Angin lembut meniup pucuk-pucuk pepohonan saat Rei, Liana, dan Saka menuruni bukit dari Altar Penyegelan. Tidak ada kata yang terucap di antara mereka. Dunia seperti memberi ruang bagi diam, membiarkan hati mereka mencerna peristiwa yang baru saja terjadi. Tanah tempat mereka berpijak bukan lagi tanah yang sama. Ada sesuatu yang berubah—tenang, tetapi tak sepenuhnya damai.
Di kejauhan, langit mulai beranjak keemasan, senja merangkak pelan. Bayangan mereka bertiga memanjang di antara rerumputan tinggi.
"Kita berhasil," ujar Liana akhirnya, suaranya pelan seperti gumaman doa.
"Untuk sekarang," jawab Rei, menggenggam liontin kecil yang kini tergantung di lehernya—pecahan terakhir dari tiga kunci yang telah melebur.
Saka menatap ke arah hutan yang mereka lalui sebelumnya. "Tapi serigala itu bilang... ini hanya permulaan."
"Dan kita akan siap saat waktunya tiba," balas Rei mantap.
Mereka memutuskan kembali ke Desa Angkara—tempat awal perjalanan mereka dimulai, juga tempat banyak pertanyaan lahir. Saat memasuki batas desa, penduduk terlihat sudah berkumpul di alun-alun, seolah menanti mereka. Wajah-wajah cemas berubah lega saat melihat ketiganya.
Pak Lurah Bram mendekat dengan tergesa. "Syukurlah kalian selamat! Tadi langit berubah gelap, tanah sempat bergetar hebat. Kami takut... sesuatu yang buruk terjadi."
Rei mengangguk sopan. "Kami... berhasil menyegel kekuatan jahat yang lama terkubur."
Bram menatap mata Rei sejenak, seolah mencoba memastikan apakah kata-kata itu bukan sekadar penghiburan. Namun sorot mata Rei cukup menjadi jawaban.
"Kami tahu kalian bukan orang biasa sejak pertama kali datang," ucap Bram. "Dan sekarang, desa ini berhutang nyawa pada kalian."
Namun ketiganya tidak mencari pujian. Mereka hanya ingin memastikan bahwa tempat ini tidak lagi menjadi jalur masuk kekuatan jahat yang pernah tidur selama ratusan tahun.
Malam itu, desa mengadakan perjamuan kecil. Penduduk menyalakan lentera, menyusun meja makan di bawah langit terbuka, dan menyajikan makanan sederhana yang mereka miliki. Meski tidak mewah, suasana hangat terasa menyelubungi hati semua orang.
Liana duduk agak terpisah, memandangi langit malam yang dihiasi ribuan bintang. Di sampingnya, Saka ikut duduk, membawa dua cangkir teh jahe hangat.
"Kau masih memikirkan Kaldran?" tanyanya.
Liana mengangguk perlahan. "Entah kenapa, aku merasa... dia belum sepenuhnya lenyap. Hanya tertidur kembali, menunggu celah kecil."
Saka menyerahkan secangkir padanya. "Mungkin benar. Tapi sekarang kita punya waktu. Dan kita punya satu sama lain."
Di sisi lain lapangan, Rei duduk bersama anak-anak desa yang memintanya bercerita. Tapi kisah yang ia bagikan bukan tentang pertarungan atau monster, melainkan tentang keindahan tempat-tempat yang mereka lewati, tentang hutan yang bisa berbicara, dan danau yang bisa menangis.
Tiba-tiba, seorang gadis kecil menarik lengan bajunya. "Kak Rei, aku dengar ibu bilang ada suara nyanyian dari dalam tanah sebelum bumi bergetar. Apa Kakak dengar juga?"
Rei menatap bocah itu. "Nyanyian?"
"Ya! Katanya, tanah seperti bernyanyi. Tapi suaranya pelan sekali. Kayak suara yang sedih."
Rei terdiam. Hatinya bergidik pelan.
Liana dan Saka pun mendekat setelah mendengar percakapan itu. "Itu bukan hal biasa," ucap Liana pelan.
Rei menatap keduanya. "Mungkin penyegelan tadi... membangunkan sesuatu yang lain."
"Tanah sunyi," gumam Saka.
"Apa maksudmu?" tanya Liana.
"Dalam cerita lama keluargaku, ada tempat yang disebut Tanah Sunyi. Sebuah wilayah di ujung timur yang tak pernah dikunjungi manusia karena konon di sana, roh-roh yang ditolak dunia berkumpul dan bernyanyi tanpa suara."
Rei berdiri perlahan. "Kalau benar, bisa jadi itu tujuan selanjutnya."
Liana menarik napas dalam. "Kalau Kaldran belum sepenuhnya hilang, mungkin dia mencari jalan ke sana. Tempat yang tak memiliki penjaga."
Malam yang tadinya terasa hangat, kini kembali diselimuti bayangan kemungkinan.
Dan di kejauhan, dari balik pepohonan, seekor burung hitam bertengger diam. Matanya bersinar merah redup, memandangi perayaan kecil itu dari kejauhan.
Burung itu lalu terbang tinggi, meninggalkan kepakan bayangan gelap ke arah timur.
Menuju Tanah Sunyi.
Keesokan paginya, langit tampak pucat. Awan menggantung rendah di atas Desa Angkara, seolah menahan sesuatu di balik kelamnya. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, angin berembus membawa aroma lembab dari timur.
Rei berdiri di pinggir desa, memandangi jalan tanah yang mengarah ke arah itu—tempat yang kini disebut oleh Saka sebagai Tanah Sunyi. Di tangannya, ia menggenggam peta tua yang diberikan Pak Lurah Bram semalam. Meski sudah lusuh dan sebagian sobek, di pojok kanan bawahnya terdapat simbol lingkaran hitam, ditandai dengan tulisan samar: Terlarang. Sunyi.
Tak lama, Saka dan Liana menyusul, masing-masing membawa ransel kecil. Mereka sudah siap. Tidak perlu banyak persiapan. Mereka tahu, apa pun yang menanti di ujung perjalanan, tidak bisa dihadapi hanya dengan perlengkapan.
"Aku tanya orang-orang tua di desa tadi pagi," kata Saka sambil mengencangkan sabuk pedangnya. "Tak satu pun dari mereka berani bicara tentang Tanah Sunyi. Beberapa bahkan menyuruhku jangan menyebut namanya."
"Semakin banyak yang takut menyebutnya, semakin besar kemungkinan tempat itu menyimpan kebenaran," jawab Rei tenang.
Liana menggenggam kalungnya. "Kaldran... dia mungkin belum sepenuhnya lenyap. Tapi kupikir, apa pun yang masih hidup darinya kini bersembunyi di sana."
Perjalanan dimulai tanpa upacara, tanpa pamit yang muluk. Penduduk hanya mengantar mereka dengan doa dalam diam. Satu per satu, jejak kaki meninggalkan desa menuju wilayah timur yang belum pernah dijelajahi.
Sepanjang perjalanan, hutan berganti padang, padang berganti bukit tandus. Langit seolah mengikuti mereka, awan tak jua beranjak. Di tengah hari, mereka berhenti sejenak di tepi sungai kecil. Liana mengisi botol air, sementara Rei menatap pusaran air di aliran sungai dengan ekspresi berat.
"Apa kau merasa... tanah ini terlalu sepi?" tanya Rei tiba-tiba.