Hening Arwah

Penulis N
Chapter #10

10

Perjalanan menuju Sumber Sunyi tak tertulis di peta mana pun. Hanya catatan samar dalam gulungan tua yang menunjukkan arah—"di tempat di mana semua gema menghilang sebelum dilahirkan." Kalimat itu tak memberi petunjuk jelas, tapi Rei tahu: tempat itu tak akan dikenali dengan mata biasa, melainkan dengan hati yang pernah kehilangan.

Selama empat hari mereka menyusuri lembah-lembah gelap dan jurang tak bernama. Malam hari, mereka mendengar bisikan dari udara, suara-suara asing yang belum pernah terdengar sejak Kaldran dikalahkan. Seolah gema-gema liar masih mencari tubuh untuk ditinggali.

Pada hari kelima, mereka tiba di sebuah dataran tandus yang tak pernah dijamah cahaya matahari secara utuh. Langit di atasnya selalu kelabu, dan tanahnya dingin meski tanpa salju. Di sana, berdiri reruntuhan batu-batu hitam yang membentuk pola kota tua. Tak ada nama yang tertulis. Tak ada simbol pengenal. Hanya kesunyian yang berat, nyaris menyesakkan dada.

"Ini tempatnya," ucap Rei pelan. "Kota Tanpa Nama."

Liana memejamkan mata. "Tempat ini... terasa seperti luka. Seperti semua rasa sakit dunia pernah dikubur di sini."

Saka menyentuh tanah. "Tidak ada jejak kehidupan. Bahkan serangga pun tak berani melintas."

Rei memimpin langkah ke tengah kota. Mereka menemukan struktur melingkar yang menyerupai amfiteater tua. Tapi di sini, tak ada tempat duduk. Hanya dinding batu melingkar dan lubang besar di tengah—gelap, tak berdasar, seolah menelan cahaya dan suara sekaligus.

Liana berlutut di dekat pinggiran lubang. Ia mendekatkan telinganya.

"Tak ada gema..."

Saka mengangkat alis. "Apa?"

Liana menoleh dengan ekspresi ngeri. "Bahkan suara napasku... hilang."

Rei mengambil batu kecil dan melemparkannya ke dalam lubang. Tak ada bunyi. Tak ada pantulan. Seolah ruang di dalamnya tidak menerima eksistensi apa pun.

"Lubang ini... bukan sekadar jurang. Ini kuburan gema."

Di sekeliling amfiteater, mereka mulai menyadari keberadaan simbol-simbol aneh di dinding. Huruf-huruf yang bukan berasal dari bahasa manusia mana pun. Rei menyentuh salah satu ukiran, dan matanya mendadak gelap.

Dalam penglihatannya, ia melihat bayangan makhluk tinggi berjubah kabut. Mereka berdiri mengelilingi lubang, menumpahkan suara-suara ke dalamnya seperti menuangkan air ke sumur. Suara tangis bayi. Nyanyian ibu. Teriakan perang. Doa-doa terakhir.

Dan kemudian, semuanya lenyap. Tertelan. Dibungkam.

Rei terhuyung mundur, napasnya terengah.

"Ada yang sengaja membuat tempat ini. Bukan untuk menyimpan suara. Tapi untuk membunuhnya."

Liana menatap Rei, suaranya gemetar. "Jadi... ini bukan hanya sumber sunyi. Ini adalah penciptanya."

Malam turun cepat di Kota Tanpa Nama. Mereka mendirikan tenda sederhana di tepi amfiteater, namun tak satu pun dari mereka bisa tidur. Suara-suara yang dulu mereka rindukan kini menjadi mimpi buruk. Karena dari ketiadaan itulah, lahir kekuatan yang lebih berbahaya dari Kaldran.

Saka mencatat sesuatu di jurnalnya. "Kaldran adalah penjaga. Tapi siapa pembuatnya?"

Rei menjawab tanpa menoleh, "Mereka disebut dalam gulungan sebagai Para Leluhur yang Hilang. Entitas bukan manusia, bukan dewa. Mereka pencipta bahasa pertama dan juga pembunuhnya."

Liana menunduk. "Jika mereka masih hidup... mereka mungkin tak akan membiarkan suara berkuasa lagi."

Rei bangkit berdiri. Ia menghadap ke lubang dan berseru dengan suara lantang, "Jika kalian mendengar kami—ketahuilah, kami tak akan membiarkan suara mati lagi!"

Gema suaranya... tak ada.

Tapi jauh di bawah, lubang itu mengeluarkan desis.

Bukan gema.

Bukan angin.

Melainkan... jawaban.

Sesuatu telah terbangun.

Malam di Kota Tanpa Nama terasa semakin dalam, seolah tak ada batas antara waktu dan keabadian. Angin dingin yang berhembus dari lubang amfiteater membawa bisikan-bisikan samar, suara-suara yang tak bisa didefinisikan, dan bau hangus seperti kenangan yang terbakar.

Rei duduk di tepi lubang, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia tahu, apa pun yang berdiam di sana bukanlah makhluk biasa. "Mereka yang tak bernama," bisiknya pelan, mengulang istilah yang ditemukan dalam gulungan.

Liana mengeluarkan lampu minyak, menyorot dinding amfiteater yang penuh dengan ukiran. "Dulu mereka adalah penghuni asli dunia ini," ucapnya dengan suara berat. "Makhluk yang bukan manusia, bukan roh, tapi sesuatu yang berada di antara keduanya."

Saka, yang sejak tadi mencatat segala hal dengan serius, menatap mereka berdua. "Kenapa mereka mengubur suara? Apa tujuan mereka?"

Rei menggeleng. "Bukan suara yang mereka kubur, tapi jiwa. Jiwa-jiwa yang melawan kekuasaan mereka. Mereka takut suara menjadi senjata pemberontakan."

Hening menyelimuti mereka selama beberapa saat, hanya suara napas dan derit kayu tenda yang terdengar.

Tiba-tiba, lubang di tengah amfiteater mengeluarkan cahaya redup, berpendar seperti bara api di kedalaman gelap.

Rei berdiri, matanya membelalak. "Mereka merespon."

Lihat selengkapnya