"Enak sekali! Kamu selalu bisa menemukan makanan paling enak." Nilam memekik, mulutnya belepotan oleh remahan roti.
Aine bertolak pinggang, mengangkat dagunya dengan bangga. "Oh, jelas. Roti daging milik Paman Eoghan tidak ada tanding."
"Paman, aku pesan dua bungkus lagi, ya?" Fiadh menjulurkan beberapa lembar uang dari sakunya.
Eoghan tersenyum lebar, walau tidak seberapa, ia tetap senang ada yang membeli dagangannya. Setidaknya gadis-gadis muda ini tulus dan jujur, rasa haru sedikit menggelitik hati Eoghan, matanya bergetar menahan air mata.
Susai beberapa basa-basi penutup, mereka berpamitan kepada Eoghan sebelum kembali pulang, berjalan bersampingan seperti sahabat yang serasi.
"Aine, kau ke mana saja kemarin malam? Ibumu sampai menghubungiku." tanya Nilam penasaran.
Fiadh menyeringai dengan wajah malasnya. "Aku juga dihubungi Ibumu. Ada apa ini? masa pemberontakan? Sudah punya lelaki idaman?"
Aine melotot, menyenggol lengan temannya itu. Mulutmu! Aku tidak ke mana-mana, hanya cari angin."
"Cari angin di tengah malam? Aku rasa itu bukan pilihan yang bijak." Nilam tertawa gugup.
"Seorang gadis, keluar rumah tengah malam, tapi anehnya tetap merasa aman. Rahasia nakal apa yang kau simpan, heh?" Seringai Fiadh semakin terlihat menyebalkan.
"Berisik! Aku bilang aku hanya cari angin. Tidak ada apa-apa!"
Fiadh dan Nilam tertawa, disusul oleh tawa Aine. Mereka telah menjadi sahabat sejak masa pelatihan, sampai masuk ke akademi, hubungan mereka tidak pernah retak. Namun, dibalik canda dan tawa yang terlihat bahagia itu, Aine tetap menyimpan rahasia dari kedua sahabatnya sendiri. Bahwa ia adalah pengidap hester. Aine takut hubungan mereka akan rusak, ia takut sendiri, tanpa sahabat di hidupnya.
Mereka kembali ke rumah masing-masing sore itu, kecuali Aine. Ia menuju Serpent Pass, melewati puluhan deret rumah. Di depan salah satu rumah, terlihat Mira sudah menunggu. Mira melambai-lambaikan tangannya dengan antusias saat melihat Aine dari kejauhan. Walau mereka terlihat aneh, tapi Aine yakin mereka bukan orang jahat.
"Apa aku telat?" tanya Aine gugup.
Mira merangkul dan memeluk Aine dengan kuat. "Tentu tidak! Justru kau datang lebih awal. Ayo ikut aku sekarang."
Berbalik badan, Mira membuka pintu rumah dan melangkah masuk. Aine mengangkat satu alisnya, apa ini rumah Mira? Mengesampingkan pertanyaan itu, Aine membuntuti dari belakang dan ikut masuk ke dalam. Mereka sampai di depan kusen tak berpintu, isinya ruang kosong—yang sekiranya cukup untuk sepuluh orang. Mira melintasi kusen itu.
"Tunggu apa lagi? Ayo masuk."
Aine yang terlihat ragu dan melamun seketika tersadar, mengikuti Mira masuk ke dalam ruangan kosong. Terlihat tombol berwarna biru yang tertempel di dinding ruangan, yang setelah ditekan oleh Mira, sebuah dinding energi berwarna biru pudar menutupi kusen tak berpintu itu. Ruangan terasa bergetar dan seperti mengambang di udara. Melihat Aine yang panik, Mira meremas tangan Aine dan tersenyum.
Setelah beberapa detik, ruangan itu seperti bergerak ke bawah dengan kecepatan tinggi, daya tariknya yang kuat membuat kaki Aine sedikit bergetar, sedangkan Mira terlihat santai tak bergeming. Tak sampai semenit, ruangan itu sudah berhenti bergerak. Lapisan energi yang menutupi jalan keluar menghilang.
Melangkah keluar dari ruangan kosong itu, Aine agak melotot melihat ke sekitarnya. Ini tempat yang sama seperti kemarin. Sekilas Aine mengingat kembali saat ia terjeblos kemarin sore. Tanah ambruk itu memang sengaja dibuat untuk menjahilinya. Dahi Aine mengkerut, ia tidak akan lupa itu.
Seakan paham dengan isi pikiran Aine, Mira menutupi mulutnya sambil terkikih. "Kau bisa melampiaskan rasa kesalmu itu ke Isaac nanti. Nah, sekarang. Sesuai kesepakatan kita kemarin malam, kau sudah siap untuk latihan pertamamu?"
Jantung Aine berdetak lebih kencang, rasa ragu menguasai lidahnya untuk menjawab.
***