Rei berdiri membeku di depan pola abu itu. Meski hanya serpihan kelabu yang nyaris lenyap ditiup angin malam, bentuknya jelas bukan sembarang coretan. Simbol-simbol asing dengan lekukan yang mengular seperti akar tua, terukir rapi dalam formasi yang tak lazim. Ia berjongkok perlahan, menyentuh bagian pinggir pola, lalu menarik napas dalam.
"Ini bukan hanya mantra pemanggil," gumam Rei. "Ini segel. Penjebak."
Saka menatap Rei, ekspresi cemas bercampur bingung. "Kamu ngerti artinya?"
Rei mengangguk pelan. "Simbol-simbol ini berasal dari naskah lama. Digunakan oleh para penjaga gerbang—mereka yang dulu mengawasi jalur antara dunia hidup dan arwah."
"Penjaga gerbang?" ulang Saka, nyaris tak percaya.
Rei menatapnya. "Dulu ada komunitas yang hidup berdampingan dengan dunia kematian. Mereka percaya bahwa arwah tidak sekadar pergi begitu saja, tapi melewati gerbang-gerbang tersembunyi. Salah satunya... Arung Senyap."
Saka menelan ludah, merasakan bulu kuduknya meremang. "Kamu percaya semua itu nyata?"
Rei tak menjawab. Ia menoleh ke arah jendela, di mana bayangan samar Liana muncul sesaat, berdiri dalam gaun putih yang sama saat pemakaman tadi siang. Wajahnya pucat, nyaris tak berbentuk. Tapi matanya menatap langsung ke arah Rei—penuh rasa minta tolong.
Kemudian hilang.
"Besok pagi kita harus ke desa tua di utara," ujar Rei tiba-tiba. "Tempat asal Liana dulu mengumpulkan data. Aku yakin, semua ini bermula dari sana."
Saka mengangguk tanpa ragu. "Aku ikut."
Matahari belum sepenuhnya terbit saat mobil tua mereka menyusuri jalan berkelok menuju Desa Kerta. Desa itu sudah lama tak tercatat dalam peta resmi. Letaknya tersembunyi di balik lereng, dikelilingi hutan dan sungai yang jarang dilewati orang. Dulu desa ini sempat ramai, namun sejak beberapa dekade lalu, penduduknya perlahan menghilang. Banyak yang mengatakan karena urbanisasi. Tapi ada juga yang bilang... karena kutukan.
Rei dan Saka turun dari mobil dan disambut sunyi yang menggantung berat di udara. Rumah-rumah kayu berdiri dalam diam. Catnya mengelupas, jendela-jendela tertutup rapat seperti tak ingin melihat dunia luar. Tidak ada suara burung, tidak ada derik serangga. Hanya desir angin yang terasa dingin meski matahari mulai naik.
"Merinding," bisik Saka.
Rei berjalan lebih dulu, melewati pagar bambu yang setengah roboh. Di ujung jalan tanah yang berlumut, berdiri bangunan tua yang dulunya balai desa. Di sinilah Liana terakhir kali mencatat temuannya. Rei membuka pintu yang tak terkunci dan masuk ke dalam.
Debu beterbangan saat mereka melangkah di lantai kayu yang berderit. Di sudut ruangan, ada tumpukan kertas tua. Rei segera mengenali tulisan tangan Liana. Ia memungut satu lembar, membacanya cepat.
"Ada semacam pengetahuan lisan di sini. Penduduk lama menyebutnya 'Ngeréka'. Upacara menjaga batas antara dunia. Mereka percaya suara-suara dari seberang bisa menyusup jika batas dilanggar. Dan jika suara itu masuk... mereka tidak bisa keluar lagi. Mereka akan terjebak. Bersama arwah lain."
Rei menggenggam kertas itu erat. "Dia tahu. Dan dia hampir menemukan kuncinya."
Saka memeriksa papan kayu di dinding. Ada bekas ukiran samar—sebuah pola yang mirip dengan segel abu di krematorium. "Rei... lihat ini. Sama seperti simbol tadi malam."
Rei mengangguk. "Ini bukan kebetulan. Desa ini menyembunyikan sesuatu. Dan Liana menemukannya."
Tiba-tiba, dari lantai atas, terdengar suara langkah—pelan dan berat. Padahal mereka yakin tempat ini kosong.
Saka menegang. "Ada orang?"
Rei mendekap kertas catatan Liana, lalu menatap ke arah tangga. Langkah itu berhenti. Sunyi menggema. Tapi perasaan mereka berkata: sesuatu sedang mengawasi. Bukan manusia. Tapi sesuatu yang pernah hidup... dan belum siap pergi.
Perjalanan mereka baru saja dimulai. Dan di balik diamnya Desa Kerta, kebenaran tentang Arung Senyap dan nasib Liana menanti untuk diungkap—dengan harga yang tak murah.
Rei berdiri di ujung tangga kayu yang usang, mencoba mengendalikan detak jantung yang mendadak meningkat. Suara langkah itu tidak muncul lagi, tetapi keheningan di sekitar terasa begitu pekat, seolah ruangan menahan napas. Saka memegang senter dan menyorotkan cahaya perlahan ke lorong-lorong gelap lantai atas.
"Kalau ini memang tempat terakhir Liana, pasti ada sesuatu yang tersembunyi di sini," bisik Rei. "Entah itu catatan, atau... sesuatu yang lebih berbahaya."
Mereka mulai menyusuri lorong sempit dengan dinding berlumut, setiap langkah kayu tua berderit pelan. Di ujung lorong, ada sebuah pintu kecil yang hampir tersembunyi oleh sarang laba-laba. Rei meraih gagang pintu dan membukanya perlahan.
Di dalam ruangan kecil itu, mereka menemukan sebuah meja kayu yang penuh dengan buku-buku tua dan gulungan kertas. Di atas meja, ada sebuah buku kulit berwarna cokelat gelap yang tampak lebih baru dibandingkan benda lain di ruangan. Rei membuka buku itu dan melihat tulisan tangan yang rapi namun penuh simbol-simbol aneh.
"Ini catatan Liana," ujar Rei pelan. "Atau setidaknya sesuatu yang dia temukan."
Saka memperhatikan isi buku dengan seksama. "Apa maksud 'Ngeréka' yang tertulis di sini?"
Rei membaca dengan suara rendah, "Menurut catatan ini, 'Ngeréka' adalah ritual kuno yang dilakukan oleh penduduk desa untuk menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia arwah. Mereka percaya ada garis tipis yang membatasi kedua dunia, dan jika garis itu terganggu, maka kekacauan akan terjadi."
Saka mengerutkan dahi. "Kekacauan seperti apa?"
"Tulisan ini bilang bahwa arwah-arwah yang tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka akan terperangkap di 'Arung Senyap', sebuah tempat di mana waktu dan ruang menjadi kabur, dan arwah kehilangan identitasnya. Lebih buruk lagi, ada entitas yang menghuni tempat itu dan mencoba mengikat arwah ke dunia ini selamanya."
Saka menatap Rei dengan serius, "Kamu yakin Liana terjebak di sana?"