Hening Arwah

Penulis N
Chapter #13

13

Tangga batu itu tak berujung. Meski kaki mereka terasa pegal, tak satu pun dari mereka berhenti. Mereka membawa satu tujuan yang lebih besar daripada kelelahan: menyatukan kota yang telah lama terpecah oleh ketakutan.

Lorong demi lorong membawa mereka semakin dalam, hingga akhirnya mereka tiba di ruang bawah tanah paling purba dari Kota Ilastra. Tak ada lampu, tapi tembok berdenyut pelan, memancarkan cahaya kehijauan yang hidup, seperti nadi.

"Tempat ini... seperti hidup," gumam Liana sambil menyentuh dinding yang hangat.

"Ini bukan sekadar kota. Ini makhluk. Sebuah kesadaran," ucap Arka lirih, mengingat bacaan kuno yang ia temukan di perpustakaan rahasia Biara Hening.

Di tengah ruangan, terdapat cekungan besar berbentuk lingkaran, menyerupai jantung. Terdapat semacam tiang kristal tinggi di tengahnya, retak di beberapa bagian. Inilah pusat dari semuanya—tempat Mata Hening pertama kali ditanam.

Saka menatap tiang itu. "Kalau kita salah menanam kembali Mata Hening, kota bisa runtuh."

Rei mengangguk. Ia menggenggam batu biru kehijauan itu dengan hati-hati. Batu itu berdenyut, seperti jantung kedua yang hidup berdampingan dengan miliknya.

Sosok bayangan yang menyertai mereka sejak aula cermin kini berdiri diam di sisi ruangan. "Mata Hening akan memilih siapa yang layak menanamkannya kembali. Tapi hati-hati... ia bisa menolak jika kalian tidak utuh."

Rei melangkah maju, tapi tiba-tiba cahaya batu melemah. Ia berhenti, menahan napas.

"Aku... tidak cukup?" bisiknya.

Liana mendekat. "Bukan karena kamu lemah. Mungkin karena kamu belum menerima satu bagian penting dari dirimu."

Rei menutup mata. Gema dari cermin terakhir muncul lagi—gambaran dirinya yang duduk sendiri di atas puing-puing kota, menang.

Ia sadar. Ia takut sendiri. Takut kehilangan.

Mata Hening merespons denyut jantungnya. Cahaya batu itu kembali bersinar perlahan.

"Bukan karena aku tidak layak... tapi karena aku harus jujur pada ketakutanku."

Ia menancapkan batu itu perlahan ke inti kristal.

Seketika, ruangan bergetar. Dinding-dinding memancarkan cahaya perak dan bayangan hitam bersamaan. Dua warna yang selama ini selalu bertentangan, kini menari bersama seperti air dan udara.

Saka mundur beberapa langkah, matanya tak lepas dari perubahan yang terjadi. "Ini... luar biasa."

Kristal itu menyerap Mata Hening, lalu mulai membentuk pola baru di lantai, seperti akar yang tumbuh menjalar ke seluruh penjuru kota. Sebuah gemuruh lembut terdengar, dan tiba-tiba, mereka semua merasakan sesuatu: udara menjadi lebih ringan, beban di dada terasa berkurang, dan suara jeritan dari Bayangan—yang dulu memekakkan—kini berubah menjadi bisikan damai.

Arka menyentuh lantai yang bersinar. "Ini... menyatu. Tidak lagi melawan satu sama lain."

Dari balik kabut, muncul makhluk-makhluk Bayangan, tapi kali ini tidak membawa aura ancaman. Mereka berjalan perlahan, mata mereka kini berwarna perak, bukan putih pekat. Salah satunya menghampiri Rei dan mengangguk dalam keheningan.

"Kami merasakan kedamaian untuk pertama kalinya sejak dikurung," ucapnya dalam suara yang seperti desir angin. "Kalian mengembalikan jantung kota."

Liana meneteskan air mata. "Jadi... kota ini benar-benar hidup?"

"Lebih dari itu," sahut Saka. "Ia mengingat. Dan ia memaafkan."

Perubahan terasa merambat cepat. Di permukaan, warga kota yang semula panik karena gangguan Bayangan, kini mulai merasakan keheningan yang tak lagi mencekam. Pohon-pohon yang layu mendadak tumbuh kembali. Bangunan yang dulunya penuh retakan mulai menyembuhkan diri.

Dari pusat bawah tanah itu, kota disembuhkan dari lukanya sendiri.

"Apakah ini akhir?" tanya Arka pelan.

Rei menatap ke langit-langit batu yang mulai membuka seperti kelopak bunga. Cahaya matahari dari atas menyorot masuk, menyinari Mata Hening yang telah menyatu di jantung kota.

"Bukan akhir," jawab Rei. "Ini permulaan yang baru."

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, keheningan di kota bukan lagi tanda bahaya.

Melainkan tanda damai.

Tiga hari telah berlalu sejak Mata Hening ditanamkan kembali ke jantung Kota Ilastra. Dan selama tiga hari itu pula, kota perlahan pulih—tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam kenangan dan luka batin yang selama ini menggerogoti warganya.

Bayangan kini tak lagi menjadi ancaman. Mereka hadir seperti roh penjaga yang melintas di antara lorong-lorong kota, memberi pertanda pada mereka yang hilang arah, menyelamatkan anak-anak yang tersesat, bahkan terkadang menyanyikan nyanyian lama yang pernah dibisikkan dalam mimpi.

Rei duduk di atas dinding batu yang menghadap alun-alun kota. Di bawah sana, warga tengah bersiap untuk perjamuan malam sebagai bentuk syukur atas pemulihan yang ajaib. Langit jingga menghampar luas di atas mereka, dan untuk pertama kalinya, tak ada kabut kelabu di cakrawala.

"Kurasa... aku belum terbiasa dengan kedamaian," kata Rei lirih saat Liana datang dan duduk di sebelahnya.

Liana tersenyum. "Itu karena kita terbiasa berlari."

Rei mengangguk. "Kupikir akan ada perang besar di akhir. Ledakan. Darah. Tapi ternyata... hanya keheningan dan kejujuran."

"Kadang, perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri," sahut Liana.

Langkah kaki terdengar mendekat. Arka, Saka, dan sosok bayangan perempuan yang kini diketahui bernama Seraphiel—penjaga terakhir Mata Hening—datang menghampiri.

"Kota meminta kita untuk hadir dalam perjamuan sebagai tamu kehormatan," ujar Arka, lalu tertawa ringan. "Aku rasa aku akan menangis di depan umum kalau diberi kalung bunga."

Saka menepuk bahunya. "Kau sudah menangis waktu menanam kacang kemarin. Jangan pura-pura kuat."

Seraphiel menyela, "Perjamuan ini bukan hanya tentang syukur, tapi juga tentang penutupan siklus. Setelah malam ini, kekuatan Mata Hening tak akan lagi tergantung pada satu orang atau satu batu. Kota ini akan belajar menjaga dirinya sendiri."

Lihat selengkapnya