Hening Arwah

Penulis N
Chapter #1

1

Tidak ada yang benar-benar siap ketika langit mulai retak.

Orang-orang mengira itu hanya fenomena alam biasa—seberkas cahaya yang membelah cakrawala saat senja. Tapi yang melihatnya lebih dekat tahu: itu bukan cahaya. Itu luka. Dan dunia, untuk pertama kalinya, terlihat rapuh.

Di pusat ibu kota tua, jam kota berhenti berdetak. Detik tak bergerak. Bayangan tak berubah. Seekor burung yang terbang ke arah utara tak pernah sampai ke ujung horizon. Segalanya membeku dalam keabadian yang memusingkan.

Kecuali satu orang.

Seorang pemuda berdiri di antara waktu yang tak lagi mengalir. Nafasnya masih naik turun. Matanya menatap ke atas, ke arah celah langit yang berpendar seperti retakan kaca. Di tangannya, sebuah jam saku tua berdenyut perlahan. Detiknya hidup.

Namanya Rei.

Ia bukan pahlawan. Ia bukan orang yang dipilih ramalan. Tapi ia satu-satunya yang masih bergerak dalam dunia yang diam. Satu-satunya yang bisa mendengar gema bisikan dari celah di langit itu.

"Waktumu tidak milikmu lagi," kata suara asing yang datang dari bayang-bayang. "Kau akan membayar setiap langkahmu dengan ingatan, setiap keputusanmu dengan kehilangan."

Rei tak menjawab.

Ia hanya menutup jam sakunya, melangkah melewati orang-orang yang membeku seperti patung, dan berjanji dalam hati: jika dunia ini memang harus runtuh, maka ia akan mencari alasan agar kehancurannya berarti. Atau... mencegahnya sepenuhnya.

Dari kejauhan, gemuruh terdengar dari balik celah langit.

Dan petualangan pun dimulai—bukan dari takdir, tapi dari pilihan.

Langkasari, kota kecil yang selalu bangun dengan kabut tipis dan aroma tanah basah. Di sanalah Rei Andaka memulai harinya—dalam diam, seperti biasa.

Pukul 05.40, ia sudah berdiri di depan rumah duka. Tangannya yang bersarung lateks menggenggam seikat bunga kenanga. Udara dingin menyusup di antara kerah bajunya, tapi ia tak menggigil. Sudah terbiasa. Dalam pekerjaannya sebagai pengantar jenazah, dingin bukan lagi musuh, hanya teman yang selalu hadir lebih dulu dari siapa pun.

Hari ini, jenazah anak kecil—perempuan, usia lima tahun. Leukemia, kata dokter. Terlalu muda untuk pergi, terlalu cepat untuk dilupakan. Ayah dan ibunya menangis dalam senyap yang sesak. Rei menunduk hormat, lalu mengatur peti kecil itu ke dalam mobilnya dengan penuh kehati-hatian.

Di dalam mobil, saat mesin mulai berderu, Rei menarik napas panjang.

"Aku ingin melihat matahari sekali lagi."

Suaranya pelan. Bukan dari speaker. Bukan dari telinga. Tapi terdengar jelas—dalam benaknya. Lembut, seperti bisikan dari balik kabut.

Itu suara si kecil.

Rei menoleh pelan ke arah peti yang diam. Ia tidak menunjukkan keterkejutan. Suara-suara seperti itu bukan hal baru baginya. Ia telah mendengarnya sejak usia enam belas, sejak kematian ibunya yang pertama kali "berbicara" padanya setelah pergi.

Kemampuan itu datang begitu saja. Tidak ia minta, tidak ia tolak. Sekarang sudah jadi bagian dari hidupnya.

"Langit... warna jingga... seperti jus mangga, ya?"

Rei menyipitkan mata. Matahari mulai merayap dari balik pegunungan. Ia melambatkan laju mobil, lalu berhenti sejenak di tepi jalan yang menghadap ke timur.

Ia turun, membuka pintu belakang, lalu membiarkan cahaya pagi menyentuh peti jenazah itu.

Diam-diam, ia tersenyum kecil.

"Lihat baik-baik," bisiknya.

Suara itu tak muncul lagi. Tidak perlu.

Beberapa jam kemudian, jenazah dimakamkan. Keluarga dan pelayat pulang satu per satu, membawa bunga dan doa yang menggantung di udara. Rei tetap tinggal sampai liang ditutup dan batu nisan ditancapkan.

Kemudian, hening.

Ia duduk di tepi makam itu sebentar, menunggu... apakah akan ada suara yang tersisa. Tapi tak ada. Hanya desir angin.

Ia tahu, arwah si kecil sudah pergi. Tenang. Damai.

Seperti biasanya.

Namun malam itu, saat ia membuka pintu rumah dan meletakkan kunci di atas meja, telepon rumahnya berdering. Jarang sekali ada yang menelepon. Hanya orang-orang yang tahu pekerjaannya, atau yang sedang kehilangan.

Ia angkat.

"Rei Andaka," jawabnya singkat.

Suara di ujung sana terdengar serak.

"Pak Rei... besok pagi, bisa bantu antar adik saya... Liana Nirmala. Ia... meninggal tadi sore."

Rei membeku. Nama itu... seolah menyayat lapisan tipis dari masa lalu yang sudah ia simpan rapat-rapat.

Liana.

Ia pernah mengenalnya. Guru muda yang selalu tersenyum, yang mengajar di SD Langkasari. Kakak dari—

Suara di ujung sana kembali terdengar.

"Maaf, saya... Saka. Saka Arlien."

Jantung Rei terasa seperti diputar dari dalam.

Saka.

Nama itu membangkitkan kenangan yang bahkan tak pernah ia izinkan keluar dari pikirannya. Kenangan tentang senja di belakang sekolah. Tentang kata-kata yang tak sempat diucapkan. Tentang rasa yang ia kubur dalam-dalam, bertahun-tahun lamanya.

"Saya akan datang," jawab Rei akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar, namun cukup.

Setelah sambungan telepon terputus, Rei menatap cermin kecil di ruang tamunya. Bayangannya sendiri menatap balik dengan mata sayu.

Ia tahu, malam ini akan panjang.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa suara berikutnya mungkin... tidak akan mudah pergi.

Pagi itu, kabut belum sepenuhnya hilang dari jalanan Langkasari ketika Rei tiba di rumah duka. Mobilnya berhenti tepat di depan pagar besi berkarat yang diselimuti tanaman rambat. Udara terasa lebih lembap dari biasanya. Langit masih kelabu, seolah ikut berduka.

Rei melangkah pelan, membawa map berisi dokumen yang harus ditandatangani keluarga. Tapi yang membuat langkahnya ragu bukanlah dokumen itu—melainkan suara-suara dari dalam rumah. Bukan arwah. Bukan pula bisikan yang hanya ia dengar. Itu suara tangis manusia. Patah yang nyata.

Seorang pria muda keluar menyambut. Tinggi, mengenakan jaket hitam yang terlalu tipis untuk cuaca seperti ini. Rambutnya sedikit berantakan, mata sembab tapi masih menyimpan sisa nyala yang familiar.

Saka Arlien.

Delapan tahun. Sudah delapan tahun sejak terakhir kali mereka bertatap mata. Tapi tatapan itu masih sama—tenang di luar, hancur di dalam.

Lihat selengkapnya