Semenjak pulang ke tanah kelahiran, Bianca lebih mencintai dirinya sendiri. Mengutamakan dirinya sendiri setelah semua cinta yang ia punya ternyata hanya dibalas penghianatan. Ia memang tidak memikirkan hal itu lagi, tapi sesekali ia teringat entah mengapa. Untungnya ia masih hidup, ia bertahan ditengah permasalahan yang datang di kehidupannya. Ia beruntung dikelilingi oleh orang baik, oleh orang tua yang tidak lelah mendoakan kebaikan untuk anaknya.
"Ayo Nak sholat dulu, kita udah lama loh nggak jama'ah sejak kamu di rantau." ajak Ibu.
"Iya Bu, aku ambil air wudhu dulu."
"Cepet ya, Ibu tunggu ditempat sholat, Bapak juga udah siap."
"Iya Bu."
"Allahu Akbar...... Bismillahirrahmanirrahim......"
Setelah selesai sholat. Bianca berdoa agar mempunyai kesempatan untuk memiliki masa depan yang cerah dan berharap Allah SWT menyembuhkan trauma tentang cinta yang pernah ia rasakan dahulu. Berdoa untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Ia sangat berterimakasih karena masih diberi kesempatan untuk hidup setelah beberapa kejadian terpahit dihidupnya. Rasanya sangat lega setelah bercerita pada pemilik semesta.
"Bu, aku mau buka bisnis menurut Ibu gimana?" tanya Bianca.
"Buka bisnis tuh bagus, bagus banget. Tapi lihat kamu baru dihianati sama orang, Ibu takutnya kamu nanti nggak fokus. Bisnis juga resikonya gede. Mending kamu tenangin diri kamu dulu, eksplorasi tempat tempat indah dulu biar nanti bisnisnya berkembang."
"Kamu juga perlu banyak pertimbangan mau bisnis apa, jangan sampai dihianati partner bisnis kamu nantinya." lanjut Ibu.
"Hmmmm.... iya deh Bu."
"Temen kamu Shireen katanya udah sukses, kamu coba nanya dia tentang bisnis." Bapak menimpali.
"Apaan orang Shireen nikah sama ceo. Eh tapi lumayan deh jadi bisa main." Bianca bergumam.
"Oke Pak, Bu aku kerumah Shireen dulu yaaa." Bianca pergi.
Gea memberantakan rumah, mainan berserakan dimana-mana, bedak habis untuk mainan, lantai kotor dan licin, Shireen sebagai Ibunya jelas memarahinya. Bianca yang sedang diluar mendengar semuanya ia ragu sejenak namun tukang paket sepertinya tidak membiarkan Bianca bengong didepan rumah sahabatnya itu.
"Permisi paketttt."
"Taruh diluar aja bangg."
"Tapi paketnya cod Buuu."
"Sebentar mau ngambil uang dulu."
Shireen membuka pintu dengan penuh rasa lelah diwajahnya. Ia membayar paket sesuai harga yang tertera dipaketnya. Ia juga menyapa Bianca yang sedari tadi disana.
"Kamu udah lama disini, ayo masuk aja."
"Ba- baru aja kok."
"Ayo masuk, maaf ya berantakan banget rumahku. Bibi lagi cuti beberapa hari, jadi gini deh rumahku."
"Iya nggak apa apa. Ku bantuin beresin deh, kasian juga Gea mainnya jadi nggak leluasa."
"Tempat main mah ada, dia mungkin udah bosen kali ya di rumah terus."
"Aku bantu beresin aja dulu ya, kita baru ceritanya."
Bianca membantu membereskan rumah sahabatnya, menemani Gea bermain dan sekarang giliran Bianca untuk bercerita tentang keinginannya.
"Aku pengen liburan, kamu mau ikut? ikut aja yuk, ajak Gea juga."
"Kemana?"
"Ke pantai, naik wahana atau berenang, kemana aja sih biar pikiran ku tenang. Kamu tahu kan kemarin Jonatan gimana. Aku butuh liburan."
"Boleh aja. Tapi aku agak ragu, anakku pasti nggak bisa diem nanti yang ada bakal ribet dijalan. Kayaknya aku nggak bisa ikut."
"Seriusan kamu nggak bisa? yahhh padahal kita udah lama nggak pergi bareng. Yaudah deh aku pergi sendiri aja."
Bianca berpamitan pada kedua orangtuanya untuk pergi liburan. Ia membawa baju dan perlengkapan secukupnya. Entah berapa hari ia akan pergi, yang jelas ia akan pergi sampai pikirannya kembali jernih dan bisa melupakan Jonatan sepenuhnya. Pikirannya sekarang hanya bagaimana agar hati ini pulih sepenuhnya. Bianca berangkat menuju Bandara agar bisa sampai ditempat tujuannya yaitu Taman Nasional Komodo. Tuhan maha baik, Bianca selamat sampai tujuan tepat waktu, ia langsung mencari hotel untuk menginap sebelum melakukan perjalanan esok harinya. Tidak menyangka ia melihat pemandangan yang sangat indah, seperti melihat surga tersembunyi yang ada di Indonesia. Setelah memesan kamar, Bianca merapihkan barang bawaannya dan beristirahat.
Esok harinya, Bianca berangkat untuk menjelajahi pulau pulau dikawasan komodo dengan menyewa kapal. Namun sebelum itu, ada satu rombongan trip yang sama mengajak Bianca berbincang.
"Kamu nggak salah pergi sendiri? mana rombonganmu?" tanya stranger.
"Iya aku kesini sendiri, nggak ada yang salahkan?"
"Ikut rombonganku aja yuk, takut kamu kenapa-kenapa nanti, trakkingnya jauh banget loh. Kamu udah pernah kesini?"
"Belum juga ini pengalaman pertama aku kesini."
"Berani banget ya sendirian. Ikut rombongan ku aja yuk. Banyak orang kok, cewek cowok ada."
"Boleh deh. Makasih ya!"
Bianca akhirnya bisa menenangkan pikirannya, ia mendapatkan kenalan baru, pengalaman baru dan sesuatu yang indah dalam hidupnya. Semoga ini awal yang bagus untuk masa depannya. Bianca dan rombongan barunya menaiki kapal untuk menjelajahi Pulau Komodo, ia sangat bahagia dan tidak sabar untuk mengabadikan semua yang dilihatnya. Bianca sampai di Pulau Padar, perjuangannya mulai terlihat namun semuanya belum berakhir, ia harus melakukan trekking 800 anak tangga untuk sampai kepuncak agar bisa melihat pemandangan bukit dan teluk 360 derajat. Bianca sudah menunggu lama untuk mengabadikan momen itu.
"Makasih ya tadi kamu udah bantuin aku naik. Kalau nggak, nggak tahu deh pasti lama aku dapet spot foto yang bagus ini."
"Iyaaa sama sama. Oiya kita belum kenalan, aku Kevryin. Panggil Kev aja."
"Okay aku Bianca. Sekali lagi makasih ya."
"Iya aman, abis ini aku sama Rombongan ku bakal ke pantai pink kamu ikutkan?" tanya Kevryin.
"Ikut dong udah sejalan ini hahaha."
"Kamu mau kenalan nggak sama temen temenku, sebelum kita kepantai bareng. Biar lebih akrab gitu."
"Boleh..."
"Temen temen, kenalin ini temen baru kita namanya Bianca."
"Hello Biii."
"Dia namanya Adit, sebelahnya ada Romi, Satria, Gendis, Bayu, Risna, Viani sama satu lagi namanya Dea."
Perjalanan selanjutnya ke Pantai Pink, pantai yang unik dengan pasir berwarna merah muda yang berasal dari serpihan terumbu karang yang mati, tempat yang bagus untuk berenang atau bersantai. Bianca memutuskan untuk berhenti sejenak dan menikmati pemandangannya. Sekali seumur hidup ia harus membuat kenangan yang indah disini, di Pantai Pink. Ia mendadak menjadi vlogger di pantai yang sangat langka ini.
Tempat utama yang Bianca inginkan yaitu Pulau Komodo, ia sangat excited melihat kadal terbesar didunia itu tentu saja ditemani oleh pawang yang ahli dalam menangani komodo, kadal purba terbesar ini. Ia juga melihat sarang dari komodo disini. Selain itu, ditempat itu juga terdapat rantai makanan untuk komodo tetap hidup. Perjalanan berlanjut ke Taka Makassar, yaitu pulau pasir kecil tak berpenghuni yang berbentuk unik. Air laut disekitarnya sangat jernih seperti kristal dan dangkal. Bianca dan semua rombongan melanjutkan perjalanan ke Manta Point, Sesampainya di sana. Spot ditengah laut terbuka. Bianca, Kevryin dan rombongan memutuskan untuk melakukan snorkeling bersama. Bianca merasa lega bisa berlibur ke tempat yang ia inginkan, tempat yang membawa kebahagiaan, tempat yang dapat melupakan seluruh masalahnya. Tempat terbaik yang pernah ia kunjungi bersama stranger.
"gimana liburannya, bahagiakah?"
"Bahagia banget! makasih ya udah izinin aku gabung bareng kalian."
"Santai aja. Oiya ini minuman buat kamu."
"Makasih banyak ya Kev!"
"Capek banget ya, tapi seru banget sih nggak bakal aku lupain pengalaman terindah ini, tempat terindah. Candu banget disini, nyaman aku suka."
"Kapan kapan kesini lagi aja. Tentuin tanggalnya kita bareng kesini."
"Eh bentar aku ke temen-temen ku dulu." lanjut Kevryin.
"Okay. Aku juga mau pergi bentar." Bianca meninggalkan minumannya.
Sepuluh menit setelah Bianca pergi, ada seseorang yang berpatroli dan menemukan minuman yang ditinggalkan Bianca.
"Ini siapa yang buang sampah sembarangan disini." teriak orang itu.
"Gawat nih Bianca ninggalin minumannya, dia kemana?" tanya Adit.
"Panggil Kevryin aja, aku juga nggak tau Bianca kemana." lanjut Romi.
"Bahaya nih kalo sampai kita di blacklist karena Bianca." ucap Gendis.
"Bentar, tunggu sini. Aku panggil Kevryin dulu." Satria pergi.
"Semoga kita nggak di blacklist deh. Sayang banget tempat seindah ini nggak bisa kita kunjungi karna ulah satu orang." Risna menimpali.
"Udah udah tenang dulu, Kevryin pasti bisa tangani ini." Bayu menenangkan.
"Maaf Pak, ini minuman punya saya nggak sengaja tertinggal." ucap Kevryin dengan tenang.
"Apa kamu tahu peraturan disini! nggak boleh ada satupun sampah disini atau kamu kena denda!" teriak Bapak yang sedang berpatroli.
"Maaf Pak, saya janji setelah ini nggak akan ada lagi sampah yang tertinggal." Kevryin tenang.
"Saya pegang ucapan mu! tapi peraturan tetap peraturan! kamu saya denda!"
"Baik Pak. Maafkan atas kelalaian saya."
Keributan itu mereda, Bianca melihat dua orang yang sedang meminta uang pada kevryin masih belum menyadarinya. Bianca masih asik bermain dengan wisatawan yang lain dan membuat vlog.
"kamu belain dia Kev? kamu suka kah sama dia?" tanya Viani.
"Bukan. Aku cuma mau tanggungjawab, aku yang ajak dia bareng sama kita, jadi kalau ada apa apa sama dia ya aku yang tanggungjawab. Sudah semestinya begitu kan?"
"Dia tuh ceroboh banget, dia nggak tau aturan disini kah?" lanjut Viani.
"Dia baru pertama kali kesini. Maafin aja. Aku juga minta maaf kita jadi ribut perkara Bianca tadi."
"Bukan gitu Kev. Perkara buang sampah dia aja nggak ngerti tempatnya dimana. Nyusahin tahu."
"Udah ya aku nggak mau debat soal ini, lagian semuanya udah selesai, kita nggak perlu bahas lagi. Soal tadi biar urusan aku sama Bianca. Kita lanjut liburan aja."
"Sabar aja Vi." ucap Dea.
"Tapi Bianca kemana? kita mau lanjutkan." Adit menambahkan.
"Aku bakal cari dia, kalian lanjutin dulu disini." Kevryin pergi.
"Ngapain sih dari awal Kevryin ngajak dia bareng kita, nyusahin banget tau!" Viani kesal.
"Udah nggak mood aku." lanjut Viani.
"Udah sabar aja. Kevryin juga lagi nyari Bianca." ucap Dea.
Perjalanan ini sebenarnya masih ada lagi, namun berhubung Bianca belum ditemukan, sepertinya harus ditunda atau mungkin dibatalkan dan pulang.
"Bianca, kamu disini. Ayo balik temen temen udah nungguin." ajak Kevryin.
"Eh iya aku lupa, padahal aku mau sebentar aja loh tadi malah keterusan bikin videonya."
"Nggak apa apa."
Bianca dan Kevryin menemui teman temannya. Viani mencecar Bianca.
"Kamu darimana aja sih, karena kamu waktu kita kebuang percuma!" bentak Viani.
"Maaf." Bianca tertunduk.
"Udah udah. Kita lanjut aja ke tempat selanjutnya." ajak Kevryin.
"Udah nggak mood mending pulang!"
"Yang lain mau pulang atau lanjut."
Serentak menjawab pulang.
Tidak ada pilihan lain, Kevryin hanya bisa menuruti teman temannya itu.
"Maafin aku ya Kev." ucap Bianca.
"Iya udah, kamu ikut kita pulang. Jangan sampai ketinggalan lagi."
Bianca, Kevryin dan yang lainnya pulang.
Tidak disangka, ternyata mereka berada disatu hotel yang sama. Sebuah kebetulan yang sangat tidak disengaja.
"Kev, kamu disini juga. Nggak nyangka kita ketemu lagi."
"Iya ya."
"Kamu mau ngapain disitu? temen temenmu kemana?"
"Aku mau cek out, kita mau langsung pulang."
"Tadi aku nggak sengaja ketemu Dea, dia bilang katanya kamu bayarin denda buat aku? waktu dipantai kemarin?"
"Iya."