saling berpandangan lalu nggak lama setelah itu mereka tersenyum.

"Bapak pengen bikin revolusi buat kamu!" Tania dan Rendy kompak bilang begitu lalu tertawa kecil. Kali ini, tipuan Pak Andhika gampang sekali tertebak. Ya iya dong tertebak. Karena biasanya Pak Andhika cuek-cuek saja pergi belanja tidak pernah minta antar. Eeeh, kok sekarang minta antar Grace? Apa lagi kalau bukan rencana Pak Andhika yang ingin membuat perubahan untuk Grace yang pemalu dan rendah diri?

"Semoga aja Grace berhasil, ya Ren." Tania tiba-tiba ngomong di tengah keheningan setelah kompak menirukan 'slogan' Pak Andhika tadi. Rendy tersenyum mengangguk. Dalam hati Rendy, entah kenapa Tania yang sekarang lebih menarik dari mantan sepuluh pacarnya dulu. Waduh? Jangan-jangan....

"Bapak pengen bikin revolusi buat kamu."

Tuh, kan! Benar saja dugaan Grace saat Pak Andhika mengajaknya ke atap sekolah. Soalnya, Grace berpikir tumben amat seorang Pak Andhika tiba-tiba mengajak dirinya untuk menemaninya pergi ke mini market! Apa lagi kalau bukan bikin revolusi untuk dirinya? Dan... dugaannya tepat! Begitu sampai di atap sekolah, dengan senyum lebar dan tangan direntangkan dengan lebar selebar jalanan, Pak Andhika berkata begitu. Tapi dari hati Grace yang paling dalam, sebenarnya ia masih penasaran. Ia merasa dirinya biasa-biasa saja. Tidak pernah bikin masalah dengan teman. Tidak pernah menonjol. Tidak pinter, tidak cantik banget, tidak kaya juga. Pokoknya, menurutnya tidak ada yang harus direvolusikan oleh Pak Andhika!

"Kok diem?" Pak Andhika perlahan menurunkan tangannya karena capek. Tentu saja, karena sudah lumayan lama ia merentangkan tangan lebar-lebar plus senyum lebar selebar daun kelor, eeh reaksi Grace cuma menunduk saja! Pak Andhika menghela napas panjang. Dari awal Pak Andhika merasa kalau Grace memang berkarakter pemalu. Ini tantangan bagi Pak Andhika. Karena menurutnya, menghadapi orang pemarah, sombong, atau iri hati sudah sangat biasa.

"Kamu mau tau kenapa kamu diajak gabung ke Heaven Club?" Perkataan Pak Andhika yang entah sejak kapan tiba-tiba sudah berjongkok di depan Grace, bikin cewek itu reflek menjauh. Pak Andhika cuma tertawa ringan sambil mengusap-usap rambut Grace yang pendek dengan gemas. Perlahan, Grace menunjukkan wajahnya. Mata bulatnya memandang Pak Andhika yang masih menunjukkan senyum lebarnya. Dan akhirnya, Grace mengangguk. Penasaran juga. Terkadang penilaian Pak Andhika diluar dugaan. Apalagi tingkah-tingkahnya!

"Karena kamu tuh kayak ulat."

JEDEEER! Walaupun sekarang masih siang bolong, tapi hati Grace bagai disambar badai petir, badai katrina, badai topan, ah! pokoknya semua badai yang bikin rusak deh! Rusak sudah rasa penasaran Grace. Jadinya malah ingin marah, ingin memaki-maki, ingin mengomeli pria tengil di depannya ini. Tapi, apa daya. Grace cuma bisa menunduk. Hati Grace memang kesal, tapi kekesalannya tidak cukup kuat memunculkan rasa pede untuk memarahinya. Yaah, akibatnya Grace cuma bisa diam. Tiba-tiba, Grace merasa pundaknya seperti disentuh dua tangan. Ya, tentu saja itu tangan Pak Andhika.

"Nah, itu alasan Bapak ngajak kamu. Orang lain selain kamu, kalo dikatain begitu pasti marah kan? Tapi kamu nggak. Kamu kurang percaya diri, nah rasa itu tuh yang nyebabin kamu jadi punya sifat rendah diri. Merasa diri kamu kurang baik dibanding yang lain. Dan menurut Bapak, kalo kamu nggak bisa marah kalo ada orang yang ngatain kamu, berarti... sifat rendah diri kamu udah parah."

Benar sebenar-benarnya! Tepat, setepat-tepatnya! Ah, sempurna! Tidak ada lagi kata yang bisa diungkapkan untuk Pak Andhika selain sempurna. Mungkin kalau ada kata lain yang lebih bagus selain kata sempurna, Grace akan langsung bilang saat itu juga di depan Pak Andhika. Wajahnya yang tadinya menunduk, kini jadi menatap Pak Andhika dengan sorot tajam. Ditatap begitu, Pak Andhika malah makin tersenyum. Itu berarti membuktikan kalau dugaannya soal Grace selama ini tepat! Tapi, senyum Pak Andhika tidak bisa bertahan lama karena tiba-tiba air mata keluar dari mata Grace.

"Duh...duh...Grace...Grace....jangan nangis, ya... Bentar-bentar." Pak Andhika bagaikan ulat kepanasan saat berusaha mencari tisu di kantong jaket dan celana. Yaah, sayangnya Pak Andhika hanya menemukan sapu tangan yang dekilnya sudah bisa disamakan dengan lap pel sekolah yang sepertinya tidak pernah dicuci setahun! Hiii... tentu saja Grace merinding saat Pak Andhika memberikan sapu tangan itu.

"Nggak usah, Pak. Nggak pa-pa." Diantara isak tangisnya, Grace menyapu air matanya dengan punggung tangan. Di antara air matanya pun, Grace melihat wajah Pak Andhika yang terlihat murung karena merasa bersalah.

"Bapak jangan sedih. Malah... saya... berterima kasih sama Bapak karena udah ngasih tau sifat jelek saya. Makasih, ya...." Grace berusaha tersenyum diantara air matanya. Bikin Pak Andhika tambah semangat ingin mengubah Grace dari rendah diri jadi percaya diri.

"Mungkin... saya begini... karena bentuk badan saya yang gendut banget. Liat aja, Pak. Badan segede gajah bengkak benjol-benjol kayak saya gini, mana mungkin bisa jadi cantik kaya Kak Sandra atau Tania, kan? Jadinya... yaah...."

"Makanya Bapak bilang kamu tuh kayak ulet."

"I... iya...ya ulet gen...."

"Kalo seandainya ulet nggak mau puasa, nggak mau susah, mungkin nggak bakalan ada yang namanya kupu-kupu."

Set! Lagi-lagi, wajah Grace yang tadinya menunduk kini menoleh ke arah Pak Andhika. Namun, cowok urakan yang sedang berdiri di depan Grace itu sih cuek-cuek saja ditatap begitu. Matanya memandang langit yang makin berubah warna. Rokoknya masih ia kulum tanpa dibakar.

"Ma... maksud Bapak apa, ya?" Grace benar-benar tidak bisa mengerti perkataan pembina klubnya ini. Apa hubungannya coba sifat rendah dirinya dengan ulat? Aaah! Bikin Grace pusing tujuh keliling, pening terus miring deh kalau tidak ditanyakan!

"Maksud Bapak, bukan nggak mungkin kamu bisa jadi cantik kayak Sandra atau Tania...."

"Wah?! Yang bener, Pak?!" Wajah Grace langsung sumringah. Pak Andhika terkesiap. Baru kali ini Pak Andhika melihat wajah Grace secerah ini. Biasanya ia selalu menunduk dengan wajah suram. Tapi, senyum bahagianya tidak bisa bertahan lama. Baru sebentar saja, ia sudah menunduk lagi.

"Tapi... kalo Bapak nyuruh saya minum obat pelangsing atau diet sih... saya udah ribuan kali coba, Pak. Tapi yaa nggak berhasil...."

"Lho? Siapa bilang Bapak nyuruh kamu minum obat pelangsing atau diet? Emangnya Bapak ahli soal itu apa? Yaa nggak lah!"

"Terus?"

Lihat selengkapnya