Hey, Cawu!

Godok
Chapter #3

Saos Bangkok? Guk.

Rabu

8.00

Pagi hari yang cukup cerah bahkan terlalu cerah karena tidak adanya satupun awan yang terlihat. Di tengah cuaca yang terik itu, di saat orang-orang sedang menyibukan diri dengan aktifitas dalam ruangan atau berteduh di tempat yang sejuk, seorang pria dengan stelan jas berwarna hitam dipadukan dengan dasi navy sejak setengah jam yang lalu terus saja mengelilingi sebuah taman yang terletak di pertigaan jalan seorang diri.

"Panassss," keluh salah satu pedagang cilung yang memang biasa mangkal di sekitaran tempat itu.

"Es, nih, depan mata!" tawar pedagang es podeng yang juga sedang mangkal di sebelahnya.

"Gratis?" tanya si mamang ciluk dengan tatapan atusiasnya, yang di hadiahi cambukan ringan dari handuk kecil yang selalu tersampir di leher mamang es podeng.

"Eh, tau nggak kenapa tempat ini disebutnya alun-alun Kramat?" tanya mamang cilung tiba-tiba.

Ditengah kesibukan menyiapkan es podeng untuk dirinya dan kawan cilung, mamang es podeng hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya, "Karena ini di Kramat?"

"Salah! Karena ada penunggunya, tuhh," dengan nada yang dibuat seolah ketakutan, mamang cilung menunjuk pria berbaju jas yang masih saja berkeliling mengitari taman di tengah alun-alun yang tidak seberapa besar itu.

"Hus! Ngaco. Masih hidup itu?" mamang es podeng memberikan es gratisnya yang diteruma dengan girang oleh mamang cilung.

"Wihhh, sedep ini mah. Sukses terus, dah," Mamang cilung segera menyendokan suapan besar es podeng yang membuat sensasi seperti tersetrum pada otaknya. "Tapi kalau itu emang demit gimana?"

Mamang es podeng menghela napas. Ia pernah dengan kalau serangan panas dapat membuat orang menjadi bodoh, tapi ia tidak tau kalau ternyata dampaknya seberbahaya ini.

"Lihat, dia pakai dasi. Mana ada setan dasian."

"Emang nggak?"

Mamang es podeng mengangguk dengan yakin, "Nggak. Dasinya pasti diambil sama keluarganya buat dijual."

"Emang untung gede?" sorot penuh tanya mamang cilung kepada mamang es podeng yang sedang sibuk berusaha mengunyah es yang tidak bisa dikunyah.

"Banget!" jempol kanan tercung dengan yakin di hadapan wajah mamang cilung. "Apa lagi kalau udah masuk ke kotak gesper."

Mamang cilung mengangguk, "Ohhh, gitu, ya. Buka toko jual dasi aja apa, ya? dari pada cilung sehari cuma 500 rebu."

"Uhuk!" suapan mamang es podeng terhenti. Tangan kanannya perlahan terulur, mencengkeram bahu mamang cilung. Kepala menggelang dengan kaku, "Jangan. Lanjut cilung aja. Percaya sama saya," anggukan tegas dari sorot mata yang sangat penuh dengan kobaran api keyakinan itu membuat mamang cilung menelan ludah dengan susah payah.

Perlahan, mamang cilung menangguk, "Oke," jawabnya dengan sangat serius.

"Itu mamang dua kenapa, deh?" heran si pria yang jadi bahan gosip kedua pedangang itu.

Kakinya masih saja terus bergerak, terus berjalan mengitari taman tanpa henti. Pandangannya fokus pada kedua pedangang yang dari tadi terlihtan mencuriakan. Takut-takut ternyata mereka sedang melakukan penyelundupan action figure betty lavea, siapa tau ia bisa menjadi pelapor dan mendapat hadiah. Walau tidak mungkin ada hal seperti itu. Yanga ada ia malah akan dirundungi kalimat.

"Kalau membantu orang itu harus ikhlas."

Pria itu menghela napasnya, memeriksa jam analog di tangan kanan yang membuat dirinya semakin terasa terbakar. 

Duka, pria 24 tahun yang sedari tadi terus saja berkeliling taman tanpa henti itu sebenarnya sedang berniat untuk mendinginkan kepala. Bukan karena cuaca yang terik, tapi hal yang lebih sensitif untuk pria seusianya. Setengah jam yang lalu ia baru saja mendapat E-mail kalau wawancara pekerjaan yang dirinya harus hadiri tepat pukul 8 hari ini di undur menjadi jam 10. Sayangnya, Duka baru melihat pemberitahuan itu ketika dirinya sudah bersiap di halte alun-alun dengan pakaian rapih.

"Aku datang kesini nebeng bapak. Kalau pulang dulu naik ojek online terus balik lagi naik online lagi... boros banget." 

Dengan berlandaskan pemikiran itu, Duka akhirnya memilih untuk menghabiskan waktu di halte. Karena kalu di warung atau warteg terdekat, sama saja mengikis dompetnya yang sudah hampir lenyap itu.

"GUK!"

Pergerakan kaki Duka terhenti. Dirinya terkejut mendengar suara anjing yang begitu lantang menyebar di seluruh alun-alun. Mengikuti arah suara, Duka menoleh kebelakang. Ia menemukan seekor anjing dengan warna bulu keemasan sedang duduk di atas bangku, duduk di atas bangku tempat ia menaruh tas ranselnya, lebih tepatnya anjing itu duduk di atas tas ransel yang Duka letakan di atas bangku.

"Eh?" Duka dengan panik berlari ke arah si anjing dan tasnya.

"Awas-awas," tangan Duka mengibas guna mengusir anjing tersebut. Saat anjing itu berdiri, dengan cepat Duka menarik tas ranselnya. 

Tas itu dengan teliti duka periksa setiap inchinya, lalu ia tepuk-tepuk dengan kencang guna menyingkirkan bulu yang menempel.

"Anjing gondrong kayak kamu tuh rawan rontok. Jangan sembarangan nempel ke barang orang."

Anjing golden retriever itu duduk tergak dibangku taman sambil memandangi Duka yang sibuk mengomel. Di rasa tenanganya semakin memudar, Duka memutuskan untuk duduk di tempat yang tadinya ia gunakan untuk menitipkan tas. Duduk bersebelahan tepat di samping si anjing emas.

Anjing berwarna kuning keemasan itu duduk di bangku taman, persisi di samping tas Duka. Pemilik tas sedikit berlari kecil. Ia mengambil tasnya. Duka duduk di sebelah kiri si anjing tempat sebelumnya ia menaruh tas. Sedikit menepuk-nempuk tasnya -jangan sampai ada bulu anjing yang menempel dan merusak wawancaranya hari ini- lalu menaruh tas itu di sisi kirinya. Sekarang Duka diapit seekor anjing Golden Retriever dan sebauh tas coklat tua kesayangannya.

Duka sedikit menggeser duduknya beberapa centi menjauh dari si kaki empat, "Jangan sampai bulu kamu nempel di baju ku," keluh Duka.

Anjing berwarna kuning keemasan itu memandang Duka sebentar, lalu mengalihkan pandang dan memilih untuk merebahkan diri di atas bangku. Dengan kedua kaki depan menyilang yang menjadi tempat dagunya bertumpu.

Lihat selengkapnya