Gerimis membasahi setiap atap rumah. Sosok misterius itu terlihat tidak bergeming sedikit pun, jubah hitamnya berbaur dengan gelap malam, melambai ditiup angin. Cahaya petir memperlihatkan bercak hitam di pipi kirinya, membentuk pola bulan sabit.
Aine bergelut dengan pikirannya sendiri, bisa jadi sosok itu adalah perampok yang sedang berkeliaran di malam hari. Aine menutup kembali jendelanya, berusaha untuk pura-pura tidak tahu.
"Kau melihatku tadi?"
Kaki Aine sedikit terangkat dari lantai, membalikkan tubuhnya dengan cepat. Matanya mebelalak lebar saat tepat di hadapannya sosok itu berdiri tinggi. Beberapa saat yang lalu sosok itu berdiri di atap gudang, dan sekarang ia berada di dalam kamar Aine, berdiri tepat di hadapannya.
"Bagaimana kau bisa masuk? Siapa kau ... kau ingin merampok?!" Aine mengambil lampu kamar dan menodongkannya ke arah sosok itu.
Sosok tinggi itu sedikit tertawa, mengangkat kedua tangannya. "Oh jangan seperti itu, aku ke sini datang baik-baik. Kamu tidak pernah diajarkan santun kepada tamu?"
"Tamu yang sekonyong-konyong masuk ke dalam rumah? Santun apa yang kau pikirkan dasar perampok!" Lampu tidur yang ditodong Aine semakin dekat ke wajah sosok itu.
Sosok itu menurunkan kupluk jubahnya, terlihat wajah seorang pria. "Maaf, aku terlambat mengenalkan diri. Namaku Stardust. Dan kau pasti Aine Bowie."
"Kau tahu namaku? Kukira kau hanyalah perampok biasa, ternyata kau anggota elit global atau kelompok kriminal gelap, hah? " Aine memicingkan matanya, masih menodongkan lampu tidur itu.
"Elit global? Kriminal gelap?" Stardust tertawa. "Oh kumohon sugar, kamu berlebihan."
Stardust mendorong lampu tidur itu ke bawah menggunakan jarinya. Melangkah mendekati Aine yang terpojok. Stardust mencondongkan tubuh lebih dekat. Jarinya membelai pipi Aine yang lembut hingga ke rahangnya. Membuat sensasi merinding.
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Besok pagi pastikan kamu mengecek kotak surat di depan rumahmu itu."
Sekejap mata, Stardust lenyap dari kamar Aine. Meninggalkannya sendirian di sunyi malam yang canggung. Bertahun-tahun Aine berusaha untuk tidak mempercayainya, tetapi sekarang untuk pertama kali dalam seumur hidup, ia mulai mempercayai sihir dan takhayul.
***
Pukul 10.00 pagi di taman Akademi St. Poetentia, Aine terduduk di atas rerumputan halus yang sangat terawat, punggungnya bersandar di pokok kayu. Ia memandangi secarik kertas di tangannya, kertas inilah yang dimaksud oleh Stardust kemarin malam. Aine membuka kertas yang terlipat itu, lalu membaca isinya.
"Di atas tanah yang gersang,
berdiri mawar putih yang tunggal.