Sudah sekitar seminggu Golden Retriever yang baru saja kabur itu terus berjalan menikmati kebebasannya. Menikmati hal tidak dapat ia nikmati.
"Aku sudah keluar dari penjara itu, tapi kenapa masih terasa ada ayang aneh?"
Ia yang terus berjalan menjauh dari tempat pembuangan sampah ilegal dan berhasil menemukan pemukiman warga. Tempat dimana kampung dan komplek saling bersebelahan. Ada beberapa minimarket yang juga saling berhadapan dengan toko grosir dan warung madura. Serta sekolah menengah pertama swasta yang terletak persis di sebelah minimarket.
Semenjak dirinya berada di luar, ia mendapat makanan dari orang-orang yang gemas kepada keramahan mukanya, dari makanan yang terjatuh dan dari pasar yang beberapa kali ia kunjungi. Anehnya, pasar ini hanya buka di hari rabu dan sabtu. Jadi, makanan untuknya juga hanya pada waktu itu saja.
14.30
Akhir untuk belenggu bagi para siswa dan siswi yang sibuk mengikat masa depan. Saat jam-jam ini, biasanya anjing itu sudah bersiap di halaman parkir minimarket, menunggu beberapa murid yang membeli jajan lalu berbagi makan dengannya.
Waktu menunjukan jam yang tepat, matahari juga pada posisi yang sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi tidak ada satupun anak murid yang keluar. Si anjing kuning keemasan yang tadinya duduk dengan tegap mulai merebahkan badan, menopang dagu dengan kedua kaki depan yang saling tumpang tindih.
Ditengah renungan yang sedang anjing itu lakukan, sebuah motor matic berwarna merah-hitam datang. Dikendarai oleh seorang wanita berambut panjang yang sedang membonceng wanita bermata seperti kucing. Parkir di sebelahnya.
"Wih, anjing kabupaten!" teriak wanita yang menjadi si pengendara sambil menunjuk anjing Golden Retriever itu.
Wanita yang ia bonceng sudah turun dari motor, pandangannya fokus pada gawai dengan wajah yang kapan saja dapat mengeluarkan laser, "Cepet, udah. Ini Pak Riya majuin kelasnya jadi setengah jam lagi."
"Lagi??" protes si pengemudi. Keduanya pun dengan tergesa segera masuk ke dalam mini market.
"Manusia tadi memakai baju bebas, tapi kenapa mereka juga terlihat tidak bebas?"
Ekor anjing itu bergoyang dengan lemas. Ke kanan dan ke kiri terserat di atas lahan parkir minimarket. Masih tidak ada anak berseragam yang lewat. Harusnya ia menyadarinya, ada yang aneh ketika ia melihat tempat biasa para anak-anak itu keluar di tutup oleh jeruji besi.
"Pasti mereka sedang terpenjara sekarang," merasa sedih karena tidak bisa bermain dengan teman-teman barunya-
"Padahal makanan dari benda kotak yang selalu mereka berikan terasa enak."
Tak lama kedua wanita itu kembali dengan kantung plastik besar yang terisi penuh. Ah, si wanita bermata kucing juga membawa sebuah plastik ukuran sedang.
"Kenapa dihari minggu gini masih harus ada kelas?? kenapa??" Si pengendara masih saja melontarkan protes, membuatnya tanpa sadar mendapatkan tatapan tajam dari anjing yang dengan santai rebahan di samping motornya. Wanita itu menaikkan standar dan mulai menyalakan motor.
"Yaudah lah, mau gimana lagi," Wanita bermata kucing yang tadinya ingin naik, mengurungkan niat.
"Heh, nagapain? cepet, hayuuu!" lagi-lagi protesan terlontar.
"Sebentar," wanita bermata kucing berdiri di hadapan anjing yang sedang asik rebahan. Membuat anjing itu sontak bangun, posturnya seperti bersiap untuk menerjang dan menggeram kencang.
"E-eh, Ki. Bahaya, udah biarin aja."