Pagi itu disambut kabut tipis dan cahaya matahari yang malu-malu menembus celah pepohonan. Rei terbangun lebih awal dari biasanya. Mimpi semalam masih membekas—bayangan seorang wanita tua yang duduk di depan altar batu sambil menulis sesuatu dengan darah. Ia tak tahu arti mimpi itu, tapi hatinya merasa mimpi itu bukan sekadar bunga tidur.
Wanita berjubah putih, yang kini memperkenalkan dirinya sebagai Arahma, sudah berdiri menanti mereka di tepi hutan.
"Kita harus berangkat sekarang sebelum penjaga lain terbangun," katanya. "Tempat yang akan kita tuju hanya bisa diakses saat matahari belum mencapai puncaknya."
Rei, Liana, dan Ki Jaya mengemasi barang seadanya. Perjalanan itu terasa berbeda—sunyi, tetapi dipenuhi desiran energi magis di udara. Arahma membawa mereka ke sebuah celah sempit di balik semak berduri. Dari luar, tempat itu tampak seperti tebing curam biasa, tapi ketika mereka melangkah melewatinya, dunia lain menyambut mereka.
Hamparan padang berwarna perak terbentang di depan mata. Angin berembus membawa suara-suara bisikan, seperti doa-doa kuno yang belum selesai diucapkan.
"Ini bukan tempat biasa," gumam Liana.
"Benar," jawab Arahma. "Tempat ini disebut Arsaka, ruang antara dunia manusia dan dunia kenangan. Hanya mereka yang memiliki jiwa penjaga sejati yang dapat masuk."
Rei merasa bulu kuduknya meremang. Setiap langkah di tanah ini seakan menggugah masa lalu yang tak dikenal. Di kejauhan, sebuah bangunan seperti kuil setengah runtuh berdiri angkuh. Pilar-pilarnya terukir huruf-huruf tua yang tak bisa dibaca.
Arahma berhenti di depan pintu batu besar. Ia meletakkan telapak tangannya ke ukiran tengah, dan dalam sekejap, batu itu bergeser membuka, menampakkan lorong sempit yang dipenuhi cahaya biru berpendar.
"Masuklah," katanya. "Tapi hati-hati. Tempat ini menyimpan pengetahuan sekaligus kutukan. Apa pun yang kalian baca di dalam sana akan melekat selamanya dalam ingatan kalian."
Mereka melangkah masuk. Dinding lorong itu dihiasi lukisan-lukisan aneh: gambaran langit yang terbelah, seorang perempuan membawa pedang api, seorang pria berdiri di atas reruntuhan istana. Semuanya terasa begitu nyata, seolah dinding itu bukan sekadar lukisan, melainkan kenangan yang dibekukan waktu.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan bundar besar. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja batu dengan tumpukan naskah kuno, dan di sekelilingnya berjajar rak berisi gulungan, buku bersampul kulit, dan artefak aneh.
Arahma menunjuk sebuah kitab berwarna kelam. "Itu yang kau cari, Rei. Kitab Darah."
Rei menelan ludah. Ia mendekati kitab itu perlahan. Saat tangannya menyentuh kulit sampulnya, sebuah suara bergema di ruangan:
"Pewarisku, darahmu adalah kunci. Buka dan lihat siapa dirimu sebenarnya."
Kalimat itu muncul dari dalam pikirannya sendiri. Rei membuka halaman pertama, dan di sana, dengan tulisan merah, tertulis:
"Anak dari Penjaga dan Pewaris Gerbang Akhir. Kau akan memutus atau menyambung takdir dunia."
"Apa artinya ini?" tanya Rei, suaranya gemetar.
Arahma menjawab dengan hati-hati. "Ibumu bukan hanya penjaga. Dia juga keturunan langsung dari Pewaris Gerbang Akhir, makhluk kuno yang menjaga keseimbangan dunia. Dan kau, Rei... adalah percampuran dua kekuatan yang seharusnya tidak pernah bersatu."
Liana menatap Rei dengan kaget, "Itu berarti... kau bisa membuka atau menghancurkan batas antar dunia?"
Rei menatap kitab itu lama. Tubuhnya dingin, tapi hatinya panas. Di satu sisi, ia ingin menolak semuanya. Tapi di sisi lain, ini adalah satu-satunya jalan untuk mengungkap kebenaran dan melindungi dunia yang ia kenal.
"Kalau begitu," katanya perlahan, "aku akan mencari semua lembaran yang hilang. Aku akan menemukan siapa diriku—dan kenapa aku dipilih."
Namun sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, tiba-tiba tanah bergetar. Salah satu rak di ujung ruangan roboh, dan dari celah lantai, asap hitam muncul perlahan. Mata Rei membelalak.
"Seseorang mencoba masuk," kata Arahma cepat. "Kitab itu memberi sinyal saat dibuka. Musuhmu tahu kau telah mulai membongkar rahasia."
Ki Jaya mencabut senjatanya. "Kita tidak punya banyak waktu."
Rei mengepalkan tangannya. Dengan napas berat, ia menatap ke langit-langit ruangan.
"Ayo kita hadapi. Kalau ini takdirku, aku akan jalani sampai akhir."
Asap hitam merayap keluar dari celah lantai seperti ular lapar yang mencium mangsanya. Rei mundur selangkah, menggenggam erat Kitab Darah yang baru saja ia buka. Di sekeliling mereka, rak-rak buku bergetar, beberapa bahkan roboh begitu saja seolah tak kuat menahan tekanan kekuatan gelap yang menyembur dari bawah.
"Cepat! Lingkari meja batu itu!" seru Arahma.
Mereka bertiga, Rei, Liana, dan Ki Jaya, mengikuti instruksinya. Arahma mengangkat kedua tangannya, membentuk simbol segitiga di udara dengan jari-jarinya, dan seberkas cahaya keemasan muncul, membentuk perisai tipis di sekitar mereka.
"Ini hanya akan bertahan sebentar," bisik Arahma. "Apa pun yang muncul dari celah itu... bukan lagi sepenuhnya manusia."
Suara retakan terdengar semakin keras. Dari celah lantai yang menganga, sesosok makhluk mulai merangkak keluar. Tubuhnya membungkuk, kulitnya keabu-abuan dengan urat hitam menonjol di permukaannya. Wajahnya tampak seperti manusia, tapi matanya kosong, tanpa iris. Di dadanya terukir simbol mirip tanda kutukan yang berkedip-kedip merah menyala.
"Dia... dulu manusia," gumam Ki Jaya dengan getir.
Arahma mengangguk. "Dulu, ya. Sekarang dia adalah Bayangan Tak Bernama. Orang-orang yang gagal melindungi Kitab Darah dan dijadikan wadah oleh kekuatan kegelapan."
Liana menelan ludah. "Berapa banyak dari mereka yang ada?"
Belum sempat dijawab, dua makhluk lain merangkak keluar dari celah berbeda, masing-masing menyeret rantai besi yang melilit pergelangan tangan mereka. Mereka menggeram pelan, tapi tatapan mereka langsung tertuju pada Rei.
"Dia pewarisnya..." gumam salah satu makhluk, suaranya parau dan retak.
"Pecahkan segelnya," desis yang lain, "bawa jiwanya pulang."
Rei menggenggam kitab di dadanya. Jantungnya berdebar. Entah dari mana, tubuhnya mulai panas. Di balik rasa takut, ada dorongan aneh untuk melawan. Seolah ada sesuatu dalam darahnya yang terbangun.
"Arahma, kalau aku pemilik kekuatan ini... apakah aku bisa menghentikan mereka?"
Arahma memandangi Rei dalam-dalam. "Kau bisa, tapi hanya jika kau menerima dirimu sepenuhnya. Tidak dengan marah. Tidak dengan takut. Tapi dengan utuh."
Rei menarik napas dalam. Ia membuka halaman pertama Kitab Darah dan menyentuh tulisan merah yang mulai bercahaya. Dalam sekejap, simbol yang sama seperti di dada makhluk-makhluk itu menyala di telapak tangannya.
Makhluk pertama meraung keras, mundur beberapa langkah. "Cahaya itu...!"
Ki Jaya mengambil kesempatan untuk menyerang. Dengan gerakan cepat, ia menebas rantai salah satu makhluk, tapi pedangnya terpental.
"Tubuh mereka tak bisa dilukai dengan senjata biasa!" serunya.
"Kalau begitu biar aku coba!" Rei melangkah ke depan, tangannya terangkat. Dari telapak tangannya, cahaya merah menyala dan membentuk semacam lingkaran api yang berputar.
Ia tak tahu bagaimana ia melakukannya—tapi instingnya membimbingnya. Cahaya itu menyambar ke arah makhluk yang paling dekat. Makhluk itu menjerit sebelum tubuhnya mencair menjadi debu hitam.
Dua lainnya menggeram, tapi kini mereka lebih hati-hati. Namun sebelum Rei sempat menyerang lagi, Arahma memotong.
"Kita tak bisa tinggal di sini! Kekuatanmu belum stabil. Gunakan jalan rahasia di balik rak barat!"
Liana sudah lebih dulu menuju ke arah rak yang dimaksud. Ia mendorong sebuah buku tua dan mekanisme rahasia terbuka, menyingkap lorong gelap yang menurun ke bawah.
Rei menoleh ke belakang satu kali lagi sebelum menyusul. Ia tak ingin lari—tapi belum waktunya bertarung.
Begitu mereka semua masuk dan menutup pintu rahasia, suara raungan menggema di balik dinding. Rei duduk terengah, keringat membasahi dahinya.
"Kau hampir kehilangan kendali," kata Arahma, suara lembut tapi tegas.
Rei menatap tangannya yang kini bersih dari simbol. "Aku... merasa seperti diriku dan bukan diriku. Kekuatan ini... terlalu besar."
Arahma mengangguk. "Karena itu kau butuh pelatihan. Kitab Darah bukan hanya sumber kekuatan. Itu adalah cermin. Ia akan memantulkan siapa dirimu sebenarnya—baik dan buruk."