Resep telah terjual, Bianca membeli beberapa aset atas namanya, mengumpulkan semua hal yang ia butuhkan agar bisa hidup slow living di desa terpencil dan jauh dari kebisingan kota metropolitan yang ia tinggali sekarang. Ia pergi ke supermarket membeli kebutuhan rumah mulai dari makanan, minuman, cemilan, obat obatan dan beberapa pakaian, ia juga membeli kasur, bantal dan selimut. Semua kebutuhan telah terpenuhi, sepertinya semua berjalan lancar sesuai keinginannya.
"Eh Bianca, kamu belanja disini juga. Kamu masih ingat aku kan, sibuk apa sekarang?" tanya Jonatan.
"Kamu udah nggak perlu tahu kesibukanku. Minggir aku mau lewat!" Bianca pergi.
"Semesta bisa tidak, tolong jangan pertemukan aku dengan dia lagi. aku capek banget." keluh Bianca.
Telepon Jonatan berdering.
"Sayang, kamu tahu Bianca itu siapa? coba deh kamu bujuk dia biar Pak Devan setuju sama proposal kita." ucap Istri Jonatan
"Bentar bentar, maksud kamu Bianca siapa, aku kenal sih satu orang yang namanya Bianca, tapi masa iya Bianca itu yang dimaksud." Jonatan tidak percaya.
"Coba aja, siapapun Bianca yang kamu kenal."
"Oke sayang aku ngerti. Sebentar sayang, aku matiin dulu teleponnya." Jonatan mematikan teleponnya.
Jonatan memutari supermarket, berharap bisa bertemu Bianca. Ia terus mencari, dengan bantuan Mbak kasir ia menemukan Bianca yang ternyata sudah keluar dari supermarket dan sedang berada diparkiran. Jonatan meninggalkan belanjaannya berusaha mengejar Bianca, ia menghentikan Bianca tepat waktu.
"Bianca, kita perlu ngomong. Aku mau tanya apa hubungan kamu sama Pak Devan."
"Bukan urusan kamu. Minggir aku mau pulang."
"Tunggu dulu, aku minta tolong sama kamu. Tolong bilang sama Pak Devan biar mau tanda tangan kontrak sama kantor kita."
"Urus aja urusan mu sendiri, aku nggak bisa bantu."
"Apapun yang kamu mau, aku bakal kabulin. Yang penting kamu bantu aku bilang sama Pak Devan biar tanda tangan kontraknya."
"Aku sama Devan nggak ada hubungan apapun, Devan juga udah punya istri, aku nggak mau ganggu mereka. Soal kontrak bisnis juga nggak ada hubungannya sama aku." Bianca pergi.
Jonatan terlihat kesal mendengar keputusan Bianca. Ia pulang dan menceritakan kejadian ini pada istrinya, Fiona. Fiona memaki Bianca, keuangan berada diujung tanduk, kantor yang mereka bangun akan bangkrut jika ia gagal bekerjasama dengan Devan dan Dery. Fiona bersikukuh melakukan apa saja agar usahanya tidak dia sia. Fiona pergi ke kedai milik Bianca yang dulu, tempat itu memang sangat terkenal siapapun pasti mengetahuinya. Sesampainya disana, Fiona menanyakan keberadaan Bianca, karyawan yang disana terus menerus bilang jika Bianca sudah bukan bos mereka lagi. Fiona tidak percaya sampai ada dititik, manager mendatangi dan memperkuat jika Bianca memang sudah bukan bos mereka lagi. Fiona mundur dan berganti strategi. Ia menanyakan keberadaan Bianca pada karyawan yang disana dan pada manager, mereka kompak menjawab jika Bianca biasanya akan datang pukul satu siang. Fiona terpaksa menunggunya memesan beberapa makanan dan segelas minuman. Jam satu terlewati, Bianca belum juga terlihat. Dua jam menunggu, Bianca tetap saja tidak ada. Fiona memutuskan untuk pulang dan kembali keesokan harinya, berhari hari ia datang jam satu siang dan menunggu akhirnya usahanya membuahkan hasil. Fiona memaki, melabrak dan mengata ngatai Bianca, kemarahan Fiona memuncak ketika Bianca memang pernah ada hubungan dengan Jonatan. Karyawan yang ada disana mencoba melerai keduanya, Bianca tetap tenang pada posisinya dan melemparkan sebuah flashdisk yang ia bawa pada Fiona, Fiona pergi dengan perasaan campur aduk, ia memikirkan apa isinya. Bianca menemui manager untuk bisa menemui pemilik kedai yang baru.
"Siang Pak, saya mau naruh saham disini."
"Saham bagaimana ya? saya tidak membuka investasi apapun." ucap Pak Tomo pemilik kedai.
"Saya lihat kedai ini semakin besar dan ramai, saya tertarik untuk investasi disini." jawab Bianca.
"Ohhh saya ingat, kamu Bianca kan? pemilik kedai ini dulu? oke oke soal investasi kita bicarakan besok saja. Sekalian saya mau buat kontraknya, saya bakal setuju kamu investasi disini."
"Baik Pak, terimakasih."
Bianca menuju parkiran dan melihat ban motornya kempes, ia sudah menduga ini pasti ulah Fiona, tak ingin berfikir hal yang menguras energinya, ia mendorong motornya menuju bengkel terdekat dan memperbaikinya. Bianca menceritakan kejadian ini pada Shireen, Shireen hanya menyuruhnya sabar, semua pasti akan berlalu.
"Aku udah ngasih flashdisk yang dulu Devan kasih ke aku. Semoga Fiona liat sendiri kenapa mereka ditolak sama Devan dan itu nggak ada hubungannya sama aku." Bianca menjelaskan.
"Hah flashdisk? flashdisk yang mana?"
"Video mereka berdua." jawabnya singkat.
"Kamu nekat banget Bi, udahlah jangan dendam, lupain aja mereka."
"Aku udah berusaha buat lupa, tapi mereka maksa aku berbuat begini. Aku nggak bisa tahan lagi, mereka harus tahu kenapa Devan menolaknya."
"Ini ulah mereka sendiri, bisa bisanya nyalahin aku." lanjut Bianca.
"Sejak kapan Fiona pantau kamu?"
"Kurang tahu, tapi aku nanya karyawan disana katanya udah lama, nggak ku pikirin sih, cuma aku jadi khawatir kalau mereka balas dendam."
"Oiya, nilai proyek kalian berapa sampai Fiona kekeh minta Devan buat tanda tangan?"
"Milyaran." jawabnya singkat.
"Pantas saja, kayaknya aku harus siap siap kalau emang mereka bakal balas dendam."
"Iya pasti, semoga baik baik aja kamu. Soal Jonatan dia udah sukses kah sampai punya perusahaan sendiri?"
"Mana ada, orang dia nikah sama orang kaya, kantor yang ditempati Jonatan juga milik istrinya, Kantor mereka bakal bangkrut kalau gagal kerjasama dengan kalian."
"Kok kamu tahu?"
"Udah ketebak sih, orang nilai proyeknya milyaran katamu."
"Kamu mending hati hati deh sama Jonatan dan keluarganya, takut mereka balas dendam."
"Pasti sih."
"Ngomong ngomong, orang tuamu tahu soal ini?"
"Nggak tahu, aku nggak mau nambah beban buat orangtuaku. Tapi kalau mereka sampai nekat sentuh orangtuaku, bakal ku bunuh mereka."
"Devan tahu soal ini?"
"Nggak, yang ada nanti aku ribut sama istrinya. Kamu jangan kasih tahu masalah ini ke siapapun ya, cukup kita berdua aja yang tahu. Aku bisa kok atasi semua ini sendiri. Kalau ada apa apa sama aku, aku bakal kabarin kamu."
"Kamu butuh bantuan soal apa? biar aku sama suamiku yang urus."
"Tenang aja. Nanti aku infoin semuanya."
"Oke."
Bianca pulang setelah bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Ia lebih berhati-hati, di jalan ada seseorang yang mencoba menabraknya namun ia selamat hanya saja motornya rusak dan hancur. Keajaiban terjadi padanya, tidak ingin membuang waktu dan berlarut dalam kesedihan, ia membeli motor yang sama dengan miliknya yang hancur tersebut dan kembali menuju rumah.
"Dia selamat, aku harus hancurin dia gimanapun caranya." ucap Fiona.
Melihat rekaman cctv yang Bianca berikan padanya, Fiona semakin dendam, ia bertekad akan menghancurkan Bianca bagaimanapun caranya. Ia masih berfikir darimna Bianca mendapatkan rekaman tersebut. Fiona pergi dengan kesal.
Fiona menceritakan hal ini pada Ibu Jonatan yang tidak lain adalah mertuanya, kegagalan proyek ini disebabkan oleh Bianca, uang milyaran yang seharusnya sudah ditangan harus hilang begitu saja padahal mereka sudah membuat perencanaan yang matang. Devan sibuk dengan keluarga kecilnya, Shireen menceritakan tentang ini pada suaminya, Dery.
"Bantu Bianca, kalau perlu kita sewa polisi biar Bianca aman."
"Itu terlalu mencolok, Bianca pasti nggak mau. Bianca juga nggak mungkin kita bawa ke kantor, Michelle pasti bakal bikin Bianca nggak betah di sana."
"Sayang, besok Michelle nggak ke kantor, dia ada pesta keluar kota sama teman-temannya, besok bawa Bianca ke kantor aja dulu."
"Iya sayang."
Tidak tahu bagaimana ceritanya namun kemana pun Bianca pergi, ia selalu ditemukan oleh Jonatan dan keluarganya. Kali ini Ibu Jonatan melabrak Bianca, mereka debat sampai Bianca sendiri tidak mampu mengontrol emosinya.
"Anakmu tuh hamilin anak orang." teriak Bianca.
Shireen menutup mulut sahabatnya dan membawanya masuk ke kantor.