Heaven

Dwi nurbaiti
Chapter #9

Ternyata Ibu benar

"Kapan nikah?"

"Kapan punya anak?"

"Sibuk apa sekarang?"

"Kok nganggur sekarang?"

"Nggak keluar negeri kayak orang orang?"

"Gaji kamu berapa sekarang?"

"Loh kok dirumah aja? kedainya nggak dibuka lagi?"

"Baru segitu aja udah berhenti, ah cupu!"

Ucapan ucapan menyakitkan dari manusia itu sering kali berputar diotak Bianca.

***

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi(pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.

Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.

***

Dibalik tirai itu ada seorang Ibu yang menunggu kepulangan anaknya, sesekali Ibu menoleh ke arah jendela itu berharap anaknya segera kembali ke rumah. Sejak tadi pagi Bianca pergi belum kembali sampai selarut ini. Ia pergi kemana. Ibunya sudah berusaha menghubungi sahabat dekatnya hasilnya nihil. Ibu dan Bapak sudah berusaha mencarinya ke tempat tempat favoritnya namun tidak ada Bianca. Semua usahanya sepertinya tidak akan membuahkan hasil, ia seperti menghilang semenjak menutup kedainya dan mendapatkan banyak pertanyaan pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Sahabatnya juga mencoba menghubungi Bianca, hasilnya tetap nihil, nomornya tidak aktif, tempat tempat favorit Bianca yang Shireen ketahui tidak ada Bianca sama sekali. Dia sebenarnya kemana? Shireen terpaksa meminta suaminya untuk membantu mencari Bianca, Devan yang mendengar Bianca menghilang langsung bersemangat untuk membantu menemukan Bianca. Dery, suami dari Shireen mengingatkan jika ia sudah menikah memiliki anak dan istri dirumah. Devan menyela; misi kemanusiaan, aku hanya ingin membantu.

"Kita mau cari Bianca mulai darimana?" tanya Devan.

"Pastiin dulu istrimu nggak cemburu sama dia." jawab Shireen.

"Nggak bakal dong."

"Ih bahaya banget, sayang kita pindah aja yuk. Nggak usah ajak Devan." ajak Shireen pergi.

Shireen dan Dery pindah ke ruangan kantor mereka yang lain meninggalkan Devan yang sedang bingung mendengar hilangnya Bianca.

"Terserah kamu mau ngapain yang penting jangan ngacak ngacak kantor." Dery memperingatkan lalu pergi.

Dery mencoba melacak nomor telepon Bianca dan menemukan lokasi terakhirnya.

"Lokasi terakhirnya ada di luar kota sayang tapi aku nggak tau tepatnya dimana, ponsel dia kayaknya mati." ucap Dery.

"Kalau kita susulin dia kesana yang ada nanti kita tersesat nyari dia. Satu satunya cara ya nunggu dia aktifin ponselnya atau nunggu dia pulang sendiri." lanjut Dery.

"Tim information technology mu nggak bisa bantu kah sayang?"

"Tim information technology semua lagi sibuk, kemarin ada yang retas server kantor jadi mereka semua begadang buat jagain servernya."

"Aku nggak mau kantor yang aku bangun hancur begitu saja." lanjut Dery.

"Bener. Semoga kantor kita baik baik saja sayang."

"Sayang, kita berdoa aja biar Bianca pulang dengan selamat, kita juga harus pulang nanti Gea sendirian dirumah."

"Iya sayang."

"Kamu udah kasih Gea makan sayang?"

"Udah dong sayang, tadi Gea juga udah mandi sekarang pasti dia udah tidur."

"Iya udah ayo sayang pulang."

Dery membuka pintu dan menemukan Devan yang sedang mengotak-atik komputernya. Devan benar benar mencari informasi Bianca sebisanya. Dery memberi kode pada Shireen jika Devan masih dikantor.

"Dev, pulang udah malem kantornya mau aku tutup." ucap Dery.

"Nanti aja aku tutup sendiri." balasnya singkat.

"Pulang Dev, istrimu pasti nungguin." jelas Shireen.

"Bentar bentar, lokasinya kelacak." Devan mengirim pesan lewat komputer kantor menyuruhnya pulang kerumah.

"Dia dimana?" tanya Shireen.

"Lagi menuju rumah, jam sepuluh nanti dia sampai. Kita bisa pulang." Devan meyakinkan.

"Bagus kalau gitu."

***

Pagi hari yang sangat cerah. Bianca menghubungi Ibunya, meminta maaf karena tadi malam tidak pulang, ia juga tidak bisa kembali hari ini. Ia masih mengusahakan sesuatu berharap Ibunya tenang dengan mendengar kabarnya. Ibu mulai beraktivitas setelah mendapat kabar itu, menyiapkan makanan lalu berolahraga santai. Bapak hanya memandang kolam kosong yang beliau bersihkan dulu.

Telepon berdering...

"Bianca, kamu kemana aja? orang tuamu nyariin itu." tanya Shireen.

"Iya iya ih, aku udah kabarin orang tuaku kok."

"Pulang cepetan kasihan orang tuamu."

**

"Gimana soal Bianca? Dia udah pulang belum?" tanya Devan.

"Belum, dia keluar kota ada acara katanya." balas Shireen.

"Acara apa? dia udah izin orang tuanya belum?"

"Udah, aku nggak tahu kapan dia pulangnya."

"Dia kemana sebenarnya bikin panik aja."

"Udah sekarang kita fokus kerja aja. Bianca nanti juga pulang."

"Shireen, nanti temenin aku rapat ya ada Dery juga kok."

"Baik."

**

Dery, Devan, Shireen dan yang lainnya rapat membahas kerja sama dengan kantor lain. Sepertinya kali ini mereka memang sudah sangat menginginkan agar kantor mereka segera maju. Rapat selesai dengan baik, semua orang menunggu hasil yang terbaik.

Telepon berdering.

"Kamu lagi dimana Nak? pulangnya kapan? Kamu lagi ngapain sebenarnya?" tanya Ibu.

"Aku lagi...... rahasia dong Bu, tenang aja aku disini sehat kok, aman disini Bu. Nggak perlu khawatir."

"Pokoknya hari ini harus pulang, kalau nggak Ibu kunciin rumahnya biar kamu nggak bisa masuk." ancam Ibu mematikan teleponnya.

"Gini amat oh my god."

**

"Sayang. Di kantin kantor ada makanan apa aja? aku lapar nih." tanya Shireen.

"Makanan enak, atau mau pesan aja?"

"Boleh sayang, pesan aja yang aku suka ya."

"Iya sayang."

"Devan kemana sayang?"

"Devan mau ketemu sama klien, nggak tahu sih bakal berhasil atau tidak."

"Dia yang pergi, kenapa nggak yang lain saja sayang?"

"Dia kali ini maksa mau datang, yaudah aku serahin tugas ini sama dia. Semoga sih berhasil ya sayang, semoga klien ini bisa bekerja sama, sama kita."

"Amiin."

"Sayang makanannya datang tuh. Makan dulu yuk." ajak Dery.

"Iya sayang."

**

Devan bertemu klien yang ingin bekerja sama dengan kantornya, iya melihat nama yang tidak asing baginya. Ya benar Jonatan Rafi Kusuma, manusia yang sangat dicintai oleh Bianca. Tanpa membuang waktu, Devan menolaknya. Iya hanya membaca namanya dan meninggalkan proposal milik Jonatan begitu saja. Jonathan mengejarnya, meminta penjelasan mengapa proposalnya tidak dibaca sama sekali dan langsung menolak tanpa menanyakan apapun. Apa salahnya? Jonatan meminta penjelasan, padahal ia sudah membuat proposal yang sangat baik, jelas dan rapi. Ia juga membuat perencanaan yang sangat matang dengan pengujian yang akurat. Jonatan mengejarnya, meminta agar Devan mau menerima dan membaca proposalnya kembali. Ia memohon, ia bilang; ini harapan terakhirnya setelah beberapa kali penolakan terhadapnya. Para pengunjung restoran melihatnya, tatapan orang orang mengganggu Devan, ia mengambilnya, Jonatan mulai berdiri, berkali-kali berterimakasih. Harapannya bisa ia wujudkan dengan bekerjasama dengan kantor milik Dery dan Devan.

Di kantor.

Devan kembali dan duduk di ruangannya, ia membuang proposal Jonatan ketempat sampah disamping tempat kerjanya.

"Kenapa dia harus kembali ke kota ini? gimana kalau nanti Bianca ketemu sama dia. Bianca pasti bakal sakit hati banget lihatnya."

Michelle masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.

"Sayang, aku bawain bekal buat kamu makan, maaf ya telat soalnya tadi macet."

"Iya nggak apa apa sayang. Taruh dulu disitu, nanti aku makan."

"Kamu ada masalah apa sayang, kanapa gelisah gitu?"

"Nggak apa apa, aku cuma kurang hirup udara segar aja. Aku keluar dulu ya." Devan pergi.

Michelle berkeliling diruangan Devan dan melihat proposal milik Jonatan. Ia membacanya, ia berpendapat jika proposal itu sangat bagus dan menarik. Tapi ditolak. Siapa Jonatan? Michelle bertanya dalam hatinya. Pintu terbuka, Devan melihat istrinya melihat proposal yang sudah dibuangnya langsung memarahinya.

"Ngapain kamu ambil sampah yang sudah aku buang hah!" teriak Devan.

"Sampah apa? mana ada sampah sebagus ini tulisannya. Kamu harus terima ini."

"Nggak, nggak bakal. Buang proposalnya!"

"Jonatan siapa?"

Lihat selengkapnya