Kalian yang memiliki perliharaan, benar mereka menyukai nama itu?
---
Bau busuk limbah rumah tangga, sisa makanan basi dari berbagai rumah makan cepat saji, bangkai dari para mencit pengerat. Aroma khas yang selalu menyelimuti bengkel tambal yang selalu menjadi langganan para supir truk.
"Busuk banget! Bos, kenapa ngambil tempat di sini, dah?" keluh salah satu pegawai toko yang saat itu sedang menunggu oli mobil mengalir deras kedalam wadah yang disiapkan.
"Protes saja, kau. Masih bisa kerja saja sudah untung."
Percakapan yang sama selalu menjadi percakapan ringan antar pemilik bengkel dan karyawan satu-satunya itu. Bune, karyawan yang paling setia karena hanya ia dapat bertahan sejauh ini. Karyawan lain biasanya hanya sanggup bertahan selama sebulan, ada juga yang hanya tiga hari. Entah karena pekerjaan yang terlalu berat atau paru-paru mereka yang memberat.
"Bune, kau kasih makan anjing-anjing itu. Biar aku yang lanjutkan," perintah si bos yang kini mengawasi truk yang oli-nya akan Bune ganti.
"Bos aja, deh. Ganti oli gini kotor loh, bos. Kasian kalau bos kotor-kotoran," tawar Bune dengan lembut. Nego. Demi keselamatan paru-parunya. Ya, walau berakhir gagal karena tetap saja tidak bisa membantah tuan besar.
Bengkel truk yang dikelilingi oleh pembuangan sampah besar itu sebenarnya memiliki sebuah rahasia. Penangkaran anjing ilegal. Tidak akan ada yang mencurigai karena tempat pembuangan sampah ilegal ini cukup membantu. Penangkaran. Kata yang biasa bos pemilik bengkel dan teman-temannya sebut. Namun, lebih pantas disebut belenggu. Penjara bagi para anjing.
"Hoek!" Bune berusaha dengan susah payah menahan napas dan juga rasa mual yang mencekiknya. Tangan kiri menutup mulut dan juga hidung, sedangkan tangan kanannya memegang baskom besar berisikan tumpukan daging berwarna gelap yang sudah berlendir.
Para anjing di tempatkan di bagian belakang bengkel. Terhimpit antara barang-barang bekas bengkel yang sudah menumpuk dan juga bukit sampah. Karena itu, tidak ada orang yang menyadari kalau di bagian belakang bengkel ada sebuah kandang berukuran 2x2 m jeruji besi yang diisi oleh berbagai jenis anjing yang saling berdesakan. Dari ras besar sampai ras kecil yang selalu teraniaya oleh para superior.
Dengan susah payah Bune mencoba membuka pintu kandang. Membuat para anjing menjadikan dirinya sebagai tontonan gratis.
"Orang itu datang lagi. Si penakut."
"Lihat, ia berusaha menahan mulutnya.. Dasar lemah, dengan penciuman ku yang sangat tajam ini saja aku masih dapat kabur kapan saja."
"Makan? huh, pasti aku tidak kebagian. Lebih baik aku keluar dari kandang ini."
"Tempat ini semakin sesak. Sudah waktunya aku kabur dari kandang rapuh ini."