Ambisi untuk sukses terlihat di wajah Bianca, pancaran wajahnya terlihat lebih bersinar setelah mendapatkan apartemen murah dari Devan, setidaknya ia sekarang hanya fokus menabung dan memperbanyak uangnya. Fokus karir adalah pilihan terbaik yang harus ia ambil sekarang ini. Namun dibalik kebaikan Devan, apa yang dia inginkan agar Bianca membalasnya ini pasti tidak gratis, apalagi Devan mempersiapkan semuanya, memperhatikan asupan gizi Bianca selama di apartemennya.
Di cabang tempat kerjanya yang baru. Bianca menemukan teman teman baru, lingkungan kerja yang baru, dan sistem kerja yang lebih ketat kesalahan sedikit saja mungkin bisa menjadikan Bianca pengangguran untuk kesekian kalinya. Devan sering mengantar jemput Bianca setiap harinya hal itu juga membuatnya lebih bisa menekan pengeluaran selama di perantauan, ia bisa menabung. Meski begitu, ia tetap menganggap Devan sebatas teman atau mungkin atasannya. Meski sesekali ia bertanya dalam hatinya "benarkah aku hanya menganggapnya sebatas teman" perhatian rutin itu membuat hatinya bimbang untuk sesekali.
Di tempat tongkrongan.
Kenzo bercerita bahwa dirinya mulai mencintai Bianca pada Lala sahabatnya. Ia ingin menjadikan Bianca pacarnya. Lala menjawab "pasti akan sulit menaklukkan Bianca, saingannya saja Jonatan, masalalunya dan sekarang ada Devan. Sepertinya mustahil." Kenzo bersikeras akan mendapatkan Bianca dalam waktu dekat. Bianca dan Devan tidak sengaja melihat Kenzo sedang berduaan dengan Lala ketika perjalanan pulang.
"Itu bukannya Kenzo pacarmu, kok sama Lala?" tanya Devan.
"Mereka sahabat, biarin ajalah."
"Kalian masih pacaran kan atau udah putus? kalau udah putus bisa kali aku masuk."
"Apaan sih, nggak usah ngaco kamu deh." ucap Bianca,
dalam hatinya hanya bisa bergumam; aku sama Kenzo kemarin cuma pura pura gimana cara jelasinnya, gimana aku mau cemburu liat Kenzo jalan sama orang lain.
"Kok ngalamun, mau kita labrak si Kenzo itu?"
"Nggak usahlah mereka juga sahabatan doang."
"Kamu sama Jonatan juga sahabat, tapi kamu suka sama Jonatan, mungkin salah satu dari mereka juga ada yang jatuh cinta, kita nggak tahu perasaan orang bagaimana kan?"
"Biarin aja." jawabnya singkat.
"Kita beli ice cream aja yuk aku traktir."
Devan mengajak Bianca membeli ice cream untuk mengalihkan pikirannya agar tidak memikirkan Kenzo.
"Bagaimana jadinya jika Devan tahu yang sebenarnya?" Bianca bergumam.
"Ini ice creamnya, ayo dimakan nanti meleleh."
"Makasih Dev, ice creamnya enak."
"Kalau perasaan mu udah mendingan, kita baru pulang ya."
"Okayyyy... kita pulang sekarang aja yuk, udah mulai malem juga."
Esok harinya. Di tempat kerja Bianca.
Kenzo datang dan merentangkan spanduk bertuliskan "Bianca apa kamu mau jadi pacar aku?" dan memberikan buket bunga mawar yang sangat indah. Bianca belum menjawab, ia masih syok melihat Kenzo seberani ini, ia juga tidak menyangka akan mendapat kejutan dari seseorang. Toko tempat kerja Bianca yang baru juga ternyata dipasang cctv yang bisa mengeluarkan suara, ia tambah syok ketika mendengar suara yang tidak asing baginya, ya benar Devan. Ternyata selama ini Devan memantaunya, pantas saja ia mengetahui jam pulang dan kegiatannya selama bekerja. Namun kenapa Devan senekat ini? sebenarnya siapa Bos di tempat kerja barunya ini? apa ini salah satu bisnis Devan? atau bagaimana, semua ini tidak masuk di otak Bianca.
"Kalau kamu terima cinta Kenzo, biaya apartemen naik jadi 5 juta." suara Devan terdengar dari cctv.
Bocah tengil, itu julukan yang pantas Bianca sematkan pada Devan, bagaimana tidak karena cemburu Devan melakukan segalanya demi bersama Bianca, orang yang ia cintai.
"Kamu mau nggak jadi pacar aku?" tanya Kenzo sekali lagi.
"Bianca, inget ya kalau kamu terima dia, biaya apartemen naik jadi 5 juta." teriak Devan.
Ingin rasanya hatinya memaki Devan, namun ia juga yang menolongnya. Ia menahannya, ia lebih memilih menolak Kenzo. Setelah mendengar jawaban Bianca, Kenzo pergi dan meninggalkan bunga mawarnya dihadapan Bianca.
"Nice, gadis manis." Devan tersenyum.
Bianca melanjutkan pekerjaannya, namun tanpa sepengetahuannya, ia mendapatkan bonus mendadak. Ia masih mencerna semua ini, sebenarnya toko ini milik siapa, Devan atau Bosnya yang dulu? apa bonusnya ini ada kaitannya dengan Devan barusan? apa maksud dibalik semua ini? ah sudahlah mungkin ini memang rezeki yang tidak boleh ditolak, lumayan buat tambah tabungan. Bianca melayani pembeli di tokonya. Ia sedikit keteteran namun dengan pengalamannya yang sudah sangat lama, ia mengatasinya dengan mudah.
Setelah toko sepi, Bianca memutuskan untuk beristirahat sejenak, ia makan agar kembali bertenaga setelah energinya terkuras sehabis menghadapi berbagai sifat pelanggan.
"Bi, coba kamu cek tepung terigu deh masih banyak atau nggak." pinta Okta rekan kerjanya.
"Iya."
"Kosong nih, harus bungkus lagi kayaknya." lanjut Bianca.
"Yaudah kamu bungkus beberapa kilo deh buat stok juga, sekalian bungkus yang setengah kilo ya."
"Oke siap." Bianca membungkus beberapa tepung terigu dan memasangnya di etalase toko.
Rasa penasaran muncul dibenak Bianca, ia ingin bertanya siapa sebenarnya pemilik toko ini pada Okta, rekan kerjanya ini juga termasuk sudah lama mungkin ada 5 tahun disini. Pasti dia mengetahui banyak tentang toko ini.
"Kak Okta, boleh nanya sesuatu nggak?"
"Tanya apa?"
"Ini..... hmmmm.... soal toko... nama pemilik toko ini tuh siapa?"
"Kalau nama pemilik sih aku kurang tahu ya, apalagi toko ini tuh udah bertahan lama, ya turun temurun gitu. Sekarang dipegang sama anaknya, tapi aku kurang paham anak yang keberapa dan siapa."
"Ohhhh begitu ya Kak, tapi Kakak pernah nggak liat anaknya datang kesini sekedar ngecek gitu?" tanyanya penasaran.
"Semua anaknya tuh private, nggak pernah muncul disini, makanya aku selalu baik sama siapapun termasuk orang yang penampilannya acak acakan, aku nggak tahu gimana Bos kita itu, paling Bapak atau Ibunya malah yang ngecek."
Bianca melongo mendengar jawaban dari rekan kerjanya itu, bagaimana tidak toko sebesar ini hanya dipercayakan pada pegawai yang baru 5 tahun bekerja tanpa pengecekan yang rutin. Bagaimana bisa Bos toko ini mempercayakan semuanya pada orang yang bahkan tidak dikenalnya? hanya ada beberapa cctv yang terpasang di sudut sudut ruangan toko.
Di jam pulang kerja, Devan sudah duduk manis di depan tokonya. Kegiatan rutin yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, yaitu menjemput Bianca seperti biasa, memastikan Bianca baik baik saja hingga sampai apartemen. Mereka berdua terlihat serasi dari permukaan, namun kenyataan pahit akan menghantam realita jika mereka sampai mempunyai hubungan istimewa. Sesampainya di apartemen, Devan pamit karena ada meeting besok pagi.
Di apartemen ada banyak segerombolan orang yang memaksa masuk hanya untuk menculik Bianca. Ia berteriak minta tolong, dijam segini memang jam lembur jadi teriakan Bianca tidak terdengar oleh siapapun. Bianca berhasil dibawa pergi oleh orang yang tidak ia kenal.
"Siapa orang yang melakukan ini, mengapa mereka tega sekali padaku." Bianca pingsan akibat obat bius.
Ia dibawa ke suatu tempat asing baginya.
Di ruangan rahasia. Bianca masih terpengaruh obat bius, ia sangat pusing, ia masih sulit membuka matanya.
"Bos, dia belum sadar apa yang harus kita lakukan?" tanya Penculik.
"Biarin aja, sebentar lagi dia sadar, setelah sadar tolong kasih dia makan dan minum. Aku nggak mau sampai dia kenapa-napa."
"Baik Bos."
Bos dari Penculik itu pergi membeli kopi untuk menemaninya begadang, ia menyuruh rekannya untuk menjaga Bianca, tangan dan kakinya terikat sehingga ia kesulitan untuk bergerak. Wajahnya mulai pucat ia lemas karena menolak untuk makan. Penculik itu memaksa Bianca agar menelan makanan yang sudah di sediakan namun Bianca memuntahkannya. Penculik itu kesal dan menendang kursi Bianca, Bos melihatnya dan memukuli rekannya sendiri hingga babak belur dan pincang kaki sebelahnya. Penculik itu memohon, meminta maaf agar Bosnya menghentikan ini semua, ia sangat menyesal sudah menendang kursi Bianca.
"Kalau sampai aku lihat kamu jahat sama Bianca, akan aku bunuh kamu!" jelas Bos.
"Ampun Bos ampun, maaf Bos maaf." Penculik memohon.
Bianca yang masih mempunyai sedikit tenaga mendengar percakapan penculik itu, ia merasa tidak asing dengan suaranya. "Kenzo." rintihnya pelan. Kenzo sedikit panik Binca mengetahui dirinya ada disana, Kenzo memaksa bawahannya untuk berbicara dengan Bianca. Kemungkinan besar Kenzo menculik Bianca karena cintanya ditolak kemarin, Kenzo masih memperlakukan Bianca dengan baik.
"Siapa Kenzo hah! pacar kamu! dia nggak bakal bisa kesini!" bentak Penculik.
"Kenzo aku yakin kamu disini tolong lepasin aku!" rintihnya pelan.
Pagi, Di depan apartemen.
Devan datang menjemput Bianca seperti biasanya mengendarai mobil kesayangannya. Devan terlihat bahagia sepertinya ia merasa menang karena berhasil menggagalkan upaya Kenzo untuk mendapatkan Bianca, sekarang ia ingin mengungkapkan perasaannya. Harapannya hanya satu semoga diterima. Devan mengetuk pintu apartemen dan tidak ada jawaban dari Bianca, ia mulai khawatir, ia membuka pintu yang tidak terkunci mencari Bianca ke seluruh ruangan namun tidak menemukan apapun, Devan mencoba mengecek cctv ia menemukan ada segerombolan orang membuka paksa pintu apartemen sepertinya ia tau siapa yang melakukan ini, siapa lagi kalo bukan Kenzo orang yang kemarin menyatakan cinta lalu ditolaknya.
Devan pergi ke tempat kerja Kenzo namun tidak menemukan apapun, berati mungkin kecurigaannya benar, ia mencari ke tempat kerja Lala sahabat Kenzo. Lala pun tidak ada disana, apa mereka bekerja sama untuk menculik Bianca? apa tujuan mereka melakukan itu. Devan kemudian menyuruh semua anak buahnya untuk datang ke tempat yang ia curigai sebagai tempat penyekapan Bianca setelah melihat rekaman cctv dirumahnya. 2 jam setengah Devan menuju tempat tersebut. Devan menggerebek rumah itu namun para penculik tidak terlihat di tempatnya, penculik hanya meninggalkan Bianca sendiri. Sepertinya penculik itu sudah mencium kedatangan Devan dari jauh hari.
"Kamu nggak apa apa Bi." Devan melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Bianca.
Bianca memeluk Devan dan berbicara pelan"Kenzo".
Devan membopong tubuh Bianca, membawanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Devan meminta sebagian anak buahnya untuk menjaga Bianca, ia ingin melaporkan hal ini pada polisi. Bianca menggenggam tangan Devan dan berkata "tidak usah, kamu jagain aku aja disini. Aku butuh kamu." karena hal ini, Devan terpaksa membatalkan meeting pentingnya.
"Setelah kamu sembuh nanti aku pengen ajak kamu jalan jalan ke tempat yang kamu pengen, cepat sembuh ya Bi,"
Devan menelpon seseorang menyuruh mereka memecat Kenzo dan Lala. Ia yakin mereka yang melakukan ini pada orang yang ia cintai.
Bianca tidak menyangka orang yang ia percaya melakukan hal ini padanya, ia trauma jika harus mempercayai orang lagi. Ia berharap, ia tidak lagi bertemu dengan Kenzo maupun Lala dikebetulan manapun. Matanya mulai bisa terbuka, perutnya mulai bisa menelan makanan, Devan masih sabar menunggu dan merawatnya. "Andai dulu aku tidak berpura pura pacaran dengan Kenzo dan menerima Devan menjadi pacarku, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Bianca hanya bisa menyesalinya namun nasi sudah menjadi bubur, sepertinya tidak ada kesempatan kedua teringat juga Devan sudah dijodohkan oleh orang tuanya yang setara dengan keluarga mereka meskipun Devan masih menolak perjodohan tersebut. Tapi semua kendali ada dikeluarganya. Mungkin lambat laun Devan akan menerima perjodohan tersebut.
Hari berhari berhasil Bianca lalui, ia sudah sembuh namun Devan masih menghawatirkan kondisi Bianca, ia menyuruh Dokter pribadinya untuk menemani Bianca, merawat Bianca hingga benar-benar sembuh. Ia juga menyuruh beberapa anak buahnya menjaga di sekitar apartemen Bianca. Devan harus pergi melanjutkan meetingnya yang tertunda. Klien pentingnya harus bisa ia dapatkan agar bisa menjadi perusahaan nomor satu dan penghasilannya meningkat. Sebelum pergi, Devan memesan buah dan makanan sehat yang lainnya untuk dikirim ke apartemen Bianca agar ia tidak kekurangan soal makanan dan cepat sembuh total.
"Maaf, ini pesanan buah dari Pak Devan dimakan ya." Pak Dokter.
"Iya Dok, makasih ya. Dok, sebelum pulang boleh minta tolong nggak ambilin hp saya, saya mau hubungi rekan kerja."
"Baik Bu, ini hpnya, ini obatnya nanti dimakan ya, saya pulang dulu." Pak Dokter pergi.
Bianca menghubungi Okta rekan kerjanya, ia meminta maaf karena akhir akhir ini tidak berangkat kerja. Ia juga mengatakan jika besok akan mulai bekerja meski ia juga agak takut jika dimarahin Bosnya apalagi kalau sampai dipecat karena absen beberapa hari. Okta menghargai keputusan Bianca, namun Okta menyarankan agar ia beristirahat yang cukup agar benar-benar pulih, Okta mengetahui semua yang terjadi pada temannya itu, ia bisa mengurus ini semua. Bianca bersikeras agar berangkat esok hari, ia sudah merasa sembuh meski ada trauma mendalam soal Kenzo, orang yang hampir ia cintai. Okta hanya bisa menyetujui jika Bianca akan berangkat besok.
Keesokan paginya. Devan menjenguk Bianca di apartemen, menanyakan kondisinya. Bianca terlihat sudah sehat, ia juga sudah bersiap untuk bekerja namun Devan melarangnya. Devan mengatakan agar ia beristirahat, tidak boleh memaksakan diri untuk bekerja. Kondisinya mungkin masih lemah, terlihat obatnya masih banyak yang belum diminum dan masih tertata rapi di atas meja riasnya.
"Nggak usah larang aku buat kerja bisa? aku udah sehat kok."
"Sehat apanya, obatmu noh masih banyak, jadi orang jangan keras kepala dong, istirahat."
"Udah istirahat, udah sembuh, sekarang aku mau kerja."
"Yaudah kalau kamu udah sembuh aku mau tepatin janjiku dulu, mau ajak kamu jalan jalan ke tempat yang kamu inginkan, libur aja dulu kerjanya."
"Lah kamu enak orang kaya, nggak kerja pun masih bisa makan, lah aku, kesini juga merantau nyari duit."
"Udah pokoknya kamu ikut aku, kita jalan jalan."
"Nggak! kalau aku dipecat gimana?"
"Nggak bakal dipecat, kalau dipecat balik kerja ke kantor aja sama aku."
"Males!"
Ditengah perdebatan mereka, telpon berdering dari handphone Bianca, sepertinya itu telpon dari orang tuanya.
"Nak, gimana kabar kamu disana?" tanya Ibu.
"Kabar aku baik Bu, Ibu semoga baik baik aja ya disana."
"Iya Nak, kamu kerja nggak hari ini?" tanya Ibu.
"Kerja Bu, ini mau berangkat."
"Alhamdulillah deh, sehat selalu ya disana. Nanti kalau cuti pulang aja ke kampung semua orang kangen sama kamu."
"Iya Bu pasti."
"Tenang aja tante, nanti aku temenin Bianca buat pulang kampung." Devan memotong pembicaraan.
"Loh itu suara cowok siapa Nak?" tanya Ibu.
"Emm... itu Bu, hmm... atasan aku."
"Atasan kamu kok pagi pagi udah jemput kamu? jangan pacaran dulu ya Nak fokus kerja dulu. Nanti kalau udah waktunya pasti ketemu sama jodohmu."
"Iya Bu, udah dulu ya Bu, aku mau berangkat kerja dulu takutnya telat."
"Iya Nak, hati hati ya dijalan." Ibu menutup telpon.
"Tuhkan udah denger sendiri Ibuku bilang apa, kamu sih susah dibilangin."
"Okee aku minta maaf."