Heaven

Dwi nurbaiti
Chapter #3

Bagaimana jika.....

"Jonatan,kapan kamu nemuin aku. Kapan kamu hubungi aku lagi. Apa mungkin aku jatuh cinta sama kamu?" Bianca bergumam.

"Brak" Sherly menggebrak meja Bianca, hal itu juga yang membuat Bianca terkejut.

"Kerja tuh yang bener, fokus! Jangan kebanyakan melamun." Lanjut Sherly.

Bianca terkejut dengan perlakuan Shery rekan kerjanya. Posisinya memang lebih tinggi dia daripada Bianca sendiri, ia tidak bisa membantahnya. Bianca melanjutkan pekerjaannya.

Bianca merasa kelelahan, ia ingin beristirahat sebentar. Bianca meminum air putih dibotol minumnya. Setelah itu, Bianca menyelesaikan pekerjaannya lalu ia mencoba meregangkan otot-otot tangannya. Semua ia lakukan agar dirinya bisa lebih rileks dan mencapai targetnya.

Di kantin, Bianca memesan makanan yang biasa ia makan, Ibu kantin pun mengenalinya. Bianca makan dengan lahapnya, sampai ia lupa dengan kerasnya dunia kerja.

Bianca mulai membayangkan jikalau ia sukses di perantauan, ia pasti bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Hayalannya terlalu tinggi memang bagaimana tidak, ia baru satu bulan bekerja tapi selalu memikirkan untuk sukses dan membeli apapun yang ia inginkan.

Di perjalanan pulang, Bianca mampir membeli minum dan stok makanan. Setelah membayarnya, Bianca duduk di depan toko tersebut dan memakan sedikit cemilannya. Tatapan matanya kosong seperti banyak yang ia pikirkan. Bianca terlihat lemas namun ia yakin bisa melewati proses ini.

Bianca menggendong tasnya, memulai perjalanan untuk pulang. Hari ini ia terpaksa jalan kaki karena uangnya sisa sedikit yang akan ia pakai untuk naik angkot besok pagi. Bianca berjalan jauh ia melihat seekor kucing liar dan mencoba memberikan makanan untuk kucing tersebut. Ia mulai merasakan betapa kerasnya hidup di perantauan. Ia jadi gampang kasihan dengan hewan maupun manusia yang sendirian.

Di apartemen.

Bianca menaruh tasnya di pinggir lemari lalu merebahkan tubuhnya dikasur empuk miliknya. Ia terlihat kelelahan, ia menatap dinding kamarnya lalu ia mengusap keringat diwajahnya. Ia bersyukur sudah berada di apartemen dan bisa beristirahat. Bianca memainkan ponselnya, melihat video pendek dan ia juga memainkan game favoritnya hanya untuk mengurangi rasa lelahnya bekerja.

Shireen pulang, ia menanyakan kenapa Bianca belum berganti pakaian. Shireen menyuruh Bianca untuk mengganti pakaian, tanpa perdebatan Bianca beranjak pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya. Setelah selesai, Shireen mandi.

10 menit kemudian....

Shireen bercerita jika di kantornya ada pegawai baru dan ia jatuh cinta padanya. Shireen berbunga-bunga, terlihat sangat bahagia berbanding terbalik dengan Bianca. Bianca mendengarkan cerita bahagia itu dengan muka lesu dan terlihat kecapekan. Shireen kesal namun ia menahannya, Ia menanyakan mengapa Bianca tidak bersemangat hari ini. Bianca menjawab pelan; duit aku habis cuma tinggal buat naik angkot besok gajian juga masih seminggu lagi. Gimana aku bisa bertahan disini, aku bingung banget.

Sebagai teman yang baik, Shireen meminjamkan uangnya tanpa berpikir sahabatnya akan pergi atau bahkan tidak membayar hutangnya. Bianca tersenyum, ia berjanji akan membayar jika gajian nanti.

"Eh, gimana tadi ceritanya?"

"Lupain aja. Jonatan udah ada kabarnya belum?"

Bianca menggelengkan kepalanya, ia mencoba mengganti topik. Kisah percintaan dua sahabat ini apa akan sama persis? semoga tidak. Bianca tidak bisa membayangkan jika Shireen sahabat terbaiknya di perantauan akan mengalami hal yang sama sepertinya, ditinggal oleh seseorang yang dicintainya.

Bianca memberikan cemilan yang baru ia beli dan menanyakan siapa orang yang Shireen sukai. Kali ini Shireen menjawabnya; Dery. Bianca mencoba mencari informasi tentang Dery di internet, ia menemukannya. Ia merasa Shireen memang cocok dengan Dery mereka berdua sangat serasi. Bianca menyarankan agar Shireen mendekati Dery dengan natural tanpa dipaksakan.

Lihat selengkapnya