HESTER

Djan Elara
Chapter #4

Aula Pelatihan

Gerangan haus darah menggetarkan seluruh aula. Gigi-gigi tajam mencuat tak beraturan di dalam mulut mahkluk besar itu. Kaki Aine terpaku, rasa sakit menderu di dalam tengkorak. Makhluk itu semakin mendekat, mengambil ancang-ancang untuk menerkam.

Dari kejauhan Mira tidak tampak khawatir sama sekali, cenderung terlihat antusias menunggu langkah yang akan diambil Aine. Rasa antusias itu tidak hadir tanpa alasan, jika Rosary saja merahasiakan efek samping milik Aine, bisa jadi Aine akan menampilkan aksi yang memukau.

Aine meyakinkan dirinya sendiri, kedua tangan mengepal keras. Kalimat Rosary terngiang dalam kepalanya. Mereka telah menghabiskan waktu berdua untuk membicarakan tentang kemampuan hester milik Aine dan bagaimana cara menggunakan kemampuan tersebut.

Tidak memberi Aine banyak waktu untuk berpikir, makhluk besar itu melompat ganas untuk menyerang. Mulutnya terbuka lebar, Aine berdiri di antara rahang berlendir yang dipenuhi gigi-gigi tajam. Sebelum rahang itu menutup rapat untuk menghancurkan tubuh Aine, seekor kupu-kupu melintas di depan matanya, waktu terasa melambat. Warna kupu-kupu itu kuning keemasan, meninggalkan jejak gemerlap cahaya di belakangnya.

Sepoi angin membelai lembut wajah Aine, disusul oleh kilauan keemasan dari mata Aine yang membentuk pola abstrak.

Sebelum makhluk besar itu dapat menutup rahang, hembusan angin kencang menghantam keras kepalanya, makhluk itu meringis kesakitan saat tubuhnya terbanting hebat ke samping.

Mira mendelik kaget atas apa yang telah ia lihat, perhatiannya semakin mengerucut kepada Aine dan makhluk buas itu.

Aine menarik napas lalu membuangnya dengan perlahan, kepalanya terasa sakit dan berat. Ia pikir semuanya telah berakhir, sebelum harapan itu pupus saat Aine menyadari mahkluk itu kembali berdiri dengan keempat kakinya. Kali ini sepertinya makhluk itu sangat marah, gerangannya semakin kuat, diikuti liur yang mengalir deras, menciptakan genangan air kental di bawahnya.

Makhluk itu—lebih cepat dari sebelumnya—berlari ke arah Aine dan menyambarkan kuku tajamnya dengan ganas. Aine yang tidak sempat bereaksi menutup matanya erat dan kedua tangannya mencengkram rok dengan kuat.

Beberapa saat kemudian, Aine tidak merasakan sakit sama sekali. Melihat dirinya tidak terluka, Aine tampak heran, lalu ia melihat cairan hijau mencurat keluar dan sedikit mengenai wajahnya. Kaki depan sebelah kanan dari makhluk itu terpotong tanpa sebab, makhluk itu pun merangkak mundur ketakutan.

"Baiklah, cukup sampai situ!" Mira turun ke lapangan aula dengan semringah, matanya terlihat bersinar samar.

"Makhluk itu, apa yang terjadi padanya?" tanya Aine gemetar.

"Kau tak payah bersimpati dengan makhluk itu, dia hampir saja membunuhmu, Aine," jawab Mira ketus. "Lagipula ada yang lebih menarik untuk ditanyakan. Kau dapat mengendalikan angin? Sebaiknya aku mengabarkan ini kepada Isaac."

Isaac, Aine mengingat lelaki dengan rambut berantakan waktu itu. "Apa hubungannya dengan dia?"

"Efek samping miliknya berkaitan dengan angin juga. Sepertinya kau cocok dengan dia."

"Sebenarnya bukan begitu."

"Maksudmu?"

Aine menghembuskan napas. "Kemampuan milikku tidak hanya berkaitan dengan angin, tapi lebih dari itu."

---

"Apa?!" Mira menggebrak meja. "Kemampuan itu terdengar gila, Ros. Kau serius kali ini 'kan?"

Rosary menggaruk-garuk batang hidungnya yang tidak gatal. "Kau ini berisik sekali, Mira. Jika itu yang aku katakan maka itulah yang benar-benar terjadi."

Aine memandangi keduanya dengan gugup, sementara Isaac duduk di hadapannya, masih dengan rambut berantakan. Pandangan Isaac tajam ke arah Aine, seperti harimau yang sedang mengawasi antelop di daratan tandus.

Lihat selengkapnya