Langkahnya berat namun penuh keanggunan. Setiap denting rantai yang menyeret tanah di belakangnya terdengar seperti gema dari neraka. Sosok itu tinggi menjulang, jubahnya hitam pekat seperti ditenun dari malam itu sendiri, dan wajahnya tersembunyi di balik topeng logam berukir simbol-simbol kuno. Mata merah menyala dari celah topeng, menyorot langsung ke arah Rei.
"Pengorbanan belum selesai," suaranya bergema, bukan melalui udara, tapi langsung di kepala mereka—dingin, menusuk, dan tak bisa diabaikan.
Rei berdiri tegak di depan altar, menahan langkah Kaldran yang semakin dekat. Bola suara yang tadinya bersinar terang kini telah menjadi serpihan, mencair ke dalam pusaran cahaya di altar. Ralya telah pergi.
"Kami takkan mengorbankan siapa pun lagi," ucap Rei, suaranya mantap walau dadanya sesak.
Kaldran berhenti beberapa langkah dari altar, mengangkat satu tangan yang dibalut besi. "Kalian membangunkan arwah yang seharusnya tetap tidur. Suara-suara yang tersembunyi kini tahu jalan pulang, dan itu membahayakan keseimbangan. Kau pikir ini hanya tentang menyelamatkan suara?"
Liana merapat ke belakang Rei, jurnalnya terbuka di tangan, halaman berkedip aneh, seolah-olah tinta hidup tengah bergerak sendiri. "Dia bukan hanya penjaga... dia penjara itu sendiri," gumamnya, terpana. "Kaldran tak menjaga suara. Dia menghisapnya. Menyimpannya agar tak pernah terdengar lagi."
Saka mengangkat busurnya. "Dan apa kau akan menghentikan kami sendirian, Kaldran?"
Kaldran menoleh padanya. "Aku bukan sendiri."
Dari dinding-dinding gua, muncul bayangan-bayangan panjang. Sosok-sosok berkerudung hitam, tubuh mereka kabur seperti asap, namun mata mereka menyala merah seperti milik Kaldran. Enam arwah penjaga yang telah dikutuk untuk melayani sang Penjaga Utama—roh-roh yang pernah hidup, pernah bicara, dan kini dipaksa menjadi senyap abadi.
Rei mencabut belati suara dari pinggangnya. "Kita lawan mereka."
"Tidak!" potong Liana cepat. "Kaldran tak bisa dibunuh dengan senjata biasa. Kita harus memutus sumber kekuatannya—pilar suara itu!"
Ia menunjuk ke enam tiang yang kini menyala terang, namun satu di antaranya mulai meredup: pilar burung gagak, tempat Rei menyerahkan bola suara Ralya. Cahaya merah di tiang itu mulai diserap kembali oleh pusaran di altar—oleh Kaldran.
Rei berlari menuju tiang itu, namun dua bayangan penjaga menyerangnya dari samping. Saka menembakkan dua anak panah, satu menusuk dada salah satu penjaga yang langsung meledak menjadi kabut hitam, sementara yang lain tertahan sejenak oleh busur cahaya milik Liana.
Rei berhasil menyentuh tiang. Jari-jarinya bersinar, seolah mengenali resonansi suara Ralya yang masih tersisa. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh energi pada satu tujuan: lepaskan.
Gema keras meledak dari tiang. Pilar itu pecah menjadi ribuan cahaya kecil, beterbangan seperti kunang-kunang merah. Kaldran meraung—jeritan yang menusuk kepala mereka, suara dari makhluk yang tak terbiasa kehilangan.
"SATU SUARA TELAH LEPAS! KAU AKAN MENYESAL!" teriaknya, dan dalam sekejap, ia melompat ke arah altar.
Namun Saka melompat lebih cepat, menabrak Kaldran dan menghambatnya cukup lama agar Liana sempat membaca mantra dari jurnalnya. Di udara, simbol-simbol tua menyala, membentuk lingkaran pelindung di sekeliling altar.
"Rei, cepat! Pilar berikutnya!" jerit Liana.
Rei bergerak tanpa ragu, meluncur ke tiang berikutnya—yang berukir matahari terkoyak. Begitu tangannya menyentuh batu itu, suara-suara lain mulai berdentum dari langit-langit gua, seperti gendang perang yang lama dilupakan. Cahaya meledak lagi, dan satu arwah penjaga lenyap begitu saja.
Dua tiang telah dilepaskan. Empat tersisa.
Namun tubuh Kaldran mulai berubah—rantainya menjalar ke langit-langit, dan bayangannya makin besar, memenuhi seisi ruangan. "Aku adalah hening itu sendiri!" raungnya. "Dan kalian takkan pernah mendengar satu pun suara lagi!"
Rei menoleh, napasnya berat, namun matanya menyala penuh tekad.
"Kalau begitu," katanya, "kami akan membuatmu mendengar semuanya."
Tiang ketiga bersinar redup. Ukiran pada batu itu menunjukkan seekor serigala melolong di bawah bulan retak. Rei melangkah cepat, namun tubuhnya limbung—penggunaan kekuatan dari dua tiang sebelumnya telah menguras energinya. Setiap langkah seperti menapak di atas genangan arwah yang menjerat kaki.
Liana memekik, "Rei! Gunakan bola suara yang tersisa, gunakan gema Ralya sebagai jembatan!"
Rei merogoh sakunya. Bola suara Ralya telah hancur, tapi serpihannya masih menghangat, seolah sebagian kecil dari nyawa itu tetap hidup. Ia menekankan serpihan itu ke ukiran serigala—dan seketika, batu tiang bergetar, mengeluarkan suara lolongan menyayat yang menggema dari dinding gua ke seluruh lembah.
Pilar meledak dalam kilatan cahaya perak. Bayangan Kaldran menggeliat seakan kesakitan, tubuhnya terhuyung seperti terkena sengatan. Salah satu rantai di pundaknya terputus, jatuh ke tanah dan menciptakan retakan yang membelah lantai altar.
Saka, meski tubuhnya penuh luka dari benturan sebelumnya, tertatih menyiapkan panah. "Tiga suara dibebaskan. Tiga lagi—kita bisa melakukannya!"
Namun Kaldran meraung, kali ini lebih dari sekadar kemarahan. Ini adalah suara dari arwah yang tahu akan akhir. Ia mengangkat kedua tangannya, dan dari lantai altar, muncul lubang hitam berputar—pusaran waktu, tempat suara-suara mati dibuang.
"Jika kalian ingin membuka semuanya, maka rasakan semuanya!" Kaldran menghantam tanah dengan tongkat besinya. Dari pusaran itu, keluar gema-gema menyiksa: jeritan anak kecil, tangisan ibu, bisikan doa yang diputus, dan tawa yang berubah menjadi ratapan.
Liana menjerit, menutup telinganya. "Itu... suara-suara yang tak pernah selesai. Gema terputus... roh yang ditinggalkan tanpa jawaban."
Rei nyaris jatuh, tubuhnya menggigil, tapi suara Ralya kembali terdengar—lembut di benaknya, seperti belaian angin.
"Rei... suaraku masih ada di dalammu. Jangan biarkan mereka diam."
Dengan kekuatan sisa, Rei bangkit dan berlari menuju tiang keempat. Ukiran pada batu itu adalah sepasang tangan terpisah oleh gelombang. Rei menempelkan serpihan terakhir bola suara ke tengah ukiran.
Tiang itu tidak segera bereaksi. Butuh lebih dari sekadar serpihan. Rei memejamkan mata dan mengingat semua suara: lagu yang Ralya nyanyikan, suara tawa mereka, dan bisikan harapan di malam pertama mereka menemukan altar.