HESTER

Djan Elara
Chapter #1

Bab 1

Suasana kota terasa damai dan hangat, dipenuhi gelak tawa serta kebahagiaan warganya. Festival tahunan kali ini pun tak kalah meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penjual es krim berbincang riang dengan anak-anak yang mengerumuni gerobaknya, tukang kayu memamerkan ukiran-ukiran indahnya yang sarat makna, sementara di sudut lain pemusik jalanan memainkan irama lembut yang mengalun di udara.

“Perhatikan baik-baik ... dan saksikan dengan saksama!” Seorang pesulap mengibaskan jubah hitamnya ke belakang dengan dramatis. 

Gerakan tangannya cepat dan lincah. Tiba-tiba, seekor merpati putih melayang bebas dari telapak tangannya. Sorak kagum penonton pun meledak, disusul tepuk tangan riuh.

“Kamu yang di sana! Kemarilah sebentar.” Pesulap itu menunjuk tepat ke arah seorang gadis di tengah kerumunan.

“Eh ... aku?” Gadis itu menunjuk dirinya sendiri, suaranya ragu.

“Siapa lagi? Cepat kemari.”

Dengan langkah gugup, gadis itu mendekat. Wajahnya memerah karena perhatian puluhan pasang mata.

“Siapa namamu, Nona?” tanya pesulap sambil tersenyum lebar.

“Aine Bowie.”

Pesulap mengangguk puas. Ia mengeluarkan sebuah apel merah mengilap dari balik jubahnya—entah bagaimana ia menyimpannya di sana. Dengan hati-hati, ia menyeimbangkan apel itu di atas kepala Aine. 

Pesulap berjalan mundur tiga langkah, mata tajam terkunci pada apel di atas kepala Aine. Pisau di tangannya berkilau sebentar tertangkap cahaya lentera festival.

“Jangan berkedip,” katanya pelan, hampir seperti bisik.

Jantung Aine berdegup kencang hingga terasa di telinga. Angin sore meniup pelan rambutnya, membuat apel di kepalanya itu sedikit bergoyang. Ia ingin lari, tapi kakinya seperti tertancap di tanah. Kerumunan diam, hanya desah napas tertahan dan suara kain jubah pesulap yang bergesek pelan.

Pisau terangkat.

Sekali ayun tangan.

Udara terbelah.

SRET!

Apel terbelah rapi, pisau melesat tepat melewati inti buah. Potongan apel jatuh ke tanah berdebu, diikuti tetesan airnya yang merembes lambat. 

Aine membuka mata perlahan. Napasnya tersengal. Ia menyentuh kepalanya—tak ada luka, tak ada darah. Hanya rambut yang sedikit acak karena angin. Sorak penonton meledak, tapi bagi Aine suaranya seperti datang dari kejauhan, tenggelam dalam deru darah di telinganya sendiri.

Pesulap mendekat, tersenyum lebar. “Kau hebat. Tak bergeming sedikit pun.”


Aine hanya bisa mengangguk lemah, lututnya terasa lunak. Di dalam dada, campuran lega dan marah bergolak: Aku hampir mati karena trik ini, tak bergeming katanya? Dasar pesulap bodoh! 

"Terima kasih telah menyaksikan pertunjukanku hari ini! Sampai jumpa di kesempatan lain.” Pesulap menutup acaranya dengan senyum lebar.

Saat penonton mulai berpencar menuju stan-stan lain, pesulap mendekati Aine sambil menggenggam selembar uang.

“Ini untukmu. Terima kasih sudah menjadi sukarelawan dalam trik hebatku tadi,” katanya tulus.

Lihat selengkapnya