Setelah berhasil keluar dari Hutan Bayangan dengan benda pusaka keempat di tangan, Rei, Liana, dan Pak Arman beristirahat sejenak di sebuah pondok kecil dekat pinggir desa. Suasana masih mencekam, dan ketiganya sadar bahwa perjalanan mereka belum berakhir.
Rei menatap cincin safir di jarinya, masih merasakan kehangatan energi yang mengalir dari benda pusaka itu. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya.
"Kita harus mencari benda pusaka kelima secepat mungkin," ucap Rei pelan. "Tapi aku merasa, bukan hanya bahaya dari luar yang mengancam kita sekarang."
Liana mengernyit. "Maksudmu?"
Rei menatap jauh ke arah hutan. "Aku merasa bayangan masa lalu mulai mengintai. Seperti ada sesuatu yang dulu aku lupakan, dan sekarang kembali menghantui."
Pak Arman mengangguk serius. "Memang benar, Rei. Kadang, yang paling sulit dihadapi bukan musuh yang terlihat, tapi yang tersembunyi dalam ingatan dan hati kita sendiri."
Malam itu, Rei terjaga. Bayangan-bayangan samar masa lalu terus datang dalam mimpinya—wajah seorang perempuan yang tak dikenalnya, suara yang berbisik namanya dengan lembut tapi penuh kesedihan.
Rei mencoba bangun, namun tubuhnya terasa berat seperti tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Keesokan harinya, saat mereka melanjutkan perjalanan menuju reruntuhan kuno yang diyakini menjadi tempat penyimpanan benda pusaka kelima, Rei merasa semakin lemah dan gelisah.
"Rei, kau baik-baik saja?" tanya Liana dengan cemas.
Rei menggeleng pelan. "Aku merasa ada sesuatu yang ingin aku ingat. Sesuatu yang aku lupakan dengan sengaja."
Pak Arman memperhatikan Rei dengan tatapan tajam. "Kadang, ingatan yang terlupakan itu adalah kunci untuk menyelesaikan misteri yang kita hadapi."
Ketika mereka tiba di reruntuhan kuno, suasana berubah menjadi sunyi dan penuh misteri. Tembok-tembok batu yang sudah lapuk menyimpan rahasia yang sudah lama tersembunyi.
Rei melangkah perlahan, menelusuri lorong-lorong gelap yang dipenuhi ukiran-ukiran yang aneh dan simbol-simbol kuno.
Tiba-tiba, dia merasa pusing dan terjatuh ke tanah. Pandangannya mulai gelap, dan dia tenggelam ke dalam bayangan masa lalunya sendiri.
Dalam keadaan setengah sadar, Rei melihat kembali potongan-potongan ingatan yang tersembunyi—dia melihat dirinya berdiri di sebuah taman yang cerah, memegang tangan seorang perempuan dengan senyum tulus.
Perempuan itu berkata, "Jangan takut, Rei. Ingatlah siapa dirimu sebenarnya, dan apa yang harus kau lakukan."
Rei tersentak dan membuka matanya. Dia tahu perempuan itu adalah kunci dari semua yang selama ini dia cari.
"Liana! Pak Arman!" panggilnya dengan suara lemah.
Mereka segera menghampiri Rei yang masih terdiam.
"Aku harus menemukan perempuan itu," kata Rei dengan tekad yang baru. "Dia adalah bagian dari masa lalu dan jawabanku."
Liana menggenggam tangan Rei. "Kita akan membantumu, Rei. Kita bersama-sama."
Pak Arman mengangguk setuju. "Jangan biarkan bayangan masa lalu menghancurkanmu. Gunakanlah kekuatanmu untuk menghadapi semuanya."
Dengan semangat yang baru, mereka melanjutkan perjalanan, siap menghadapi apapun yang akan datang.
Setelah kejadian di reruntuhan kuno itu, Rei merasa beban dalam dadanya sedikit berkurang. Namun, ada satu hal yang terus membekas di pikirannya: sosok perempuan dalam ingatan samar itu. Siapa dia? Dan mengapa perempuan itu begitu penting dalam kehidupannya?
Pagi itu, saat kabut tipis masih menyelimuti desa kecil tempat mereka bermalam, Rei duduk di depan api unggun bersama Liana dan Pak Arman. Sambil menatap kobaran api yang menari-nari, Rei mencoba mencerna apa yang baru saja dialaminya.
"Liana, apa kamu pernah melihat sosok perempuan yang mirip dengan yang aku lihat dalam mimpiku?" tanya Rei pelan.
Liana menggeleng. "Tidak, Rei. Tapi aku rasa ini bukan kebetulan. Ingatan itu muncul karena kau harus mengingat sesuatu yang sangat penting."
Pak Arman mengangguk serius. "Ada kemungkinan perempuan itu pernah menjadi bagian dari kisah leluhur kita. Dalam legenda, ada cerita tentang seorang wanita yang mampu menenangkan arwah yang gentayangan. Mungkin dia berkaitan dengan benda pusaka yang kita cari."
Rei menatap keduanya, mencoba menangkap makna dari perkataan Pak Arman. Ia merasa perjalanan mereka sudah sampai pada titik yang lebih dalam dari sekadar mengumpulkan benda pusaka. Ada rahasia besar yang harus dipecahkan.
Setelah berkemas, mereka melanjutkan perjalanan menuju desa tetangga yang dikenal sebagai tempat tinggal para tetua dengan pengetahuan mistis. Desa itu terletak di balik lembah yang diselimuti kabut, dan jalannya berliku serta menantang.
Selama perjalanan, Rei terus mengulang-ingat sosok perempuan dalam ingatan itu. Wajahnya begitu tenang, penuh kasih sayang, tapi ada kesedihan yang dalam terpancar dari matanya. Seolah ia menyimpan beban berat yang tak pernah terucapkan.
Liana mencoba menghibur Rei. "Mungkin, saatnya kau menghadapi bayangan itu secara langsung. Kita bisa mencari tahu lebih banyak di desa tetua."
Sesampainya di desa, mereka disambut oleh kepala suku bernama Ki Jaya, seorang pria tua berwibawa dengan tatapan tajam dan penuh kebijaksanaan.
"Kami mendengar tentang pencarian kalian," ujar Ki Jaya setelah mendengar cerita mereka. "Benda pusaka itu memang bukan benda biasa. Mereka berhubungan dengan keseimbangan antara dunia manusia dan arwah."