Hening Arwah

Penulis N
Chapter #14

14

Pagi menyapa Ilastra dengan kabut tipis yang menggantung di antara atap-atap rumah tua. Kabut yang dulu terasa berat, kini hanya kabut biasa—tanpa bisikan, tanpa bayangan. Rei membuka jendela kamar penginapannya dan menarik napas dalam. Udara segar menusuk paru-parunya, tapi justru itu yang membuatnya merasa hidup.

Ia melihat ke luar. Seorang anak kecil tengah membantu ibunya menjemur pakaian. Seorang tukang roti menyalakan tungku di tokonya. Seorang pemuda memainkan biola di ujung gang—lagu ceria yang dahulu dianggap menantang nasib. Kini, semuanya tampak... wajar.

"Sudah siap?" Liana muncul di pintu kamar, mengenakan tas kecil di punggung.

Rei mengangguk. "Kupikir perpisahan akan terasa berat. Tapi ternyata tidak."

"Karena kau tahu ini bukan akhir, Rei. Hanya jeda," kata Liana.

Mereka berdua keluar dari penginapan dan berjalan menuju stasiun tua Ilastra, yang baru saja kembali beroperasi. Kereta hanya datang dua kali sehari. Mereka akan naik yang pagi, menuju timur—menuju desa kecil yang disebut orang sebagai 'ladang sepi', tempat laporan-laporan tentang arwah kembali bermunculan. Tapi kali ini, mereka tidak pergi untuk menyelidiki. Mereka hanya ingin mendengar, mencatat, dan jika perlu... membantu.

"Liana," Rei tiba-tiba berkata saat mereka menuruni tangga menuju peron. "Apa menurutmu... aku akan selalu bisa mendengar mereka?"

Liana menoleh, menatap matanya. "Kau sudah tak seperti dulu. Bukan hanya karena 'bisa mendengar', tapi karena kau mau mendengar. Kau membuka diri, dan itu cukup."

Kereta datang perlahan, menggeram lembut di atas rel. Penumpang naik satu per satu. Rei dan Liana duduk di gerbong tengah. Tak banyak orang pagi itu—hanya seorang kakek dengan koper besar, seorang wanita muda dengan bayi, dan pasangan yang terlihat seperti pelancong.

Di luar jendela, kota Ilastra mulai menjauh. Rei bersandar, membiarkan pikirannya mengalir.

"Lucu, ya," gumamnya. "Dulu aku ingin lari dari tempat seperti ini. Dari suara-suara. Dari kenangan. Tapi sekarang, aku justru mencari tempat seperti itu."

Liana tersenyum. "Karena kau sudah berdamai dengan bayanganmu sendiri."

Rei mengangguk pelan. Matanya tertuju pada liontin di dadanya yang masih ia kenakan. Kini bukan lagi simbol kehilangan, tapi penanda perjalanan.

Kereta melaju melewati bukit-bukit yang dulu berwarna kelabu. Sekarang, matahari menyinari lerengnya, membuat rerumputan bersinar keemasan. Rei memperhatikan hamparan itu seolah melihatnya untuk pertama kali.

"Di tempat yang akan kita tuju... ada cerita apa, ya?" tanyanya setengah bicara pada diri sendiri.

"Kita tidak tahu," jawab Liana sambil menatap ke luar. "Tapi bukan kisahnya yang penting. Yang penting adalah bagaimana kita mendengarnya."

Suara roda kereta beradu dengan rel seperti irama lambat. Rei menutup mata sejenak. Ia teringat saat pertama kali ia mendengar suara arwah. Ketakutan, gemetar, marah. Tapi kini, suara itu, jika muncul lagi, tak akan membuatnya lari.

"Liana," katanya pelan. "Aku pernah merasa... dunia ini hanya penuh hantu dan kesedihan. Tapi sekarang aku melihat... dunia ini juga penuh harapan."

"Karena harapan itu memang tidak pernah hilang. Hanya tertutup kabut sesaat."

Perjalanan berlangsung tenang. Saat kereta memasuki terowongan sebentar, bayangan melintasi wajah-wajah mereka. Rei membuka mata dan untuk sesaat, ia merasa melihat sosok wanita tua duduk di hadapannya. Wanita itu tersenyum, lalu perlahan memudar saat cahaya kembali masuk.

"Apakah itu nyata?" tanya Rei, setengah pada Liana, setengah pada dirinya.

"Entah," jawab Liana tenang. "Tapi tak semua yang nyata bisa kita sentuh, dan tak semua yang kita sentuh berarti nyata. Mungkin dia hanya ingin mengucapkan selamat jalan."

Rei mengangguk. Kali ini, ia tidak takut. Ia bahkan membalas senyum yang tak terlihat itu.

Kereta perlahan mulai melambat. Desa tujuan mereka tampak dari kejauhan—rumah-rumah kecil, jalan tanah, dan kabut tipis yang menggantung di atas danau. Di antara kabut itu, terdengar suara lonceng... dan mungkin, jika didengar saksama, suara seseorang bernyanyi pelan.

Rei berdiri. Ia siap melangkah.

Hening tak lagi menakutkan.

Hening kini adalah undangan.

Desa kecil di pinggiran timur itu tak memiliki nama yang resmi. Di peta, ia hanya ditandai dengan garis tipis dan angka koordinat. Tapi bagi penduduk sekitar, tempat itu dikenal sebagai Nirwana Kabut—bukan karena keindahannya, melainkan karena konon, orang yang masuk terlalu jauh ke dalam kabutnya akan lupa jalan pulang.

Rei dan Liana turun dari kereta. Stasiun kecil itu nyaris tak terurus, hanya bangunan tua dengan papan reyot bertuliskan "Pemberhentian No. 12." Seorang pria paruh baya menyambut mereka. Ia mengenakan jaket bulu tebal meski hari tidak begitu dingin.

"Kalian tim yang diutus dari Ilastra?" tanyanya. Suaranya parau, seperti jarang digunakan.

Liana mengangguk. "Kami datang untuk mendengar. Bukan untuk mengusir."

Pria itu tampak lega. "Syukurlah. Yang sebelumnya datang... tidak begitu sabar mendengarkan."

Mereka memperkenalkan diri. Nama pria itu Ranu, kepala dusun sekaligus penjaga hutan kabut. Ia menuntun mereka melewati jalan tanah berbatu, menuju pemukiman yang hanya terdiri dari belasan rumah.

"Dulu desa ini ramai," katanya lirih. "Tapi setelah kabut mulai bicara, satu per satu orang pergi."

Rei memperhatikan sekitar. Kabut tipis mengalir di antara pepohonan dan semak, seolah bernafas. Tapi tidak ada hawa mengancam. Justru, kabut di sini terasa seperti... diam yang penuh harap.

"Bicara soal kabut... apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Rei.

Ranu berhenti berjalan. Ia menatap kabut yang melayang di jalan kecil di depan mereka.

"Kabut datang setiap malam. Membawa suara-suara... kadang tangis, kadang nyanyian. Kadang, orang melihat sosok—anak kecil, wanita tua, bahkan bayangan kuda yang berlari. Tapi mereka tidak menyakiti."

"Lalu, kenapa orang takut?" Liana bertanya.

"Karena mereka tak bisa membedakan mana kenangan dan mana kenyataan," jawab Ranu.

Malam pertama mereka dihabiskan di rumah kosong yang dulunya dijadikan perpustakaan desa. Debu menempel di rak-rak buku. Rei menata tempat tidur tipis di dekat jendela yang menghadap ke danau. Danau itu nyaris tak terlihat karena kabut, tapi suara airnya tenang.

Malam merayap. Dan bersama malam, suara itu datang.

Pertama-tama hanya desir angin. Lalu, denting lonceng kecil, seperti milik anak sekolah. Setelah itu, nyanyian lirih—lagu nina bobo yang tak dikenal Rei, tapi terasa familiar.

Liana duduk bersila di lantai, menutup mata, mendengarkan.

"Bukan arwah yang marah," katanya pelan. "Ini... seperti suara yang terperangkap. Tak tahu cara keluar."

Rei membuka jendela. Kabut masuk perlahan, tapi tidak membuatnya menggigil. Ia berdiri, menatap luar. Dan di sana—di balik kabut, berdiri seorang anak perempuan dengan gaun putih dan mata kosong.

Rei tidak bergerak. Anak itu mengangkat tangan pelan, menunjuk ke arah danau.

"Dia ingin kita pergi ke sana," kata Rei, tanpa berpaling.

"Kita akan pergi," jawab Liana mantap. "Tapi besok pagi. Tak bijak melangkah tanpa cahaya."

Keesokan harinya, mereka menyusuri jalan setapak menuju danau. Kabut belum sepenuhnya hilang. Tapi di tepian danau, mereka menemukan sesuatu: tumpukan batu kecil, disusun seperti makam. Di atasnya, seikat bunga anyelir kering dan kertas lusuh dengan tulisan nyaris pudar:

"Untuk Rani. Maaf karena aku pulang terlalu lama."

Rei menyentuh batu itu perlahan. Tiba-tiba ia mendengar suara anak perempuan itu lagi. Bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya. Bukan kata-kata, hanya rasa: kesedihan, menunggu, terlupakan.

Liana mengambil kertas itu. "Rani... mungkin anak itu. Dan seseorang yang ia tunggu tak pernah kembali."

"Siapa yang menulis surat ini?"

Lihat selengkapnya