Hening Arwah

Penulis N
Chapter #15

15

Kembali ke kota tak terasa seperti pulang. Setelah segala keheningan dan suara-suara yang akhirnya dilepaskan, gedung-gedung tinggi dan lampu jalanan terasa asing bagi Rei dan Liana. Namun, pekerjaan memanggil mereka kembali. Dunia nyata tetap bergerak, bahkan ketika dunia arwah telah mereka bantu temukan ketenangan.

"Ini email kelima dari universitas," kata Liana, mengangkat ponselnya. "Mereka ingin kita hadir dalam simposium parapsikologi bulan depan."

Rei mengangkat alis. "Kita? Bukankah kau yang ditawari jadi pembicara?"

"Kita," ulang Liana tegas. "Mereka bilang, kalau aku bicara sendiri, ceritanya tidak lengkap."

Rei tertawa kecil. "Mereka belum tahu, kadang cerita yang tak lengkap justru menyelamatkan banyak jiwa."

Namun, percakapan mereka tak berlangsung lama. Di meja kerja Rei, sebuah kotak kecil menunggu. Tak ada pengirim. Hanya kertas kecil bertuliskan: Untukmu yang membuka telinga terlalu lebar.

Rei menatapnya lama. "Kau merasa... ini peringatan?"

Liana meraih kotak itu, membukanya perlahan. Di dalamnya ada boneka kecil, rusak dan usang. Satu matanya hilang. Di bawahnya, tertempel secarik foto: seorang anak perempuan berdiri di tengah jalanan yang kosong, menatap kamera dengan mata kosong.

"Ini... di Jalan Kayu Manis," bisik Liana. "Dekat rumah tua yang terbakar lima tahun lalu."

Rei mengangguk pelan. "Rumah yang katanya tak pernah dihuni... tapi api menyala sendiri."

Malam itu mereka mendatangi lokasi. Jalan Kayu Manis tampak biasa saja. Sepi, dingin, tapi tak ada tanda-tanda keanehan. Rumah tua itu masih berdiri, meski lapuk dan dindingnya menghitam akibat api yang dulu melahap sebagian besar atapnya.

Rei melangkah lebih dulu. "Kau dengar itu?"

Liana mengangguk. Ada suara... seperti mainan anak yang diputar—putaran musik kotak tua yang menyeramkan. Lagu itu terdengar familiar, tapi tak bisa mereka ingat dari mana.

Begitu mereka melangkah ke dalam, udara berubah. Dinginnya menusuk seperti kabut beku yang merayap hingga ke tulang.

"Ada sesuatu di sini," gumam Liana, tangannya menggenggam liontin pelindung di lehernya.

Dinding yang hangus tampak seolah berdenyut. Liana menatap salah satu ruangan kecil—mungkin dulu kamar anak. Di tengah ruangan, boneka lain tergeletak. Sama persis dengan yang di dalam kotak.

Ketika ia menyentuhnya, seketika suara tangis terdengar. Tapi bukan dari ruangan itu. Dari langit-langit. Dari atas.

"Loteng?" tanya Rei.

Liana mengangguk. Mereka mencari tangga tua yang nyaris roboh dan naik dengan hati-hati. Loteng itu kecil, gelap, dan penuh debu. Tapi di pojok, sosok samar tampak duduk, membelakangi mereka.

"Namamu siapa?" tanya Liana dengan lembut.

Sosok itu tak menjawab. Tapi tubuhnya gemetar. Pelan-pelan, suara kecil terdengar.

"Mereka bilang aku menyulutnya. Tapi aku hanya ingin hangat..."

Air mata menggenang di mata Liana.

"Aku sendiri. Mereka kunci pintu. Mereka bilang aku bandel... Aku hanya ingin bonekaku hangat..."

Rei tersentak. "Dia... mencoba menghangatkan bonekanya dengan lilin?"

Sosok itu berbalik perlahan. Wajahnya hancur oleh luka bakar. Tapi sorot matanya—anak perempuan yang merasa ditinggalkan—masih terpancar jelas.

"Aku tidak ingin mati sendirian," bisiknya.

Liana maju satu langkah. "Kau tidak sendiri. Kami di sini."

Sosok itu menatap mereka lama. Lalu, ia menghilang—bukan dengan teriakan atau suara, tapi seperti bayangan yang perlahan memudar. Udara menjadi hangat. Musik kotak berhenti.

Di lantai loteng, hanya boneka hangus yang tersisa.

Keesokan harinya, Rei memasukkan catatan baru ke dalam map bertuliskan Kasus Tak Terpadamkan. Ia menempelkan foto rumah itu, lalu menggambar simbol kecil di pojok bawah. Tanda bahwa jiwa di sana telah tenang.

"Kadang," kata Rei pelan, "bisikan arwah bukan karena ingin menakut-nakuti. Tapi karena mereka ingin didengar, dimengerti. Dan dimaafkan."

Liana mengangguk. "Dan selama kita bersedia mendengar, mereka akan menemukan jalan pulang."

Mereka duduk berdua di beranda kantor mereka. Kota masih ramai. Tapi bagi mereka, suara paling sunyi kadang justru yang paling lantang.

Keesokan harinya, Rei dan Liana mendapat telepon mendadak dari seorang penduduk desa di kaki gunung. Suara di ujung telepon terbata-bata, penuh ketakutan.

"Ada yang aneh di Desa Kabut," kata suara itu. "Setiap malam, bayangan muncul di kabut, lalu hilang begitu saja. Anak-anak mulai takut keluar rumah... bahkan orang dewasa pun merasakan sesuatu yang tidak biasa."

Rei dan Liana bertukar pandang. Mereka sudah sering berurusan dengan fenomena seperti ini, namun desa terpencil dengan kabut tebal selalu punya aura tersendiri. Mereka segera memutuskan berangkat.

Lihat selengkapnya